Banyak yang bilang reuni itu
menyenangkan. Berkumpul dengan teman lama, mengenang cerita masa lalu, saat
masih ABG ingusan. Bagi yang punya kisah cinta, yang katanya cinta monyet, bisa
sedikit bernostalgia dan menertawakan kekonyolan masing-masing
Akan ada banyak makanan dan
minuman. Diiringi sound system di hall hotel berbintang sepertinya reuni akan
berjalan lancar dan penuh kebahagiaan. Tapi apakah itu berlaku juga untukku?
Tidak juga. Aku masuk ke dalam wilayah abu-abu. Diadakan terserah, nggak juga nggak
masalah.
“Aku daftarin, ya? Pasti seru.
Kira-kira bagaimana mereka sekarang ya?” Arini, teman sekolahku, menelepon
suatu pagi.
Mau tak mau aku juga jadi
kepikiran. Bagaimana kabar mereka sekarang? Apa pekerjaan mereka? Apakah sudah
menikah atau malah sudah punya anak? Aku sendiri sudah mempunyai dua orang
balita lucu dan menggemaskan. Aina 4 tahun dan Fawaz 2 tahun.
Telepon pagi itu kututup dengan
janji bahwa akah kukabari lagi setelah bertanya dulu pada suamiku. Suamiku
termasuk orang yang ‘pelit’ memberi ijin keluar, apalagi kalau sendirian. Ia
lebih memilih menahan rasa lelah dan bosannya daripada membiarkanku belanja ke
pasar atau supermarket sendirian. Aku sebenarnya senang-senang saja ada yang
menemani. Namun, terkadang aku merasa bersalah dan kasihan, daripada
menungguiku belanja bukankah lebih baik istirahat di rumah?
Jumat malam saat anak-anak sudah
tidur aku memberi tahu tentang reuni tersebut.
“Kapan?” tanya suamiku.
Matanya menatapku. Meski sudah 6
tahun menikah aku masih saja belum terbiasa beradu tatap dengannya. Suamiku
memiliki mata yang menusuk sekaligus menyelidik. Aku curiga ia bisa membaca isi
hati orang lewat matanya.
“Tanggal 5 bulan depan,” jawabku
sambil memandang kearah lain. Ku tahu itu tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi
aku tak kuat melihat matanya lama-lama.
Suamiku tak berkata apa-apa,
beberapa detik hening diantara kami.
“Sudah malam, lebih baik cepat
tidur. Nanti telat tahajud.” Suamiku sudah beranjak ke kamar tidur.
Itu berarti harus sabar menunggu.
Baiklah, lagipula aku juga tidak diburu waktu.
***
Pagi hari adalah saat tersibuk.
Aina yang lincah dan agak cerewet suka bertanya ini-itu. Kadang ketika memasak
aku dipaksa menyanyikan lagu Pelangi-pelangi kesukaannya. Selesai menyiapkan
sarapan, giliran memandikan Aina. Sementara suamiku menemani Fawaz. Setelah
Aina ganti baju seragam PAUD-nya, aku menyuapi Fawaz. Untungnya Aina sudah mau
makan sendiri. sebelumnya ia tak mau makan kalau tak disuapi.
Sebelum berangkat kerja suamiku
bertanya apakah aku benar-benar ingin ikut reuni itu.
“Kadang-kadang aku merasa jenuh
dirumah. Sesekali ingin berkumpul dengan teman lama,” jawabku.
“Lalu anak-anak bagaimana?”
Aku nyengir kuda, “Kan, masih ada
abinya di rumah.”
“Sebentar, kok, Mas. Paling cuma
dua jam,” lanjutku.
Suamiku tampak berpikir sebentar
sebelum akhirnya mengangguk. Aku surprise, tak biasanya ia mengijinkanku
semudah ini. Jangan-jangan ada yang salah dengan suamiku.
“Tapi, Mas, ada biayanya.”
“Berapa?”
“200 ribu.”
Suamiku mengeluarkan 4 lembar
limapuluh ribuan dari dompetnya. Meski ketat soal ijin-perijinan suamiku longgar
dalam masalah uang. Jarang bertanya macam-macam. Untung aku bukan tipe istri
yang suka korupsi, kalau nggak bisa-bisa suamiku bangkrut hehe..
Reuni yang diagendakan sejak tahun
lalu itu akhirnya bisa berjalan lancar. Disana-sini terlihat wajah yang
cantik-cantik dan gagah-gagah. Tidak menyangka si Andika yang dulu culun dan
agak kuper sekarang sudah jadi pengusaha ikan lele. Gilang yang jadi preman
sekolah sudah insaf dan membuka bengkel mobil. Sementara si cantik Heni jadi
pegawai bank dan teman sebangkuku, Kinanti, jadi istri pak camat.
Banyak cerita mengalir. Sepuluh
tahun sejak kelulusan telah mengubah teman-teman lama menjadi pribadi baru.
Meski ada beberapa yang tetap sama, misalnya porsi makan Hendri yang jumbo.
Untunglah hobinya berolahraga menolong tubuhnya agar tidak semakin melar.
Banyak yang sudah menikah dan
punya anak, tapi lebih banyak lagi yang belum. Terutama kaum laki-lakinya.
Entah wanita seperti apa yang mereka cari, padahal umur sudah mendekati kepala
tiga.
Pulang reuni aku diantar Arini dan
suaminya. Kebetulan Rian, suaminya itu, teman satu kelas dulu. Dan kebetulan
lagi Rian satu kantor dengan suamiku. Dunia memang sempit sekali, ya.
Suamiku sedang membacakan cerita
untuk Aina, sedang jagoan keclku, Fawaz, bermain mobil-mobilan. Begitu
melihatku datang mereka berdua langsung menghampiri dan bergelayut manja.
Maklum baru kali ini aku meninggalkan mereka dengan abinya saja.
Mereka berebut cerita tentang apa
saja yang dilakukan selama umminya pergi. Sekotak donat yang kubeli saat pulang
menyelamatkanku dari hujan celotehan. Saat melihat donat yang berwarna-warni
mereka langsung merubungnya dan lupa apa yang ingin ‘diadukannya’ tadi. Ah,
betapa mudah sekali perhatian mereka dialihkan.
“Bagaimana acaranya?” tanya
suamiku.
“Alhamdulillah lancar. Banyak
sekali yang berubah, tak percaya kalau ingat saat sekolah dulu.”
“Pulang tadi aku diantar Arini dan
Rian,” lanjutku.
Suamiku mangut-manggut. “Apa tadi
Gilang juga datang?”
“Mas, kenal Gilang?” Aku terkejut.
Sebelumnya suamiku tak pernah cerita kalau ada teman lain, selain Rian, yang
dikenalnya.
Suamiku mengalihkan pandangannya,
“Ya... tidak juga. Cuma pernah dengar.”
“Sekarang Gilang sudah punya
bengkel mobil. Padahal dia dulu badung banget waktu sekolah. Nggak nyangka bisa
berubah gitu.”
“Namanya juga manusia, selalu
berubah bersama waktu.”
“Ciee... tumben bisa puitis,
gitu,” godaku.
Suamiku tersenyum kikuk.
***
Hari ini Arini datang ke rumah
bersama anaknya Aisha yang berumur 3 tahun. Kami ingin membuat borwnis bersama.
Fawaz yang klop dengan Aisha segera sibuk bermain berdua. Sementara aku
menyiapkan bahan-bahan kue.
“Eh, kamu lihat Dani waktu reuni kemarin?
Sepertinya dia nggak datang.”
“Hayoo, nggak boleh lho, ya. Sudah
jadi istri orang sekarang.” Dani dulu punya hubungan ‘khusus’ dengan Arini.
“Aku cuma ingin tahu kabarnya
saja. Penasaran. Kalau ingat dulu...” Arini mesem-mesem.
Inilah salah satu dampak reuni
yang tidak kusukai. Membangkitkan kenangan lama. Kata orang CLBK, cinta lama belum
kelar. Iya kalau masih sama-sama sendiri, tapi kalau sudah berkeluarga bisa
gawat. Jadi terkenang-kenang, deh, mirip Arini.
“Sudah, cerita masa lalu jangan
diingat-ingat. Nggak baik buat kesehatan,” kataku mulai mengocok telur dan
gula.
Suara bising mixer memutus obrolan
kami. Masih kulihat Arini tersenyum tipis. Gemes, deh. Kalau ketahuan suaminya
bagaimana. Tapi walau tidak ketahuan mengingat-ingat lelaki lain yang bukan
suami namanya sudah zina hati, betul, kan?
Setelah dirasa cukup mixer
kumatikan. Sekarang mencampur margarin cair dan cokelat leleh.
“Kemarin aku diberitahu sebelum
reuni suamimu sempat tanya-tanya ke suamiku, soal kamu.”
Aku tertegun. Suamiku bukan orang
yang gampang menanyakan masalah pribadi pada orang lain.
“Katanya apa di sekolah dulu
pernah punya pacar atau ada laki-laki yang kamu sukai. Tentu saja nggak punya,
jawab suamiku. Masa anak rohis pacaran, apa kata masjid sekolah? Tapi kalau
orang yang pernah suka kamu, sih, ada.”
Pernah ada yang suka? Kok, aku
nggak tahu?
“Itu, lho, si Gilang. Tapi mana
mungkin preman dan rohis bisa bersama. Ada-ada saja si Gilang itu. Seharusnya
kalau suka sama orang lihat-lihat dulu dong,” Arini terkikik geli.
Lalu ingatan tentang suamiku yang
tiba-tiba bertanya tentang Gilang datang.
“Tapi jangan bilang suamimu kalau aku cerita,
ya. Nanti aku yang dimarahi suamiku.”
Perasaan bersalah menyergapku. Tak
bisa kubayangkan bagaimana suamiku menahan perasaannya beberapa hari ini.
Mungkin selama aku makan dan tertawa di hall hotel bersama teman-teman, suamiku
sibuk menenangkan hatinya yang gelisah. Tiba-tiba aku merasa begitu berdosa
padanya.
Nasi sudah jadi bubur, reuni sudah
lewat, dan waktu tak bisa berputar kebelakang.
Hari ini aku akan membuat kue
lapis kesukaan suamiku. Ditemani teh hangat kurasa bisa mengurangi rasa
lelahnya sepulang kerja nanti.