Minggu, 09 Desember 2012

Cerpen5: Reuni

Banyak yang bilang reuni itu menyenangkan. Berkumpul dengan teman lama, mengenang cerita masa lalu, saat masih ABG ingusan. Bagi yang punya kisah cinta, yang katanya cinta monyet, bisa sedikit bernostalgia dan menertawakan kekonyolan masing-masing
Akan ada banyak makanan dan minuman. Diiringi sound system di hall hotel berbintang sepertinya reuni akan berjalan lancar dan penuh kebahagiaan. Tapi apakah itu berlaku juga untukku? Tidak juga. Aku masuk ke dalam wilayah abu-abu. Diadakan terserah, nggak juga nggak masalah.
“Aku daftarin, ya? Pasti seru. Kira-kira bagaimana mereka sekarang ya?” Arini, teman sekolahku, menelepon suatu pagi.
Mau tak mau aku juga jadi kepikiran. Bagaimana kabar mereka sekarang? Apa pekerjaan mereka? Apakah sudah menikah atau malah sudah punya anak? Aku sendiri sudah mempunyai dua orang balita lucu dan menggemaskan. Aina 4 tahun dan Fawaz 2 tahun.
Telepon pagi itu kututup dengan janji bahwa akah kukabari lagi setelah bertanya dulu pada suamiku. Suamiku termasuk orang yang ‘pelit’ memberi ijin keluar, apalagi kalau sendirian. Ia lebih memilih menahan rasa lelah dan bosannya daripada membiarkanku belanja ke pasar atau supermarket sendirian. Aku sebenarnya senang-senang saja ada yang menemani. Namun, terkadang aku merasa bersalah dan kasihan, daripada menungguiku belanja bukankah lebih baik istirahat di rumah?
Jumat malam saat anak-anak sudah tidur aku memberi tahu tentang reuni tersebut.
“Kapan?” tanya suamiku.
Matanya menatapku. Meski sudah 6 tahun menikah aku masih saja belum terbiasa beradu tatap dengannya. Suamiku memiliki mata yang menusuk sekaligus menyelidik. Aku curiga ia bisa membaca isi hati orang lewat matanya.
“Tanggal 5 bulan depan,” jawabku sambil memandang kearah lain. Ku tahu itu tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi aku tak kuat melihat matanya lama-lama.
Suamiku tak berkata apa-apa, beberapa detik hening diantara kami.
“Sudah malam, lebih baik cepat tidur. Nanti telat tahajud.” Suamiku sudah beranjak ke kamar tidur.
Itu berarti harus sabar menunggu. Baiklah, lagipula aku juga tidak diburu waktu.
***
Pagi hari adalah saat tersibuk. Aina yang lincah dan agak cerewet suka bertanya ini-itu. Kadang ketika memasak aku dipaksa menyanyikan lagu Pelangi-pelangi kesukaannya. Selesai menyiapkan sarapan, giliran memandikan Aina. Sementara suamiku menemani Fawaz. Setelah Aina ganti baju seragam PAUD-nya, aku menyuapi Fawaz. Untungnya Aina sudah mau makan sendiri. sebelumnya ia tak mau makan kalau tak disuapi.
Sebelum berangkat kerja suamiku bertanya apakah aku benar-benar ingin ikut reuni itu.
“Kadang-kadang aku merasa jenuh dirumah. Sesekali ingin berkumpul dengan teman lama,” jawabku.
“Lalu anak-anak bagaimana?”
Aku nyengir kuda, “Kan, masih ada abinya di rumah.”
“Sebentar, kok, Mas. Paling cuma dua jam,” lanjutku.
Suamiku tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Aku surprise, tak biasanya ia mengijinkanku semudah ini. Jangan-jangan ada yang salah dengan suamiku.
“Tapi, Mas, ada biayanya.”
“Berapa?”
“200 ribu.”
Suamiku mengeluarkan 4 lembar limapuluh ribuan dari dompetnya. Meski ketat soal ijin-perijinan suamiku longgar dalam masalah uang. Jarang bertanya macam-macam. Untung aku bukan tipe istri yang suka korupsi, kalau nggak bisa-bisa suamiku bangkrut hehe..
Reuni yang diagendakan sejak tahun lalu itu akhirnya bisa berjalan lancar. Disana-sini terlihat wajah yang cantik-cantik dan gagah-gagah. Tidak menyangka si Andika yang dulu culun dan agak kuper sekarang sudah jadi pengusaha ikan lele. Gilang yang jadi preman sekolah sudah insaf dan membuka bengkel mobil. Sementara si cantik Heni jadi pegawai bank dan teman sebangkuku, Kinanti, jadi istri pak camat.
Banyak cerita mengalir. Sepuluh tahun sejak kelulusan telah mengubah teman-teman lama menjadi pribadi baru. Meski ada beberapa yang tetap sama, misalnya porsi makan Hendri yang jumbo. Untunglah hobinya berolahraga menolong tubuhnya agar tidak semakin melar.
Banyak yang sudah menikah dan punya anak, tapi lebih banyak lagi yang belum. Terutama kaum laki-lakinya. Entah wanita seperti apa yang mereka cari, padahal umur sudah mendekati kepala tiga.
Pulang reuni aku diantar Arini dan suaminya. Kebetulan Rian, suaminya itu, teman satu kelas dulu. Dan kebetulan lagi Rian satu kantor dengan suamiku. Dunia memang sempit sekali, ya.
Suamiku sedang membacakan cerita untuk Aina, sedang jagoan keclku, Fawaz, bermain mobil-mobilan. Begitu melihatku datang mereka berdua langsung menghampiri dan bergelayut manja. Maklum baru kali ini aku meninggalkan mereka dengan abinya saja.
Mereka berebut cerita tentang apa saja yang dilakukan selama umminya pergi. Sekotak donat yang kubeli saat pulang menyelamatkanku dari hujan celotehan. Saat melihat donat yang berwarna-warni mereka langsung merubungnya dan lupa apa yang ingin ‘diadukannya’ tadi. Ah, betapa mudah sekali perhatian mereka dialihkan.
“Bagaimana acaranya?” tanya suamiku.
“Alhamdulillah lancar. Banyak sekali yang berubah, tak percaya kalau ingat saat sekolah dulu.”
“Pulang tadi aku diantar Arini dan Rian,” lanjutku.
Suamiku mangut-manggut. “Apa tadi Gilang juga datang?”
“Mas, kenal Gilang?” Aku terkejut. Sebelumnya suamiku tak pernah cerita kalau ada teman lain, selain Rian, yang dikenalnya.
Suamiku mengalihkan pandangannya, “Ya... tidak juga. Cuma pernah dengar.”
“Sekarang Gilang sudah punya bengkel mobil. Padahal dia dulu badung banget waktu sekolah. Nggak nyangka bisa berubah gitu.”
“Namanya juga manusia, selalu berubah bersama waktu.”
“Ciee... tumben bisa puitis, gitu,” godaku.
Suamiku tersenyum kikuk.
***
Hari ini Arini datang ke rumah bersama anaknya Aisha yang berumur 3 tahun. Kami ingin membuat borwnis bersama. Fawaz yang klop dengan Aisha segera sibuk bermain berdua. Sementara aku menyiapkan bahan-bahan kue.
 “Eh, kamu lihat Dani waktu reuni kemarin? Sepertinya dia nggak datang.”
“Hayoo, nggak boleh lho, ya. Sudah jadi istri orang sekarang.” Dani dulu punya hubungan ‘khusus’ dengan Arini.
“Aku cuma ingin tahu kabarnya saja. Penasaran. Kalau ingat dulu...” Arini mesem-mesem.
Inilah salah satu dampak reuni yang tidak kusukai. Membangkitkan kenangan lama. Kata orang CLBK, cinta lama belum kelar. Iya kalau masih sama-sama sendiri, tapi kalau sudah berkeluarga bisa gawat. Jadi terkenang-kenang, deh, mirip Arini.
“Sudah, cerita masa lalu jangan diingat-ingat. Nggak baik buat kesehatan,” kataku mulai mengocok telur dan gula.
Suara bising mixer memutus obrolan kami. Masih kulihat Arini tersenyum tipis. Gemes, deh. Kalau ketahuan suaminya bagaimana. Tapi walau tidak ketahuan mengingat-ingat lelaki lain yang bukan suami namanya sudah zina hati, betul, kan?
Setelah dirasa cukup mixer kumatikan. Sekarang mencampur margarin cair dan cokelat leleh.
“Kemarin aku diberitahu sebelum reuni suamimu sempat tanya-tanya ke suamiku, soal kamu.”
Aku tertegun. Suamiku bukan orang yang gampang menanyakan masalah pribadi pada orang lain.
“Katanya apa di sekolah dulu pernah punya pacar atau ada laki-laki yang kamu sukai. Tentu saja nggak punya, jawab suamiku. Masa anak rohis pacaran, apa kata masjid sekolah? Tapi kalau orang yang  pernah suka kamu, sih, ada.”
Pernah ada yang suka? Kok, aku nggak tahu?
“Itu, lho, si Gilang. Tapi mana mungkin preman dan rohis bisa bersama. Ada-ada saja si Gilang itu. Seharusnya kalau suka sama orang lihat-lihat dulu dong,” Arini terkikik geli.
Lalu ingatan tentang suamiku yang tiba-tiba bertanya tentang Gilang datang.
 “Tapi jangan bilang suamimu kalau aku cerita, ya. Nanti aku yang dimarahi suamiku.”
Perasaan bersalah menyergapku. Tak bisa kubayangkan bagaimana suamiku menahan perasaannya beberapa hari ini. Mungkin selama aku makan dan tertawa di hall hotel bersama teman-teman, suamiku sibuk menenangkan hatinya yang gelisah. Tiba-tiba aku merasa begitu berdosa padanya.
Nasi sudah jadi bubur, reuni sudah lewat, dan waktu tak bisa berputar kebelakang.
Hari ini aku akan membuat kue lapis kesukaan suamiku. Ditemani teh hangat kurasa bisa mengurangi rasa lelahnya sepulang kerja nanti.

Senin, 12 November 2012

Cerpen 4: Tumbal



Ruangan itu tidak terlalu besar, berukuran 2 x 3 meter. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu bohlam berukuran 5 Watt. Bersinar redup kekuning-kuningan. Asap kemenyan memenuhi ruangan, membuat sesak. Mengepul tanpa henti dari tembikar kecil yang di dalamnya berisi kemenyan yang dibakar. Di sekelilingnya berbagai macam benda aneh ditata teratur. Bunga tujuh rupa, darah ayam hitam, keris kecil, empedu ular, segelas kopi hitam, beras ketan dan boneka yang terbuat dari batang padi mirip boneka voodoo.
Seorang laki-laki separuh baya, duduk di depan benda-benda tadi. Tangannya bergerak di antara asap kemenyan yang membumbung tinggi. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit menggumamkan kalimat-kalimat aneh. Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya. Tubuhnya bergetar, awalnya pelan tapi semakin lama semakin keras. Mulutnya tambah gencar melafalakan kalimat-kalimat yang tak jelas berbunyi apa.
            Ruangan semakin penuh dengan asap hingga tak menyisakan ruang untuk udara segar. Mata sang laki-laki terbuka, Tangannya. kemudian meraih boneka batang padi. Diasapinya sebentar di atas kemenyan, lalu boneka itu diangkat dengan kedua tangannya hati-hati. Seperti mengangkat bayi yang sedang tertidur. Dihadapkan lurus didepan wajahnya. Pandangan matanya tajam, menusuk. Ada pancaran kebencian dan kepuasan sekaligus.
            Tangan kanannya meraih keris yang berada di samping bunga tujuh rupa. Dengan gerakan pelan keris itu menghujam ke perut boneka. Seketika itu dari dalam perut boneka keluar darah. Keris semakin ditekan ke dalam dan darahpun semakin banyak. Lalu keris dicabut, boneka diletakkan di atas cawan. Darah memancar keluar seperti air mancur selama beberapa detik, kemudian berhenti dan hilang sama sekali, seolah tidak pernah ada darah disana…
*****

            Astagfirullah… Bapak!!!!!” Suara seorang wanita memecah kesunyian di malam buta. Anak-anaknya yang sedang tertidur, bangun ketakutan. Suara jeritan wanita tadi berubah menjadi tangisan yang menyayat hati. Anak-anaknya semakin ketakutan.
            “Ibu…!” Sontak kedua bocah perempuan yang masih berumur 8 dan 6 tahun itu berlari ke kamar ibunya.
             Ibunya duduk bersimpuh di samping ayah mereka yang terbaring di atas kasur berlumuran darah. Tangan ibunya mengguncang-guncang tubuh ayah yang tak bergerak. Si bungsu ikut menangis, sang kakak yang entah mendapat dorongan dari mana memeluk adiknya. Ia juga menangis. Tangisan mereka bertiga membangunkan tetangga di sekitar rumah.
            “Bu, Bu Warsi, buka pintunya! Ada apa, Bu?” Pintu depan diketuk orang. Tak ada jawaban. Beberapa laki-laki datang berkerumun di depan rumah. Pintu rumah kembali diketuk, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban, hanya terdengar tangisan ibu dan anak dari dalam. Warga akhirnya nekat dan mendobrak pintu rumah.
            Warga yang berhasil masuk langsung menuju kamar Bu Warsi. Mereka semua terkejut melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
            Astagfirullahal ‘adzim…
            Innalillahi wa innalillahi roji’uun…”
*****

            Rumah Bu Warsi berselimut duka. Di depan pintu pagar sebuah bendera putih terpasang. Para tetangga berdatangan untuk melayat. Sebagian duduk di depan menunggu jenazah diberangkatkan. Beberapa orang laki-laki sedang memandikan jenazah, beberapa lagi menyiapkan proses penguburan. Bu Warsi terduduk lemas di kamarnya ditemani tiga orang tetangga wanita. Mereka berusaha menghibur Bu Warsi yang terpukul sekali dengan kepergian suaminya. Padahal baru kemarin sore mereka makan bersama kedua anaknya. Tapi takdir Allah begitu cepat dan tak disangka-sangka.
            Tadi malam suaminya tiba-tiba membangunkannya minta dikipasi. Gerah, katanya. Bu warsi heran, padahal cuaca malam ini begitu dingin sampai-sampai membuat bulu kuduk berdiri.
            “Dingin-dingin begini kok gerah to, Pak?” BuWarsi mengusap wajahnya menghilangkan kantuk.
            “Panas sekali, Bu. Sungguh. Bapak seperti sedang dipanggang.” Suaminya berkata sambil mengusap peluh yang bercucuran di wajah dan lehernya. Bu Warsi mengambil handuk kecil, menyeka keringat suaminya, lalu dikipasainya sebentar.
            “Bu, Bapak haus, tolong ambilkan minum.” Bu Warsi berjalan ke dapur mengambil segelas air putih. Belum sempat kakinya menginjak dapur, tiba-tiba suaminya berteriak. Bergegas Bu Warsi kembali ke kamarnya. Betapa terkejutnya ia, saat ia melihat suaminya terkapar dengan darah memancar keluar dari perutnya. Sempat dilihatnya suminya seperti hendak mengatakan sesuatu namun sebelum ia bisa berkata matanya telah tertutup. Sejak saat itu suaminya diam, tak lagi bergerak.
            Bu Warsi pingsan. Ibu-ibu yang menemaninya panik. Tubuh Bu Warsi dibaringkan di atas dipan kayu. Wajahnya dikipasi dan hidungnya diolesi minyak angin.
            “Nyebut, War! Ingat sama Gusti Allah.”                                                                                                                                                          
            “Tabahkan hatimu, War. Ikhlaskan kepergian suamimu.”
            Bu Warsi siuman. Tangisnya kembali pecah. Sekarang siapa yang akan menghidupi keluarga? Siapa yang akan memberi makan kedua anaknya? Siapa lagi yang akan menemaninya saat susah dan senang?
            Jenazah telah selesai dimandikan. Kemudian dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan di ruang tamu untuk dishalati. Pelayat semakin ramai berdatangan. Di antara mereka banyak yang berbisik-bisik tentang kematian Pak Karto, suami Bu Warsi yang tidak wajar. Ada yang menduga diganggu setan, dibunuh oleh makhluk jadi-jadian, korban santet atau teluh, bahkan ada yang berpendapat ulah dari para leluhur desa yang lama tidak diberi sesajen.
            Dahulu di desa setiap tahun diadakan upacara bersih desa, yaitu dengan memberikan sesaji pada para leluhur yang konon bersemayam di pohon beringin belakang balai desa. Namun, lambat laun kebiasaan itu mulai ditinggalkan. Para warga yang lebih paham tentang agama mengetahui bahwa itu termasuk syirik. Awalnya peniadaan upacara bersih desa mendapat reaksi keras dari tetua desa. Mereka mengatakan leluhur akan marah dan desa bisa tertimpa musibah yang besar. Tapi dengan pengertian dari para pemuda yang kebanyakan jebolan pondok pesantren, akhirnya tetua desa menyetujui meski dengan berat hati.
            “Apa dulu saya bilang, leluhur kita pasti akan marah karena tidak ada lagi ritual bersih desa. Inilah puncak kemarahan mereka, sehingga nyawa salah satu warga kita dijadikan tumbal.” Mbah Trimo, salah satu tetua desa berkomentar pada sekumpulan laki-laki yang duduk di bawah pohon mangga depan rumah Bu Warsi.
            “Memang sudah kehendak Allah Pak Karto meninggal, Mbah.” Ujar salah seorang pemuda desa yang berusia 20-an, Sapto.
            “Ah, kamu itu tahu apa? Dulu desa kita aman-aman saja. Tidak ada kejadian aneh seperti ini. Panen juga setiap tahun berhasil. Sekarang coba lihat! Panen kemarin banyak yang gagal karena hama wereng. Hujan yang setiap tahun datang tepat waktu, sekarang jadi seenaknya sendiri, tidak bisa dikira-kira. Keadaan desa ini semakin kacau saja,” bela Mbah Trimo.
            “Kalau masalah hama mungkun karena padi kita bukan termasuk jenis padi yang tahan hama. Jadi gampang terserang. Lagipula selama ini para petani kita jarang menggunakan insektisida. Kalau hujan yang tidak teratur, bisa jadi karena keadaan alam yang sudah semakin rusak. Kata orang-orang global warming atau pemanasan global, Mbah.” Chandra, satu-satunya pemuda yang melanjutkan  pendidikan ke universitas di kota mencoba memberi penjelasan.
            “Kamu juga ikut-ikutan. inikah yang kamu dapat dari sekolahmu di kota itu? Menggurui orang tua?” Mbah Trimo tampak tidak senang.
            “Maaf , Mbah bukan maksud saya…” Perkataan Chandra terhenti.
            “Tapi, menurut saya Pak Karto itu terkena santet,” Pak Banu tiba-tiba angkat bicara.
            “Terkena santet bagaimana?” tanya Sapto keheranan.
            “Iya terkena santet, dulu di kampung istri saya pernah ada orang meninggal dengan aneh. Dari kuping, telinga, dan mulutnya keluar darah disertai pecahan kaca. Satu kampung geger. Setelah diusut ternyata itu salah satu perbuatan tetangganya yang dendam karena pernah dihina,” jawab Pak Banu.
            Sapto manggut-manggut. “Memang kematian Pak Karto aneh sekali. Tadi kebetulan saya bertemu ibu yang dari tadi malam menemani Bu Warsi. Saat saya tanya bagaimana Pak Karto meninggal katanya malam-malam Pak Karto bangun mengeluh kepanasan. Waktu Bu Warsi pergi untuk mengambil air minum, Pak Karto berteriak dan dari perutnya keluar banyak darah yang tidak bisa berhenti. Seperti air mancur.”
            “Nah, benar dugaan saya, Pak Karto pasti disantet orang,” imbuh Pak Banu bersemangat, mendapat dukungan.
            “Sudahlah Pak, tidak baik mebicarakan orang yang sudah meninggal. Nanti arwahnya tidak tenang,” ujar Sodikin, salah satu orang kaya di desa, yang sejak tadi diam saja.
            Assalamu’alaikum..” sapa seseorang dari belakang.
            Wa’alaikumsalam…!” jawab kumpulan laki-laki tersebut serentak. Ternyata Pak lurah datang bersama sekretaris desa. Pak lurah sosok yang paling disegani di desa. Laki-laki berperawakan tinggi besar itu terlihat segar diusianya yang mendekati empat puluh tahun.
            “Apakah jenazah Pak Karto sudah diurus?” tanya pak Lurah.
            “Sudah pak, tadi sedang dishalati mungkin sekarang sudah selesai,” jawab sapto sopan.
            “Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu.” Pak Lurah berjalan masuk ke dalam rumah Bu Warsi.
            Keadaan Bu Warsi sudah lebih tenang, tapi tatapannya kosong tanpa cahaya. Disampingnya kedua anaknya duduk bersandar di tangan ibunya. Jika bukan karena anak-anaknya mungkin ia memilih untuk ikut pergi bersama suaminya.
            Assalamu’alaikum…” salam Pak Lurah.
Wa’alaikum salam..” jawab Bu Warsi, disusutnya sisa air mata di pipi.
“Bu Warsi saya ikut berduka atas meninggalnya Pak Karto. Dia adalah warga desa yang baik,” ucap Pak Lurah dengan nada sedih. Beliau memang terkenal sebagai orang yang baik hati, dermawan, dan penolong. Seluruh warga desa menyukainya. Dalam masalah uang beliau tidak pernah perhitungan. Sehingga saat pemilihan ketua desa tahun lalu, beliau langsung diangkat menjadi kepala desa.
“Terima kasih Pak lurah.” Suara bu Warsi terdengar serak.
“Ini ada sedikit dari saya. Semoga bisa meringankan beban Ibu.” Pak Lurah  menyodorkan sebuah amplop putih.
“Apa ini, Pak? Maaf saya tidak bisa menerima.” Bu Warsi tidak enak dengan pemberian Pak Lurah.
“Sudahlah Bu, terima saja. Bukankah Ibu perlu untuk biaya anak-anak. Soal biaya pemakaman Pak Karto semua sudah saya tanggung,” kata Pak Lurah  pelan.
Bu Warsi semakin tidak enak, kemudian dipandangi wajah kedua anaknya yang polos dan lugu. Memang benar Irma dan Ani butuh makan, sementara ayahnya sudah tiada. Tidak ada lagi yang akan memberi mereka uang sekedar untuk membeli permen. Suaminya juga tidak meninggalkan harta apa-apa karena pekerjaannya hanya sebagai buruh tani di sawah orang lain.
            Akhirnya dengan tangan bergetar diterima amplop tersebut. Bu Warsi menangis haru. Alhamdulillah, Allah masih sayang padanya dengan mengirimkan seseorang berhati emas seperti Pak Lurah.
            “Terima kasih, Pak,” ucap Bu Warsi. Pak Lurah mengangguk sambil tersenyum. Kemudian beliau mohon diri untuk memimpin acara pemberangkatan jenazah.
            Sepeninggal Pak Lurah, bu Warsi mengintip uang yang ada di amplop. Subhanallah, banyak sekali lembaran lima puluh ribuan. Dihitungnya dengan gemetar. Dua juta! Dengan uang ini ia jbisa menyekolahkan anaknya dan sebagian untuk biaya hidup sehari-hari.
            “Pak Lurah itu memang sangat baik ya,” bisik Mbok Surti kepada ibunya Sapto, Bu Atik. Mereka bersama Imas  dari tadi menemani Bu Warsi.
“Iya sawahnya saja banyak, tiap panen selalu berhasil. beliau juga usaha jual beli kayu. Jadi soal uang tidak terlalu masalah,” timpal Bu Atik.
“Tapi sayang sudah bertahun-tahun menikah belum memiliki anaknya. Padahal umurnya sudah hampir 40 tahun,” Imas ikutan nimbrung.
“Ya kita doakan saja semoga cepat diberi anak. Oarang sebaik Pak lurah pasti jalannya akan dimudahkan oleh Allah,” ujar Bu Atik.
*****

            Sudah dua tahun berlalu sejak meniggalnya Pak Karto. Bu Warsi yang awalnya merasa berat hidup sendiri tanpa seorang suami kini sudah mampu menghidupi kedua anaknya. Uang pemberian Pak Lurah sebagian digunakan untuk modal usaha warung kelontong. Kebetulan di desa masih jarang warung yang menjual keperluan sehari-hari seperti gula, sabun, sampo, susu dan beras. Dari hasil toko tersebut sebagian ditabung untuk biaya sekolah Irma dan Ani. Irma sekarang duduk di kelas 4 SD sedangkan Ani kelas 2.
Pikiran, tenaga, dan perhatiannya tercurah pada kedua anaknya. Ia ingin agar kedua anaknya kelak menjadi orang yang berhasil. Ia tidak ingin anaknya putus sekolah seperti dirinya dulu. Bahkan kalau perlu anaknya akan disekolahkan di kota seperti Chandra yang kabarnya sekarang sudah menjadi orang sukses di kota. Tidak pernah terbersit untuk mencari pengganti suaminya. Ia tidak ingin perhatiannya kepada anak-anaknya berkurang.
            Dua tahun pula berlalu sejak kematian Pak Karto yang tidak wajar. Lambat laun warga desa mulai melupakan peristiwa yang sempat membuat geger satu desa. Tidak ada yang membicarakannya lagi. Kehidupan desa berjalan wajar seperti biasanya. Tapi tidak dengan seorang laki-laki setengah baya yang tinggal di desa tersebut. Ia sedang sibuk memikirkan sesuatu. Tiga hari lagi adalah malam purnama yang ke-25, berarti saatnya ia harus memberikan tumbal pada Nyi Kenconotirto, ratu pesugihan dari gunung Angguno.
            Bertahun-tahun lalu ia pergi dari desa ini karena tidak tahan dengan kemiskinan yang menjerat hidupnya. Ia bertekad untuk menjadi orang paling kaya di kampungnya. Berbekal keterangan dari seorang temannya yang akrab dengan ilmu ghaib ia pergi ke gunung Angguno untuk menemui Nyi Kenconotirto, jin penunggu gunung tersebut. Setelah perjalanan yang memakan waktu berhari-hari akhirnya ia sampai di gunung Angguno.
             Di sana ia menemui juru kunci gunung dan menyakan bagaimana caranya bertemu dengan Nyi Kenconotirto. Segala persyaratan berat ia sanggupi, setelah memenuhi semua persyaratan akhirnya ia bisa bertemu dengan Nyi Kenconotirto yang bersedia memberi kekayaan asal setiap malam bulan purnaama yang ke-25 diberikan tumbal seorang manusia. Ia menyetujuinya dan setelah itu ia menjadi orang yang  kaya.
            Kemarin malam ia bermimipi bertemu dengan Nyi Kenconotirto dan ia meminta tumbal seorang anak kecil yang masih polos. Ia berpikir siapa kira-kira yang akan dijadikan tumbal kali ini. Lalu tiba-tiba wajah Irma, anaknya Pak Karto yang dulu ia jadikan tumbal, melintas di pikirannya. Iya ya, anak itu cocok dijadikan tumbal seperti bapaknya. Kenapa tidak terpikirkan olehku tadi? Ia tersenyum puas. Satu masalah sudah terpecahkan sekarang tinggal menyiapkan perlengkapannya.
            Tiga hari kemudian. Malam begitu dingin baru pukul sepuluh tapi cuaca sangat dingin menusuk tulang. Irma dan Ani sudah tidur setengah jam lalu. Ditengoknya mereka berdua dikamar tengah tertidur pulas. Bu Warsi membetulkan selimut yang menutupi tubuh anaknya. Duhai, anakku ibu sungguh menyayangimu, Nak. Dikecup lembut dahi anaknya satu persatu kemudian ia pergi ke kamarnya. Kenapa cuaca bisa sedingin ini? Sungguh dingin sekali, pikir Bu Warsi heran sambil merebahkan diri di ranjang. Selimut ditarik sampai menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian ia tertidur.
            Pukul 2 pagi Bu Warsi terbangun, keringat dingin mengaliri tubuhnya. Barusan ia bermimipi buruk. Ia bermimipi Irma dibawa pergi oleh seorang  wanita berwajah bengis. Irma meronta-ronta minta tolong tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu Irma hilang dikegelapan yang pekat.
            Sementara itu di salah satu rumah di desa yang sama, di dalam ruangan berukuran 2 x 3 meter. Seorang laki-laki setengah baya sedang meggumamkan mantra-mantra. Wajahnya merah dengan matanya terpejam. Aroma kemenyan begitu tajam menusuk. Separuh ruangan telah penuh dengan asap. Dia masih terus membacakan mantra sambil mengambil sebuah boneka dari batang padi yang berukuran kecil. Diasapinya di atas kemenyan.
            Malam masih dingin, bulu kuduk Bu Warsi berdiri. Tiba-tiba ia teringat kejadian dua tahun lalu. Malam ini sama dengan malam ketika suaminya meninggal. Wajahnya pucat, dadanya berdebar-debar. Ia bangun dan bergegas kekamar anaknya. Irma menggeliat diatas tempat tidur, keringat membanjiri tubuhnya.
            “Irma, Irma bangun, Nak,” Bu Warsi mengguncang-guncangkan tubuh Irma. Irma bangun tangannya menguasap wajahnya yang penuh dengan keringat.
            “Bu panas sekali. Irma kepanasan,” ucap Irma. Bu Warsi semakin ketakutan, ini persis seperti yang dialami suaminya.
            “Sekarang Irma bangun dan ambil air wudhu, kita sholat bareng biar panasnya hilang.” Ia tidak tahu kenapa menyuruh Irma untuk berwudhu. Tapi Bu Warsi yakin ini adalah cara yang benar. Irma menurut, ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk wudhu, Bu Warsi menyusul.
            Ketika memakai mukena hendak shalat Irma masih terus mengeluh kepanasan. Bu Warsi tetap memaksanya memakai mukena. Lalu mereka membentuk posisi shalat berjamaah.
            Di tempat lain, seorang laki-laki tubuhnya bergetar hebat. Tangannya memegang boneka yang diasapi diatas kemenyan, lalu sebuah keris kecil diambil dan ditusukkan ke perut boneka. Bersamaan dengan itu Irma sedang mengangkat kedua tangannya membaca takbir. Allahu Akbar!
            Seketika itu boneka tadi terbakar dan laki-laki itu terlempar kebelakang. Darah segar keluar dari mulutnya. Napasnya terengah-engah. Dia merangkak mendekati tempat kemenyan yang masih berasap, tiba-tiba tempat kemenyan itu meledak. Begitu kuatnya ledakan sehingga tubuh laki-laki itu terlempar ke atas menjebol atap rumah dan terlempar ke kebun singkong di samping rumah. Darah keluar tidak hanya dari mulut tapi juga dari hidung dan matanya. Lalu laki-laki itu diam tak bergerak. Matanya tebelalak, mulutnya terbuka.
            Paginya, warga kembali gempar. Mereka berbonding-bondong pergi ke kebun singkong samping rumah laki-laki yang sekarang sudah terbujur kaku.
            “Apa yang terjadi? Kenapa Pak Lurah bisa meninggal seperti ini?” tanya warga.


Note: Ini adalah cerpen lama. Saya menulisany saat masih menjadi anggota FLP Batamindo sekitar tahun 2008. Waktu itu cerpen ini akan dijadikan sebuah antologi bersama cerpen-cerpen anggota FLP yang lain, tapi karena masalah teknis sampai sekarang antologi itu tidak jadi-jadi.Selamat Menikmati ^_^

Jumat, 26 Oktober 2012

Cerpen3: Kenangan Tentang Mbok



“Sri, Mbok meninggal,” Dini menelepon pagi buta.
“Innalillahi wa innailahi roji’un, kapan, Din?” tanya Sri.
“Tadi malam, sekitar jam dua. Aku juga baru dapat kabar dari Bapak.”
Dini mengajak Sri pulang. Mereka bekerja di kota yang sama, merantau meninggalkan kampung halaman demi merajut masa depan. Bedanya Dini bekerja di ruang bersih dan ber-AC sedangkan Sri harus bergumul dengan pakaian bayi.
“Kenapa tiba-tiba Mbok...?” Seingat Sri Mbok tidak pernah mengeluh sakit.
“Kemarin Mbok jatuh dikamar mandi. Jadi Bapak nginap di rumah Mbok, malam-malam Bapak dengar suara dari kamarnya Mbok, dan..” Dini menarik napas panjang. “Mbok  jatuh dari ranjang, Sri.”
***
Sri menghela napas berat. Adzan shubuh bergema dari mushola yang terletak di ujung jalan.
Ada perasaan hampa dalam dada Sri. Dia tak merasakan apa-apa. Bersedih pun tidak, seolah berita itu seperti pengumuman pemerintah akan kenaikan BBM. Biasa terjadi dan tidak perlu diratapi.
Sebuah suara di kepalanya berteriak, menuduhnya. Dasar cucu tidak berperasaan! Bagaimana bisa kamu tak bersedih mendengar Mbokmu meninggal? Apa hatimu terbuat dari batu? Seburuk apapun dia itu tetap Mbokmu, ibunya Bapakmu!
Kenangan masa kecil menyergap Sri. Bagai slide-slide yang terus berputar membangkitkan rasa kecewa dan merana yang selama ini Ia kubur dalam-dalam.
Mbok selalu menjadikannya cucu ‘kelas dua’. Mbok lebih memilih Dini. Lebih sayang Dini. Bagi Mbok Sri seperti bayangan, ada tapi tak dianggap.
Saat sekolah dasar, Mbok tidak mau membelikan pensil baru jika pensilnya belum pendek dan tak bisa dipegang lagi. Sepatunya seringkali kebesaran karena Mbok membelikan dua nomor lebih besar agar cukup sampai dua tahun ajaran. Bila robek maka Mbok akan menjahitkannya ke tukang sol sepatu sambil menggerutu sepanjang jalan.
Tapi kalau Dini? Pensilnya bagus dan berwarna-warni. Sepatunya pun pas. Saat lebaran Dini yang selalu dibanggakan di depan saudara-saudara.
Jadi aku tak bersalah kalau aku tak bersedih. Kenapa dulu Mbok memperlakukanku seperti itu? Seharusnya Mbok menyayangiku seperti Dini.
***
“Cepat kembali, toko sedang ramai. Kita kekurangan orang, mengerti?” ujar Tacik pemilik toko yang keturunan cina.
Sri mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih Ia segera pergi.
Sri naik angkot jurusan terminal. Di sana Ia akan ketemu Dini. Angkot menderu pelan, meliuk-liuk membelah keramaian kota Surabaya. Jalanan Surabaya pagi dipenuhi dengan orang-orang yang terburu-buru sampai di tempat kerja, kampus, atau sekolah
Dini berdiri di depan pintu masuk terminal. Dini melambaikan tangan begitu melihat Sri turun dari angkot.
“Ayo, Sri. Itu bis jurusan Pandaan.”
Tanpa banyak kata Sri menjejeri langkah Dini. Bau parfum menguar dari tubuhnya. Manis dan segar.
 Ah tentu saja, gajinya sebagai sekretaris di perusahaan asing pasti bisa untuk membeli parfum mahal, batin Sri.
Mereka mendapat tempat duduk di belakang sopir. Sri senang duduk di sana, karena ia bisa melihat jalanan yang ada di depan. Mengurangi mabuk perjalanan yang kerap menghinggapinya.
Dini menyodorkan kotak kecil berisi permen.
“Ini bisa mengurangi mabuk.”
Sri mengambil satu dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu hening diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya keramaian terminal yang membuat Sri tetap sadar bahwa Ia akan pulang.
Bagi Sri Kampung halaman bukan tempat yang membuatnya rindu. Banyak luka dan perasaan tersisihkan di sana.
Saat lulus SMA, Mbok menjual separuh kebun belakang untuk biaya kuliah Dini. Sedangkan Sri harus puas dengan ijazah SMK yang dimilikinya. Padahal ia pun ingin kuliah, namun Mbok tak mau membiayainya.
 Sri terpaksa mengubur impiannya menjadi perancang busana dan menghadapi kenyataan. Suatu hari Sri nekat bertanya kenapa Mbok bertindak begitu tidak adil.
“Sejak kecil Mbok lebih sayang Dini daripada aku? Kenapa? Bukankah aku ini juga cucu Mbok?”
Mbok memalingkan muka. Diam bagai patung walau Sri terus menuntut penjelasan. Sri tak menyerah, Ia lalu bertanya pada bapaknya Dini, Paklik Sukri.
“Cerita lama, Sri. Sudah jangan diungkit lagi,” jawab Paklik Sukri. Wajahnya nampak muram.
“Ndak, bisa, Paklik. Sejak kecil aku merasa tak disayangi. Apa aku ini anak pungut?”
Melihat wajah memelas Sri, pamannya menyerah, “Baiklah, Sri. Memang sudah saatnya kamu tahu.”
Lalu ceritapun mengalir, tentang ayahnya yang menikahi ibunya tanpa restu Mbok. Tentang kepergian ibunya saat Sri berumur dua tahun. Sejak saat itu Bapak Sri jadi sering mabuk-mabukan. Hingga beberapa bulan sepulang pesta minum-minum, sepeda motor bapaknya menabrak pohon.
Mbok menyalahkan ibunya Sri sehingga anaknya jadi pemabuk dan mati dalam kecelakaan.
Bis melaju kencang. Meyalip mobil-mobil dan sepeda motor di depannya. Bila dilihat dari dalam bis mobil-mobil itu tampak kecil dan pendek.
Dini sibuk ber-BBM ria. Wajahnya disapu make up tipis. Ingin sekali sebenarnya Sri memebenci sepupunya itu. Kesenjangan kasih sayang membuat Sri iri dan sakit hati.
Sri merasa selama ini Ia hanyalah seorang tamu yang tidak diharapkan kehadirannya. Diabaikan dan disisihkan. Namun, Dini bukanlah orang yang mudah dibenci. Dini selalu bersikap baik pada Sri. Sering membagikan makanan yang diam-diam diberikan Mbok, memberi uang sakunya, dan membela Sri saat dimarahi Mbok.
Kenapa kau tidak bersikap sebaliknya? Sehingga aku bisa membencimu dengan mudah, desah Sri.
“Sri, gimana rasanya pakai jilbab?” Dini membuyarkan lamunan Sri. Wajahnya menghadap Sri sepenuhnya.
Sri tergagap.
“Maksudku, panas nggak? Aku juga pengen pakai tapi di kantor nggak boleh.”
Sri memutuskan pakai jilbab setahun lalu. Saat melihat temannya banyak yang berjilbab tiba-tiba keinginan itu muncul.
“Emm... awalnya sih, iya. Tapi lama-lama biasa kok.” Selain itu Sri juga merasa sejak berjilbab laki-laki yang suka menggodanya di jalan jadi berkurang.
***
Rumah Mbok tidak banyak berubah. Beberapa pot cocor bebek dan kaktus tampak berjejer di halaman depan. Pohon bougenville yang sering Sri petik bunganya masih tegak berdiri. Hanya saja rumah itu sekarang tampak lengang.
Bapak dan ibu Dini menyambut mereka. Mbok sudah dikuburkan satu jam lalu. Sebenarnya Paklik Sukri ingin menunda sampai cucunya datang, tapi karena sudah terlalu siang maka jenazah harus segera dimakamkan.
Sri menuju kamar Mbok. Harum bunga tercium. Beberapa foto usang tergantung di dinding. Foto Mbok dan Mbah saat masih muda. Ada juga foto Dini saat balita.
Sri tahu tak ada tempat untuknya. Tak ada ruang tersisa tempat menggantung potret dirinya. Apa yang bisa dikenang dari seorang cucu yang ibunya pergi dengan laki-laki lain?
“Sri, kemarilah,” panggil Paklik Sukri.
Sri keluar, menuju pamannya yang duduk di bangku kayu.
Paklik Sukri mengeluarkan sebuah cincin dari dompet kecil. Cincin emas bermata putih.
“Sebelum pergi ibumu meninggalkan cincin itu agar bisa dijual kalau Simbok butuh uang. Tapi Mbok ingin memberikannya saat kamu menikah nanti. Sayang mbok keburu pergi sebelum sempat melihatmu memakainya.”
Sri terpana menatap cincin ditangannya. Raut wajah mbok yang keras kembali terbayang.
“Dan ini sertifikat tanah disamping rumah Simbok. Atas nama ayahmu. Mbok membagi dua tanah peninggalan Bapak. Punya Paklik sudah dijual buat biaya kuliah Dini.”
Sri membeku, dibiarkannya Paklik Sukri menaruh sertifikat itu dipangkuannya. Mbok tak pernah menyinggung sedikitpun soal ini.
“Dulu Paklik pernah bilang supaya tanah ini dijual saja, buat kuliah kamu. Tapi Simbok ndak setuju. Katanya biar kamu bisa bangun rumah disana. Oalah Sri, sebenarnya simbok selama ini memikirkanmu. Kok jadi jarang pulang, padahal dulu kamu begitu manut.”
Ada butiran bening menetes di pipi Sri. Kenapa harus seterlambat ini?
“Wajahmu itu, lho, yang bikin simbok suka kesal. Mirip banget sama ibumu. Tidak mudah bagi Mbok merawat cucu dari perempuan yang tak direstuinya.Tapi Mbok juga tak bisa mengabaikan darah Kang Samin yang mengalir dalam tubuhmu, Sri.”
Hari ini paklik bercerita banyak. Sri diam saja, pikirannya melayang-layang. Menyusuri kejadian masa silam. Dan akhirnya, dia temukan bahwa selama ini Sri tidak begitu mengenal Mbok.