Minggu, 09 Desember 2012

Cerpen5: Reuni

Banyak yang bilang reuni itu menyenangkan. Berkumpul dengan teman lama, mengenang cerita masa lalu, saat masih ABG ingusan. Bagi yang punya kisah cinta, yang katanya cinta monyet, bisa sedikit bernostalgia dan menertawakan kekonyolan masing-masing
Akan ada banyak makanan dan minuman. Diiringi sound system di hall hotel berbintang sepertinya reuni akan berjalan lancar dan penuh kebahagiaan. Tapi apakah itu berlaku juga untukku? Tidak juga. Aku masuk ke dalam wilayah abu-abu. Diadakan terserah, nggak juga nggak masalah.
“Aku daftarin, ya? Pasti seru. Kira-kira bagaimana mereka sekarang ya?” Arini, teman sekolahku, menelepon suatu pagi.
Mau tak mau aku juga jadi kepikiran. Bagaimana kabar mereka sekarang? Apa pekerjaan mereka? Apakah sudah menikah atau malah sudah punya anak? Aku sendiri sudah mempunyai dua orang balita lucu dan menggemaskan. Aina 4 tahun dan Fawaz 2 tahun.
Telepon pagi itu kututup dengan janji bahwa akah kukabari lagi setelah bertanya dulu pada suamiku. Suamiku termasuk orang yang ‘pelit’ memberi ijin keluar, apalagi kalau sendirian. Ia lebih memilih menahan rasa lelah dan bosannya daripada membiarkanku belanja ke pasar atau supermarket sendirian. Aku sebenarnya senang-senang saja ada yang menemani. Namun, terkadang aku merasa bersalah dan kasihan, daripada menungguiku belanja bukankah lebih baik istirahat di rumah?
Jumat malam saat anak-anak sudah tidur aku memberi tahu tentang reuni tersebut.
“Kapan?” tanya suamiku.
Matanya menatapku. Meski sudah 6 tahun menikah aku masih saja belum terbiasa beradu tatap dengannya. Suamiku memiliki mata yang menusuk sekaligus menyelidik. Aku curiga ia bisa membaca isi hati orang lewat matanya.
“Tanggal 5 bulan depan,” jawabku sambil memandang kearah lain. Ku tahu itu tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi aku tak kuat melihat matanya lama-lama.
Suamiku tak berkata apa-apa, beberapa detik hening diantara kami.
“Sudah malam, lebih baik cepat tidur. Nanti telat tahajud.” Suamiku sudah beranjak ke kamar tidur.
Itu berarti harus sabar menunggu. Baiklah, lagipula aku juga tidak diburu waktu.
***
Pagi hari adalah saat tersibuk. Aina yang lincah dan agak cerewet suka bertanya ini-itu. Kadang ketika memasak aku dipaksa menyanyikan lagu Pelangi-pelangi kesukaannya. Selesai menyiapkan sarapan, giliran memandikan Aina. Sementara suamiku menemani Fawaz. Setelah Aina ganti baju seragam PAUD-nya, aku menyuapi Fawaz. Untungnya Aina sudah mau makan sendiri. sebelumnya ia tak mau makan kalau tak disuapi.
Sebelum berangkat kerja suamiku bertanya apakah aku benar-benar ingin ikut reuni itu.
“Kadang-kadang aku merasa jenuh dirumah. Sesekali ingin berkumpul dengan teman lama,” jawabku.
“Lalu anak-anak bagaimana?”
Aku nyengir kuda, “Kan, masih ada abinya di rumah.”
“Sebentar, kok, Mas. Paling cuma dua jam,” lanjutku.
Suamiku tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Aku surprise, tak biasanya ia mengijinkanku semudah ini. Jangan-jangan ada yang salah dengan suamiku.
“Tapi, Mas, ada biayanya.”
“Berapa?”
“200 ribu.”
Suamiku mengeluarkan 4 lembar limapuluh ribuan dari dompetnya. Meski ketat soal ijin-perijinan suamiku longgar dalam masalah uang. Jarang bertanya macam-macam. Untung aku bukan tipe istri yang suka korupsi, kalau nggak bisa-bisa suamiku bangkrut hehe..
Reuni yang diagendakan sejak tahun lalu itu akhirnya bisa berjalan lancar. Disana-sini terlihat wajah yang cantik-cantik dan gagah-gagah. Tidak menyangka si Andika yang dulu culun dan agak kuper sekarang sudah jadi pengusaha ikan lele. Gilang yang jadi preman sekolah sudah insaf dan membuka bengkel mobil. Sementara si cantik Heni jadi pegawai bank dan teman sebangkuku, Kinanti, jadi istri pak camat.
Banyak cerita mengalir. Sepuluh tahun sejak kelulusan telah mengubah teman-teman lama menjadi pribadi baru. Meski ada beberapa yang tetap sama, misalnya porsi makan Hendri yang jumbo. Untunglah hobinya berolahraga menolong tubuhnya agar tidak semakin melar.
Banyak yang sudah menikah dan punya anak, tapi lebih banyak lagi yang belum. Terutama kaum laki-lakinya. Entah wanita seperti apa yang mereka cari, padahal umur sudah mendekati kepala tiga.
Pulang reuni aku diantar Arini dan suaminya. Kebetulan Rian, suaminya itu, teman satu kelas dulu. Dan kebetulan lagi Rian satu kantor dengan suamiku. Dunia memang sempit sekali, ya.
Suamiku sedang membacakan cerita untuk Aina, sedang jagoan keclku, Fawaz, bermain mobil-mobilan. Begitu melihatku datang mereka berdua langsung menghampiri dan bergelayut manja. Maklum baru kali ini aku meninggalkan mereka dengan abinya saja.
Mereka berebut cerita tentang apa saja yang dilakukan selama umminya pergi. Sekotak donat yang kubeli saat pulang menyelamatkanku dari hujan celotehan. Saat melihat donat yang berwarna-warni mereka langsung merubungnya dan lupa apa yang ingin ‘diadukannya’ tadi. Ah, betapa mudah sekali perhatian mereka dialihkan.
“Bagaimana acaranya?” tanya suamiku.
“Alhamdulillah lancar. Banyak sekali yang berubah, tak percaya kalau ingat saat sekolah dulu.”
“Pulang tadi aku diantar Arini dan Rian,” lanjutku.
Suamiku mangut-manggut. “Apa tadi Gilang juga datang?”
“Mas, kenal Gilang?” Aku terkejut. Sebelumnya suamiku tak pernah cerita kalau ada teman lain, selain Rian, yang dikenalnya.
Suamiku mengalihkan pandangannya, “Ya... tidak juga. Cuma pernah dengar.”
“Sekarang Gilang sudah punya bengkel mobil. Padahal dia dulu badung banget waktu sekolah. Nggak nyangka bisa berubah gitu.”
“Namanya juga manusia, selalu berubah bersama waktu.”
“Ciee... tumben bisa puitis, gitu,” godaku.
Suamiku tersenyum kikuk.
***
Hari ini Arini datang ke rumah bersama anaknya Aisha yang berumur 3 tahun. Kami ingin membuat borwnis bersama. Fawaz yang klop dengan Aisha segera sibuk bermain berdua. Sementara aku menyiapkan bahan-bahan kue.
 “Eh, kamu lihat Dani waktu reuni kemarin? Sepertinya dia nggak datang.”
“Hayoo, nggak boleh lho, ya. Sudah jadi istri orang sekarang.” Dani dulu punya hubungan ‘khusus’ dengan Arini.
“Aku cuma ingin tahu kabarnya saja. Penasaran. Kalau ingat dulu...” Arini mesem-mesem.
Inilah salah satu dampak reuni yang tidak kusukai. Membangkitkan kenangan lama. Kata orang CLBK, cinta lama belum kelar. Iya kalau masih sama-sama sendiri, tapi kalau sudah berkeluarga bisa gawat. Jadi terkenang-kenang, deh, mirip Arini.
“Sudah, cerita masa lalu jangan diingat-ingat. Nggak baik buat kesehatan,” kataku mulai mengocok telur dan gula.
Suara bising mixer memutus obrolan kami. Masih kulihat Arini tersenyum tipis. Gemes, deh. Kalau ketahuan suaminya bagaimana. Tapi walau tidak ketahuan mengingat-ingat lelaki lain yang bukan suami namanya sudah zina hati, betul, kan?
Setelah dirasa cukup mixer kumatikan. Sekarang mencampur margarin cair dan cokelat leleh.
“Kemarin aku diberitahu sebelum reuni suamimu sempat tanya-tanya ke suamiku, soal kamu.”
Aku tertegun. Suamiku bukan orang yang gampang menanyakan masalah pribadi pada orang lain.
“Katanya apa di sekolah dulu pernah punya pacar atau ada laki-laki yang kamu sukai. Tentu saja nggak punya, jawab suamiku. Masa anak rohis pacaran, apa kata masjid sekolah? Tapi kalau orang yang  pernah suka kamu, sih, ada.”
Pernah ada yang suka? Kok, aku nggak tahu?
“Itu, lho, si Gilang. Tapi mana mungkin preman dan rohis bisa bersama. Ada-ada saja si Gilang itu. Seharusnya kalau suka sama orang lihat-lihat dulu dong,” Arini terkikik geli.
Lalu ingatan tentang suamiku yang tiba-tiba bertanya tentang Gilang datang.
 “Tapi jangan bilang suamimu kalau aku cerita, ya. Nanti aku yang dimarahi suamiku.”
Perasaan bersalah menyergapku. Tak bisa kubayangkan bagaimana suamiku menahan perasaannya beberapa hari ini. Mungkin selama aku makan dan tertawa di hall hotel bersama teman-teman, suamiku sibuk menenangkan hatinya yang gelisah. Tiba-tiba aku merasa begitu berdosa padanya.
Nasi sudah jadi bubur, reuni sudah lewat, dan waktu tak bisa berputar kebelakang.
Hari ini aku akan membuat kue lapis kesukaan suamiku. Ditemani teh hangat kurasa bisa mengurangi rasa lelahnya sepulang kerja nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar