Jumat, 26 Oktober 2012

Cerpen3: Kenangan Tentang Mbok



“Sri, Mbok meninggal,” Dini menelepon pagi buta.
“Innalillahi wa innailahi roji’un, kapan, Din?” tanya Sri.
“Tadi malam, sekitar jam dua. Aku juga baru dapat kabar dari Bapak.”
Dini mengajak Sri pulang. Mereka bekerja di kota yang sama, merantau meninggalkan kampung halaman demi merajut masa depan. Bedanya Dini bekerja di ruang bersih dan ber-AC sedangkan Sri harus bergumul dengan pakaian bayi.
“Kenapa tiba-tiba Mbok...?” Seingat Sri Mbok tidak pernah mengeluh sakit.
“Kemarin Mbok jatuh dikamar mandi. Jadi Bapak nginap di rumah Mbok, malam-malam Bapak dengar suara dari kamarnya Mbok, dan..” Dini menarik napas panjang. “Mbok  jatuh dari ranjang, Sri.”
***
Sri menghela napas berat. Adzan shubuh bergema dari mushola yang terletak di ujung jalan.
Ada perasaan hampa dalam dada Sri. Dia tak merasakan apa-apa. Bersedih pun tidak, seolah berita itu seperti pengumuman pemerintah akan kenaikan BBM. Biasa terjadi dan tidak perlu diratapi.
Sebuah suara di kepalanya berteriak, menuduhnya. Dasar cucu tidak berperasaan! Bagaimana bisa kamu tak bersedih mendengar Mbokmu meninggal? Apa hatimu terbuat dari batu? Seburuk apapun dia itu tetap Mbokmu, ibunya Bapakmu!
Kenangan masa kecil menyergap Sri. Bagai slide-slide yang terus berputar membangkitkan rasa kecewa dan merana yang selama ini Ia kubur dalam-dalam.
Mbok selalu menjadikannya cucu ‘kelas dua’. Mbok lebih memilih Dini. Lebih sayang Dini. Bagi Mbok Sri seperti bayangan, ada tapi tak dianggap.
Saat sekolah dasar, Mbok tidak mau membelikan pensil baru jika pensilnya belum pendek dan tak bisa dipegang lagi. Sepatunya seringkali kebesaran karena Mbok membelikan dua nomor lebih besar agar cukup sampai dua tahun ajaran. Bila robek maka Mbok akan menjahitkannya ke tukang sol sepatu sambil menggerutu sepanjang jalan.
Tapi kalau Dini? Pensilnya bagus dan berwarna-warni. Sepatunya pun pas. Saat lebaran Dini yang selalu dibanggakan di depan saudara-saudara.
Jadi aku tak bersalah kalau aku tak bersedih. Kenapa dulu Mbok memperlakukanku seperti itu? Seharusnya Mbok menyayangiku seperti Dini.
***
“Cepat kembali, toko sedang ramai. Kita kekurangan orang, mengerti?” ujar Tacik pemilik toko yang keturunan cina.
Sri mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih Ia segera pergi.
Sri naik angkot jurusan terminal. Di sana Ia akan ketemu Dini. Angkot menderu pelan, meliuk-liuk membelah keramaian kota Surabaya. Jalanan Surabaya pagi dipenuhi dengan orang-orang yang terburu-buru sampai di tempat kerja, kampus, atau sekolah
Dini berdiri di depan pintu masuk terminal. Dini melambaikan tangan begitu melihat Sri turun dari angkot.
“Ayo, Sri. Itu bis jurusan Pandaan.”
Tanpa banyak kata Sri menjejeri langkah Dini. Bau parfum menguar dari tubuhnya. Manis dan segar.
 Ah tentu saja, gajinya sebagai sekretaris di perusahaan asing pasti bisa untuk membeli parfum mahal, batin Sri.
Mereka mendapat tempat duduk di belakang sopir. Sri senang duduk di sana, karena ia bisa melihat jalanan yang ada di depan. Mengurangi mabuk perjalanan yang kerap menghinggapinya.
Dini menyodorkan kotak kecil berisi permen.
“Ini bisa mengurangi mabuk.”
Sri mengambil satu dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu hening diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya keramaian terminal yang membuat Sri tetap sadar bahwa Ia akan pulang.
Bagi Sri Kampung halaman bukan tempat yang membuatnya rindu. Banyak luka dan perasaan tersisihkan di sana.
Saat lulus SMA, Mbok menjual separuh kebun belakang untuk biaya kuliah Dini. Sedangkan Sri harus puas dengan ijazah SMK yang dimilikinya. Padahal ia pun ingin kuliah, namun Mbok tak mau membiayainya.
 Sri terpaksa mengubur impiannya menjadi perancang busana dan menghadapi kenyataan. Suatu hari Sri nekat bertanya kenapa Mbok bertindak begitu tidak adil.
“Sejak kecil Mbok lebih sayang Dini daripada aku? Kenapa? Bukankah aku ini juga cucu Mbok?”
Mbok memalingkan muka. Diam bagai patung walau Sri terus menuntut penjelasan. Sri tak menyerah, Ia lalu bertanya pada bapaknya Dini, Paklik Sukri.
“Cerita lama, Sri. Sudah jangan diungkit lagi,” jawab Paklik Sukri. Wajahnya nampak muram.
“Ndak, bisa, Paklik. Sejak kecil aku merasa tak disayangi. Apa aku ini anak pungut?”
Melihat wajah memelas Sri, pamannya menyerah, “Baiklah, Sri. Memang sudah saatnya kamu tahu.”
Lalu ceritapun mengalir, tentang ayahnya yang menikahi ibunya tanpa restu Mbok. Tentang kepergian ibunya saat Sri berumur dua tahun. Sejak saat itu Bapak Sri jadi sering mabuk-mabukan. Hingga beberapa bulan sepulang pesta minum-minum, sepeda motor bapaknya menabrak pohon.
Mbok menyalahkan ibunya Sri sehingga anaknya jadi pemabuk dan mati dalam kecelakaan.
Bis melaju kencang. Meyalip mobil-mobil dan sepeda motor di depannya. Bila dilihat dari dalam bis mobil-mobil itu tampak kecil dan pendek.
Dini sibuk ber-BBM ria. Wajahnya disapu make up tipis. Ingin sekali sebenarnya Sri memebenci sepupunya itu. Kesenjangan kasih sayang membuat Sri iri dan sakit hati.
Sri merasa selama ini Ia hanyalah seorang tamu yang tidak diharapkan kehadirannya. Diabaikan dan disisihkan. Namun, Dini bukanlah orang yang mudah dibenci. Dini selalu bersikap baik pada Sri. Sering membagikan makanan yang diam-diam diberikan Mbok, memberi uang sakunya, dan membela Sri saat dimarahi Mbok.
Kenapa kau tidak bersikap sebaliknya? Sehingga aku bisa membencimu dengan mudah, desah Sri.
“Sri, gimana rasanya pakai jilbab?” Dini membuyarkan lamunan Sri. Wajahnya menghadap Sri sepenuhnya.
Sri tergagap.
“Maksudku, panas nggak? Aku juga pengen pakai tapi di kantor nggak boleh.”
Sri memutuskan pakai jilbab setahun lalu. Saat melihat temannya banyak yang berjilbab tiba-tiba keinginan itu muncul.
“Emm... awalnya sih, iya. Tapi lama-lama biasa kok.” Selain itu Sri juga merasa sejak berjilbab laki-laki yang suka menggodanya di jalan jadi berkurang.
***
Rumah Mbok tidak banyak berubah. Beberapa pot cocor bebek dan kaktus tampak berjejer di halaman depan. Pohon bougenville yang sering Sri petik bunganya masih tegak berdiri. Hanya saja rumah itu sekarang tampak lengang.
Bapak dan ibu Dini menyambut mereka. Mbok sudah dikuburkan satu jam lalu. Sebenarnya Paklik Sukri ingin menunda sampai cucunya datang, tapi karena sudah terlalu siang maka jenazah harus segera dimakamkan.
Sri menuju kamar Mbok. Harum bunga tercium. Beberapa foto usang tergantung di dinding. Foto Mbok dan Mbah saat masih muda. Ada juga foto Dini saat balita.
Sri tahu tak ada tempat untuknya. Tak ada ruang tersisa tempat menggantung potret dirinya. Apa yang bisa dikenang dari seorang cucu yang ibunya pergi dengan laki-laki lain?
“Sri, kemarilah,” panggil Paklik Sukri.
Sri keluar, menuju pamannya yang duduk di bangku kayu.
Paklik Sukri mengeluarkan sebuah cincin dari dompet kecil. Cincin emas bermata putih.
“Sebelum pergi ibumu meninggalkan cincin itu agar bisa dijual kalau Simbok butuh uang. Tapi Mbok ingin memberikannya saat kamu menikah nanti. Sayang mbok keburu pergi sebelum sempat melihatmu memakainya.”
Sri terpana menatap cincin ditangannya. Raut wajah mbok yang keras kembali terbayang.
“Dan ini sertifikat tanah disamping rumah Simbok. Atas nama ayahmu. Mbok membagi dua tanah peninggalan Bapak. Punya Paklik sudah dijual buat biaya kuliah Dini.”
Sri membeku, dibiarkannya Paklik Sukri menaruh sertifikat itu dipangkuannya. Mbok tak pernah menyinggung sedikitpun soal ini.
“Dulu Paklik pernah bilang supaya tanah ini dijual saja, buat kuliah kamu. Tapi Simbok ndak setuju. Katanya biar kamu bisa bangun rumah disana. Oalah Sri, sebenarnya simbok selama ini memikirkanmu. Kok jadi jarang pulang, padahal dulu kamu begitu manut.”
Ada butiran bening menetes di pipi Sri. Kenapa harus seterlambat ini?
“Wajahmu itu, lho, yang bikin simbok suka kesal. Mirip banget sama ibumu. Tidak mudah bagi Mbok merawat cucu dari perempuan yang tak direstuinya.Tapi Mbok juga tak bisa mengabaikan darah Kang Samin yang mengalir dalam tubuhmu, Sri.”
Hari ini paklik bercerita banyak. Sri diam saja, pikirannya melayang-layang. Menyusuri kejadian masa silam. Dan akhirnya, dia temukan bahwa selama ini Sri tidak begitu mengenal Mbok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar