Rabu, 24 Oktober 2012

Cerpen2: Tak Semulus Jalan Kota


“Dek, jangan main disana. Panas!” Bu Arifin menarik paksa tangan anaknya yang tengah asyik melihat seekor kucing
“Sudah mama bilang jangan panas-panasan, nggak mau dengar. Lihat Dek Hanif aja mainnya anteng!”
Mendengar nama Hanif disebut reflek sebuah senyuman tersungging di wajahku. Aku meragukan Bu Arifin bersungguh-sungguh menjadikan anakku sebagai contoh anak ‘baik’. Hampir semua orang di komplek tahu kalau anakku suka berlari kesana-kemari. Padahal umurnya baru satu setengah tahun.
 “Tidak apa-apa, Bu, namanya juga anak-anak,” Aku mencoba menengahi. Ada rasa iba saat gadis cilik itu dimarahi ibunya karena persoalan sepele. Seandainya Aliya seperti Hanif, mungkin Bu Arifin sudah terkena serangan jantung.
“Aliya memang nakal, Bu. Susah dikasih tahu. Jangan main kotor-kotoran, tapi malah main pasir. Lihat bajunya kotor gara-gara duduk sembarangan.” Bu Arifin menepuk-nepuk rok Aliya. Tubuh kecilnya berguncang-guncang akibat tepukan ibunya. Tak ada perlawanan atau rengekan. Sebenarnya Aliya anak yang manis, tapi apapun yang dilakukannya selalu dianggap sebagai kenakalan oleh ibunya.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang trainer Hypnoparenting, “Seorang anak sampai dia berusia 6 tahun seperti spons. Dia akan menyerap semua informasi yang diterima, jika orang tua sering berkata anaknya nakal, malas, atau susah diatur, dan diucapkan berulang-ulang maka itu akan tersimpan dialam bawah sadarnya. Jadi jangan heran kalau anak menjadi benar-benar nakal, malas, dan suka membantah.”
Wajah polos dengan mata bening Aliya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Benarkah semua akan terserap ke memori otaknya?
“Huaa..!” Sebuah tangisan melengking membuyarkan pikiranku. Masya Allah! Hanif jatuh tersungkur, rupanya terantuk batu. Ku usap-usap kepalanya yang terbentur tanah. Hal seperti ini seringkali terjadi, sedikit saja lengah Hanif bisa terjatuh, tersandung, atau terguling.
“Dek Anip kok nangis, Ma?” suara cadel Aliya bertanya pada Ibunya.
“Dek Hanif jatuh main mobil-mobilan. Kalau Aliya nggak mau nurutin Mama nanti jatuh seperti Dek Hanif, ngerti?” ujar Bu Arifin sembari menuntun Aliya pulang.
***
Hanif baru saja tertidur. Ah, saat-saat seperti ini sungguh damai. Inilah saatnya aku bisa merasakan nikmatnya meluruskan punggung. Sedikit memberi waktu kepada tubuh mengumpulkan tenaga kembali. Sebelum menyongsong kegiatan rutin berikutnya seperti mencuci baju, cuci piring, mengepel, dan macam-macam. Semua itu tak bisa dikerjakan saat Hanif bangun, karena ia akan ikut ‘membantu’ yang justru semakin membuat berantakan.
Aku tak ingin terbiasa melarangnya melakukan sesuatu. Jadi lebih baik pekerjaan rumah dikerjakan saat ia terbuai mimpi.
Mempunyai anak balita sungguh menguras tenaga. Jauh lebih capek daripada menjadi buruh pabrik. Pantas saja banyak ibu-ibu yang lebih nyaman menggaji baby sitter.
“Aku ingin kau di rumah saja, mengurus anak-anak kita. Biarlah aku yang mencari nafkah. Anak yang hidup tanpa kasih sayang ibunya sungguh menderita.”
Itu adalah permintaan suamiku saat awal menikah dulu. Pengalam hidup yang selalu ditinggal ibunya bekerja membuatnya sedikit trauma.
Akhirnya aku melepaskan posisi asisten manajer di sebuah perusahaan susu yang telah kurintis selama 7 tahun. Dari buruh pabrik rendahan sampai kemudian menduduki posisi itu bukan sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.
Walau sangat merepotkan dan melelahkan tapi menjadi ibu tetap membahagiakan. Apalagi sekarang program parenting sedang digalakkan dimana-mana. Rasanya jadi lebih bersemangat dan bersabar menghadapi tingkah Hanif yang sering ‘aneh-aneh’.
Hanif suka bermain air di depan rumah. Karena sebelumnya sempat kubaca bahwa bermain air membuat anak cerdas, maka kubiarkan Hanif bermain sampai puas. Baju dan rambutnya basah. Saat melihatnya tertawa-tawa aku juga ikut merasakan bahagia.
Berbeda denganku dulu saat masih kecil. Ibu sering melarangku ini-itu. Bermain pasir tidak boleh, mengejar kucing dilarang, tak pakai sandal dimarahi. Rasanya banyak sekali yang tak boleh kulakukan. Aku harus selalu jadi anak perempuan yang manis, penurut, dan bersih.
“Bu, Hanif nanti masuk angin, lho, kalau main air.” Demikian komentar Bu Irawan saat lewat depan rumah.
“Lihat bajumu basah semua, Dek. Sudah jangan main air lagi,” Tegur Bu Deni yang sebenarnya ditujukan padaku. Mungkin dalam hatinya ia heran mengapa anak kecil dibiarkan berbasah-basah.
“Sekarang sedang musim batuk dan pilek, Bu. Nanti Dek Hanif sakit, lho, kalau dibiarkan terus.” Kali ini Bu Joko ikut menyumbang saran. Sementara disampingnya, anaknya memperhatikan Hanif tak berkedip.
Aku tersenyum sambil menjawab, “Iya, Bu.” Tak mungkin kukatakan kalau ada penelitian yang mengatakan bahwa main air membuat otak cerdas. Bisa-bisa cap sok tahu menempel di dahiku.
Apalagi statusku ‘hanya’ ibu rumah tangga, bukan dokter, psikolog, atau pegawai pemerintah. Meski pernah kuliah tapi kalau tidak lulus dan tidak punya pekerjaan di luar rumah, biasanya dianggap kurang berbobot.
“Sabar, Dik. Menjadi berbeda memang tidak mudah. Lagipula anak kita tidak sama dengan anak orang lain,” sahut suamiku saa aku menceritakan pengalaman mendapat banyak kritik dan masukkan.
“Keluarga kita punya pedoman sendiri dalam mendidik Hanif. Kita harus melakukan apa yang kita yakini benar,” lanjutnya.
***
Pulang membeli minyak goreng  di toko kelontong ada selebaran yang kutemukan tanpa sengaja. Tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Disana tertulis besar-besar “TIGA RESEP JITU MENDIDIK ANAK AGAR SUKSES DI MASA DEPAN”. Dibawahnya ada nama pembicara, waktu dan tempat.
Hampir saja aku berteriak kegirangan.  Begitu sampai di rumah segera kuberitahu suamiku. Tanpa sadar selebaran itu sudah kusut dan basah oleh keringat akibat genggaman tanganku terlalu kuat. Sejak kecil tanganku selalu berkeringat bila senang atau cemas.
Suamiku tak keberatan menjaga Hanif di rumah  selama aku ikut seminar. Dulu waktu pengajian bersama Hanif hampir tidak bisa berkonsentrasi. Aku terlalu sibuk menjaga anak.
Tiba-tiba sebuah ide muncul, bagaimana kalau ibu-ibu komplek diajak juga? Supaya ibu-ibu juga tahu bahwa mendidik anak perlu ilmu. Esoknya saat arisan, kusampaikan tentang seminar itu. Sekalian mengajak agar para ibu bisa ikut serta.
“Berapa biayanya, Bu Farid?” tanya Bu Ari yang ada di pojok.
“Gratis, Bu, yang mengadakan dinas pendidikan. Tinggal daftar saja,” jawabku.
Begitu mendengar kata ‘gratis’ wajah acuh ibu-ibu mulai berubah.
“Beneran gratis, Bu? Nanti sampai sana suruh bayar,” sangsi Bu Deni.
“Saya sudah telepon dan tanya-tanya. Insya Allah tidak bayar.”
“Sesekali hari minggu ikut seminar, Bu. Bosan juga, kan, kalau jalan-jalan di mall terus,” tambahku memanasi.
***
Ibu-ibu sudah berkumpul di depan gerbang komplek. Lengkap dengan dandanan masing-masing. Aku tersenyum sendiri, mau ikut seminar atau fashion show, ya? Segala merk tas terbaru bergantungan ditangan yang dihiasi gelang emas atau jam tangan mahal. Beruntung Bu Jody dan Bu Agus bersedia meminjamkan mobil, itung-itung menghemat ongkos transport.
Begitu mobil datang, kami langsung menuju balai pertemuan kota tempat seminar diadakan. Acara yang dijadwalkan selesai dalam 2 jam molor sampai 3 jam, banyak ibu yang antusias bertanya pada pembicara. Sepertinya kesadaran memperbaiki pola didik yang selama ini salah mulai tumbuh.
 “Masa sih, saya selama ini salah mengasuh anak?” gumam Bu Irawan saat perjalanan pulang.
“Katanya harus sabar menghadapi anak, tapi Billy kalau nggak dikerasin nggak mau nurut. Dihalusin malah ngelunjak,” timpal Bu Jody. Billy memang terkenal sebagai ‘jagoan kecil’ komplek.
“Sudah Bu, jangan terlalu dipikirin. Mertua saya dulu katanya juga galak, tapi anak-anaknya berhasil semua. Ada yang jadi pilot, dokter, dan pengacara,” Bu Deni menambahi.
 “Iya, jaman dulu orang tua kita juga nggak pernah ada yang ngajarin, tapi coba lihat sekarang kita tetap bisa hidup, kan?”
Terdengar gumam setuju di dalam mobil. Aku menghela napas, melepas pandangan keluar jendela mengamati jalanan. Jalan perubahan memang tidak semulus jalan kota ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar