“Dek, jangan main
disana. Panas!” Bu Arifin menarik paksa tangan anaknya yang tengah asyik
melihat seekor kucing
“Sudah mama
bilang jangan panas-panasan, nggak mau dengar. Lihat Dek Hanif aja mainnya
anteng!”
Mendengar nama
Hanif disebut reflek sebuah senyuman tersungging di wajahku. Aku meragukan Bu
Arifin bersungguh-sungguh menjadikan anakku sebagai contoh anak ‘baik’. Hampir
semua orang di komplek tahu kalau anakku suka berlari kesana-kemari. Padahal
umurnya baru satu setengah tahun.
“Tidak apa-apa, Bu, namanya juga anak-anak,” Aku
mencoba menengahi. Ada rasa iba saat gadis cilik itu dimarahi ibunya karena
persoalan sepele. Seandainya Aliya seperti Hanif, mungkin Bu Arifin sudah terkena
serangan jantung.
“Aliya memang
nakal, Bu. Susah dikasih tahu. Jangan main kotor-kotoran, tapi malah main
pasir. Lihat bajunya kotor gara-gara duduk sembarangan.” Bu Arifin
menepuk-nepuk rok Aliya. Tubuh kecilnya berguncang-guncang akibat tepukan
ibunya. Tak ada perlawanan atau rengekan. Sebenarnya Aliya anak yang manis,
tapi apapun yang dilakukannya selalu dianggap sebagai kenakalan oleh ibunya.
Tiba-tiba aku
teringat kata-kata seorang trainer Hypnoparenting, “Seorang anak sampai dia
berusia 6 tahun seperti spons. Dia akan menyerap semua informasi yang diterima,
jika orang tua sering berkata anaknya nakal, malas, atau susah diatur, dan
diucapkan berulang-ulang maka itu akan tersimpan dialam bawah sadarnya. Jadi
jangan heran kalau anak menjadi benar-benar nakal, malas, dan suka membantah.”
Wajah polos
dengan mata bening Aliya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Benarkah semua akan
terserap ke memori otaknya?
“Huaa..!” Sebuah
tangisan melengking membuyarkan pikiranku. Masya Allah! Hanif jatuh tersungkur,
rupanya terantuk batu. Ku usap-usap kepalanya yang terbentur tanah. Hal seperti
ini seringkali terjadi, sedikit saja lengah Hanif bisa terjatuh, tersandung,
atau terguling.
“Dek
Anip kok nangis, Ma?” suara cadel Aliya bertanya pada Ibunya.
“Dek
Hanif jatuh main mobil-mobilan. Kalau Aliya nggak mau nurutin Mama nanti jatuh
seperti Dek Hanif, ngerti?” ujar Bu Arifin sembari menuntun Aliya pulang.
***
Hanif
baru saja tertidur. Ah, saat-saat seperti ini sungguh damai. Inilah saatnya aku
bisa merasakan nikmatnya meluruskan punggung. Sedikit memberi waktu kepada
tubuh mengumpulkan tenaga kembali. Sebelum menyongsong kegiatan rutin
berikutnya seperti mencuci baju, cuci piring, mengepel, dan macam-macam. Semua
itu tak bisa dikerjakan saat Hanif bangun, karena ia akan ikut ‘membantu’ yang
justru semakin membuat berantakan.
Aku
tak ingin terbiasa melarangnya melakukan sesuatu. Jadi lebih baik pekerjaan
rumah dikerjakan saat ia terbuai mimpi.
Mempunyai
anak balita sungguh menguras tenaga. Jauh lebih capek daripada menjadi buruh
pabrik. Pantas saja banyak ibu-ibu yang lebih nyaman menggaji baby sitter.
“Aku
ingin kau di rumah saja, mengurus anak-anak kita. Biarlah aku yang mencari
nafkah. Anak yang hidup tanpa kasih sayang ibunya sungguh menderita.”
Itu
adalah permintaan suamiku saat awal menikah dulu. Pengalam hidup yang selalu
ditinggal ibunya bekerja membuatnya sedikit trauma.
Akhirnya
aku melepaskan posisi asisten manajer di sebuah perusahaan susu yang telah
kurintis selama 7 tahun. Dari buruh pabrik rendahan sampai kemudian menduduki posisi
itu bukan sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.
Walau
sangat merepotkan dan melelahkan tapi menjadi ibu tetap membahagiakan. Apalagi
sekarang program parenting sedang digalakkan dimana-mana. Rasanya jadi lebih
bersemangat dan bersabar menghadapi tingkah Hanif yang sering ‘aneh-aneh’.
Hanif
suka bermain air di depan rumah. Karena sebelumnya sempat kubaca bahwa bermain
air membuat anak cerdas, maka kubiarkan Hanif bermain sampai puas. Baju dan
rambutnya basah. Saat melihatnya tertawa-tawa aku juga ikut merasakan bahagia.
Berbeda
denganku dulu saat masih kecil. Ibu sering melarangku ini-itu. Bermain pasir
tidak boleh, mengejar kucing dilarang, tak pakai sandal dimarahi. Rasanya
banyak sekali yang tak boleh kulakukan. Aku harus selalu jadi anak perempuan
yang manis, penurut, dan bersih.
“Bu,
Hanif nanti masuk angin, lho, kalau main air.” Demikian komentar Bu Irawan saat
lewat depan rumah.
“Lihat
bajumu basah semua, Dek. Sudah jangan main air lagi,” Tegur Bu Deni yang
sebenarnya ditujukan padaku. Mungkin dalam hatinya ia heran mengapa anak kecil
dibiarkan berbasah-basah.
“Sekarang
sedang musim batuk dan pilek, Bu. Nanti Dek Hanif sakit, lho, kalau dibiarkan
terus.” Kali ini Bu Joko ikut menyumbang saran. Sementara disampingnya, anaknya
memperhatikan Hanif tak berkedip.
Aku
tersenyum sambil menjawab, “Iya, Bu.” Tak mungkin kukatakan kalau ada
penelitian yang mengatakan bahwa main air membuat otak cerdas. Bisa-bisa cap
sok tahu menempel di dahiku.
Apalagi
statusku ‘hanya’ ibu rumah tangga, bukan dokter, psikolog, atau pegawai
pemerintah. Meski pernah kuliah tapi kalau tidak lulus dan tidak punya
pekerjaan di luar rumah, biasanya dianggap kurang berbobot.
“Sabar,
Dik. Menjadi berbeda memang tidak mudah. Lagipula anak kita tidak sama dengan anak
orang lain,” sahut suamiku saa aku menceritakan pengalaman mendapat banyak
kritik dan masukkan.
“Keluarga
kita punya pedoman sendiri dalam mendidik Hanif. Kita harus melakukan apa yang
kita yakini benar,” lanjutnya.
***
Pulang
membeli minyak goreng di toko kelontong ada
selebaran yang kutemukan tanpa sengaja. Tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
Disana tertulis besar-besar “TIGA RESEP JITU MENDIDIK ANAK AGAR SUKSES DI MASA
DEPAN”. Dibawahnya ada nama pembicara, waktu dan tempat.
Hampir
saja aku berteriak kegirangan. Begitu sampai
di rumah segera kuberitahu suamiku. Tanpa sadar selebaran itu sudah kusut dan
basah oleh keringat akibat genggaman tanganku terlalu kuat. Sejak kecil
tanganku selalu berkeringat bila senang atau cemas.
Suamiku
tak keberatan menjaga Hanif di rumah
selama aku ikut seminar. Dulu waktu pengajian bersama Hanif hampir tidak
bisa berkonsentrasi. Aku terlalu sibuk menjaga anak.
Tiba-tiba
sebuah ide muncul, bagaimana kalau ibu-ibu komplek diajak juga? Supaya ibu-ibu
juga tahu bahwa mendidik anak perlu ilmu. Esoknya saat arisan, kusampaikan
tentang seminar itu. Sekalian mengajak agar para ibu bisa ikut serta.
“Berapa
biayanya, Bu Farid?” tanya Bu Ari yang ada di pojok.
“Gratis,
Bu, yang mengadakan dinas pendidikan. Tinggal daftar saja,” jawabku.
Begitu
mendengar kata ‘gratis’ wajah acuh ibu-ibu mulai berubah.
“Beneran
gratis, Bu? Nanti sampai sana suruh bayar,” sangsi Bu Deni.
“Saya
sudah telepon dan tanya-tanya. Insya Allah tidak bayar.”
“Sesekali
hari minggu ikut seminar, Bu. Bosan juga, kan, kalau jalan-jalan di mall
terus,” tambahku memanasi.
***
Ibu-ibu
sudah berkumpul di depan gerbang komplek. Lengkap dengan dandanan
masing-masing. Aku tersenyum sendiri, mau ikut seminar atau fashion show, ya?
Segala merk tas terbaru bergantungan ditangan yang dihiasi gelang emas atau jam
tangan mahal. Beruntung Bu Jody dan Bu Agus bersedia meminjamkan mobil, itung-itung
menghemat ongkos transport.
Begitu
mobil datang, kami langsung menuju balai pertemuan kota tempat seminar
diadakan. Acara yang dijadwalkan selesai dalam 2 jam molor sampai 3 jam, banyak
ibu yang antusias bertanya pada pembicara. Sepertinya kesadaran memperbaiki pola
didik yang selama ini salah mulai tumbuh.
“Masa sih, saya selama ini salah mengasuh anak?”
gumam Bu Irawan saat perjalanan pulang.
“Katanya
harus sabar menghadapi anak, tapi Billy kalau nggak dikerasin nggak mau nurut.
Dihalusin malah ngelunjak,” timpal Bu Jody. Billy memang terkenal sebagai
‘jagoan kecil’ komplek.
“Sudah
Bu, jangan terlalu dipikirin. Mertua saya dulu katanya juga galak, tapi
anak-anaknya berhasil semua. Ada yang jadi pilot, dokter, dan pengacara,” Bu
Deni menambahi.
“Iya, jaman dulu orang tua kita juga nggak
pernah ada yang ngajarin, tapi coba lihat sekarang kita tetap bisa hidup, kan?”
Terdengar
gumam setuju di dalam mobil. Aku menghela napas, melepas pandangan keluar
jendela mengamati jalanan. Jalan perubahan memang tidak semulus jalan kota ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar