Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen1: Diary-ku, Diary-mu


Diary Arrisa.
Kafe La Tansa, samping masjid. Selasa pagi.
Hari ini aku berbicara lagi dengannya. Masih soal kemarin. Tentang pria idaman yang kelak akan jadi suami.
“Yang utama itu baik agama dan punyai pemikiran serupa denganku,” katanya mantap.
“Walau mukanya pas-pasan?” tanyaku sangsi.
“Pas ganteng maksudnya? Alhamdulillah mudah-mudahan mirip Keanu Reeves saat masih muda,” dia tertawa.
“Tapi yang penting itu yang ada di dalam sini.” Tangannya menunjuk dahi.
“Kamu tahu susahnya ngomong dengan orang yang pikiran dan cara pandangnya bertolak belakang dengan kita? Hah, bikin malas saja!” lanjutnya gemas. Sepertinya dia pernah bertemu dengan orang yang ber-’tolak belakang’ dengannya.
Salah satu ciri khasnya, gaya bicara lugas dan tak suka berbelit-belit.       
“ Aku suka yang dewasa dan tenang. Tidak gampang terpancing emosi. Tidak pula mudah menyalahkan orang lain,” jawabnya sambil menyeruput jus alpukat.
Aku mengangguk-angguk. Kafe belum terlalu ramai, masih pagi. Hanya ada beberapa orang yang menempati meja kotak dengan taplak motif bunga. Kafe dikelola oleh pengurus masjid. Dengan bantuan beberapa juru masak, kafe ini menyuguhkan menu yang rasanya tak kalah dengan kafe-kafe lain. Ada soto, bakso, nasi goreng, dan berbagai macam jus. Menurutku yang paling enak adalah soto babatnya. Mantaap.
“Lalu kamu sendiri suka yang seperti apa?” tanyanya mengagetkanku.
Aku tersenyum, “Ya, yang sholeh,” jawabku singkat. Tiba-tiba bayangan seorang ikhwan berkelebat. Entah mengapa akhir-akhir ini seperti ada magnet dalam otakku. Sehingga setiap mendengar kata suami selalu sosoknya yang melintas di kepalaku.
“Masa cuma sholeh aja, nggak ada yang lain?” tanyanya dengan bola mata membulat. Mata bening yang bisa membuat orang berkaca di dalamnya.
Aku jadi salah tingkah. “Apa, sih? Ya... baik dan sopan,” tambahku. Tak enak rasanya jadi pusat pandangan matanya. Pandangan mata yang sering membuatku terpaksa jujur.
“Kita sama, dong. Tapi kayaknya belum ada yang memenuhi standarku,” katanya lebih pada dirinya sendiri.
Pasti seperti itu. Kriteria yang diimpikan seseorang selalu tidak jauh dari dirinya sendiri. Setiap orang ingin mencari pasangan yang sama dan sederajat. Atau yang lebih tinggi. Bagi seorang wanita suami adalah imam yang harus diikuti. Segala keputusannya harus dipatuhi. Bahkan untuk shaum sunnah pun harus seijin suami.
Wajar jika ingin yang lebih atau paling tidak sama. Sekufu. Sama pintarnya, sama baiknya, sama sabarnya, atau sama cakepnya.
Meski sama-sama lulusan SMA tapi pengetahuannya jauh melampauiku. Dia tahu teknologi, berita terkini, tahu orang-orang penting dunia, dan menyerap cepat materi kajian. Tak banyak yang tahu kalau dia sudah menjadi kontributor tetap sebuah majalah islami, selain bekerja sebagai kasir di swalayan.
Diam-diam tersimpan rasa iri dalam hatiku. Iri akan semua kelebihan yang  ia miliki. Termasuk keberaniannya. Pernah dia terang-terang tidak setuju saat ketua panitia yang terkenal angker memutuskan tema kajian bulanan. Meski bukan pengurus inti tapi Dia berani menyuarakan pendapatnya dan membuat muka ketua panitia memerah.
***
Diary Dania.
Kamar tidur, di depan komputer. Rabu malam.
Fiuhh... akhirnya artikel untuk majalah bulan depan selesai. Lebih cepat dari biasanya. Sekitar butuh seminggu untuk mencari bahan, membuat kerangka, dan menulis. Sekarang tinggal mengirim ke redaksi. Besok sebelum masuk kerja, aku akan mampir warnet dulu.
Menggeliat sejenak, melemaskan otot yang kaku. Kapan ya terakhir kali berolah raga? Badan rasanya pegal-pegal semua. Padahal masih muda tapi kok sudah sering pegal-pegal?
Muda? Aku tersenyum sendiri. apakah 25 tahun masih tergolong muda? Ah, iya tadi pagi Ustadzah mengatakan sesuatu padaku. Ini sudah ketiga kalinya beliau menawarkan. Jadi tak enak sendiri. Sampai kapan menolak terus?
“itu usia yang cukup untuk menikah. Kalau terlalu lama menunggu, kesempatan baik akan hilang,” ucap ustadzah.
Pada saat itu aku hanya bisa tersenyum mengiyakan. Tak ingin aku berdebat masalah usia dengan Ustadzah Halimah yang biasa mengajariku tahsin ini. Ustadzah Halimah sudah kuanggap sebagai ibu keduaku.
Ikhsan. Itulah nama pria yang disebut Ustadzah tadi pagi setelah kultum subuh.Ustadz Rizal, suami Ustadzah Halimah, mendapat permintaan dari Ikhsan agar menjadi perantara dalam proses taarufnya denganku.
Ikhsan bukan orang baru dalam hidupku. Setidaknya aku sudah mengenal dia sejak SMP. Kami pernah satu kelas dan mengobrol beberapa kali. Setelah SMP dia melanjutkan ke pondok pesantren di luar kota, otomatis komunikasi kami terputus. Beberapa tahun kemudian kami bertemu lagi karena sama-sama aktif di masjid.
 Sejujurnya aku tidak merasakan ‘apa-apa’ terhadap dirinya. Perasaan tertarik atau simpati belum pernah singgah di pikiranku. Tiba-tiba saja aku menerima kabar mengejutkan itu. Aku mengatakan akan memikirkannya terlebih dahulu. Tujuan taaruf adalah pernikahan dan masalah pernikahan bukan hal yang sepele, kan?
***
Diary Arrisa. Teras masjid, depan papan pengumuman. Sabtu pagi.
“Mbak, kapan nih?” seorang gadis mungil bernama Irna mencolek tanganku.
“Apanya?” Aku menoleh. Sejak kapan dia ada di sini?
“Nikah, dong. Setiap bulan Mbak jadi panitia kajian munakahat, masa nyuruh orang lain nikah sementara panitianya masih jomblo.” Irna mengedipkan mata. Wajahnya yang bulat mengingatkanku pada boneka salju.
Aku tertawa hambar. Pasti dikiranya aku sedang membaca artikel pernikahan di majalah dinding ini.
“Menganjurkan orang lain mengerjakan kebaikan juga mendapat pahala. Jadi kalau nanti jamaah banyak yang melengkapi setengah dien mereka malaikat akan menulis pahala untuk Mbak juga,” jawabku. Bukannya aku tak mau menikah, tapi calonnya yang belum ada, batinku.
“Tapi lebih afdhol kalau yang menganjurkan mengerjakan terlebih dulu. Pasti pahalanya dobel.” Sahut Irna tak mau kalah.
“Iya, deh. Kamu menang,” Kalau urusan berdebat anak ini susah dilawan. Maklum mantan’ aktivis’ lomba debat antar sekolah.
Irna mesem-mesem,“Jilbabnya kok agak berantakan, Mbak?”
Aku meraba jilbabku, pantas rasanya tadi ada yang aneh. “Tadi berangkatnya buru-buru, asal pakai aja.” Aduh kenapa tambah amburadul gini, ya?
“Kalau gitu ke toilet aja, Mbak. Kebetulan saya juga mau sana.”
Aku mengangguk. Toilet wanita ada di samping masjid.
Malam nanti ada jadwal pengajian akbar, aku harus ikut. Minggu lalu aku terpaksa bolos karena Ibu tiba-tiba sakit dan minta ditemani.
Saat melewati serambi depan masjid tanpa disangka tiga orang ikhwan muncul dari belokan. Hampir saja aku menabrak salah satu dari mereka. Saking sibuknya memegangi jilbab sampai tak sadar kalau ada orang di depan. Untung Irna sigap menarikku.
Oh, tidak! Dia lagi. Kenapa harus ketemu dia dalam keadaan berantakan seperti ini? Masih sempat kudengar permintaan maaf salah seorang dari mereka. Tapi pikiranku mendadak blank.
“Ayo, Mbak. Lho, kok, malah bengong?” Irna menarik tanganku.
Aku tergagap.
“Jangan-jangan Mbak Risa ngeliatin Mas Huda, ya?”
Tuh kan, si Irna mulai usil. “Bukan, sok tahu deh!” Aku mencubit tangannya.
“Hahaha, kalau dicubit tandanya tebakanku betul!”
Entah bagaimana rupaku sekarang, pasti merah mirip kepiting rebus. Untung saja tebakannya salah.
Selamat, selamat.
 ***
Diary Dania. Halaman masjid. Sabtu pagi.
Ini saatnya penentuan. Tiga hari adalah waktu yang cukup untuk berpikir dan beristikharah. Semoga keputusan yang kuambil benar. Bismilllahirahmannirahim...
“Assalamu’alaikum, Ustadzah,” sapaku menghentikan langkah Ustadzah Halimah yang baru selesai shalat dhuha.
“Wa’alaikumsalam,” senyum Ustadzah Halimah. “Ndak kerja, Nak Dania?”
“Masuk siang, nanti jam satu.” Sesaat aku merasa iri pada ‘kemudaan’ Ustadzah Halimah . Usia beliau sudah melampaui setengah abad, tapi sedikit sekali terlihat kerut di wajahnya. Apakah itu buah dari seringnya terkena air wudhu? Atau karena pribadinya yang sabar sehingga marah tak sempat menarik garis wajahnya?
“Kita ke ruang tarbiyah saja. Kebetulan di sana kosong,” ajak Ustadzah Halimah. Aku mengangguk dan mengikuti beliau. Jilbab putih lebarnya melambai terkena angin di selasar masjid. Tiba-tiba aku merasa gugup dan berdebar-debar. Aduh, padahal bukan mau nikah sekarang.
“Silahkan, saya siap mendengarkan.” Kami sekarang berada di pojok, samping lemari buku. Aku mendadak kehilangan kata-kata. Padahal sudah kususun sejak semalam. Namun dihadapan Ustadzah aku merasa berat untuk membuka mulut. Hilang kemana keberanianku?
“Bukankah ini tentang pembicaraan kita beberapa hari yang lalu?” tebak beliau. Aku tersenyum, mengangguk malu.
“Saya... saya ingin memberikan jawabannya.”
***
Diary Arrisa. Masjid, sabtu waktu dhuha.
Jilbab sudah rapi. Aku berpisah dengan Irna, ada kuliah. Ah, aku juga ingin kuliah tapi apa daya, penghasilan bapak tidak cukup untuk biaya kuliah yang selangit. Bisa makan tiga kali sehari saja aku sangat bersyukur.
Bapak dan Ibu sudah renta, sementara mbak dan mas pergi merantau. Pulang hanya saat lebaran. Jadilah aku si bungsu yang menemani mereka. Sudah dua tahun aku bekerja di lembaga amil zakat masjid sebagai tenaga administrasi. Ibu senang sekali aku bisa bekerja disini, jadi tidak perlu jauh-jauh merantau. Sekalian siapa tahu dapat jodoh ustadz, kata ibu.
Saat melewati ruang tarbiyah, aku melihat Dania bersama Ustadzah Halimah keluar dari pintu.
Kadang aku merasa aneh sendiri. sebenarnya aku menyukai Dania karena dia baik, pintar, dan shalihah. Namun kelebihannya juga membuatku kadang membencinya. Ingin rasanya sesekali lebih unggul. Tapi untuk pergi, aku tidak bisa. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan teman sebaik dia lagi.
“Dan!” panggilku.
Dania menoleh, seulas senyum tersungging diwajahnya. Lihat, betapa manisnya dia. Gantungan kunci berbentuk kucing pemberianku bulan lalu, terayun-ayun di tasnya.
“Ada privat, ya?” tanyaku.
Dania menaikkan alis. Bingung.
“Ustadzah Halimah, kalian habis privat tahsin?” tanyaku lagi.
Sedetik kemudian Dania menggeleng. “Bukan, ada keperluan sedikit.”
“Aku kira habis belajar ngaji. Nanti malam datang? Ada pengajian akbar.” Aku berharap bisa bersamanya. Sudah beberapa hari kami jarang bertemu.
“Wah, aku masuk siang. Ikut tapi nggak bisa dari awal, swalayan tutup jam 9. Ba’da Isya, kan?”
Aku mengangguk. Pantas jam segini masih dimasjid, tidak kerja.
“Kalau pas datang nanti sms, ya? Aku tunggu di serambi samping,” ujarku.
Dania mengangguk. Aku menangkap mendung dimata yang biasa bersinar. Apa ada yang terjadi?
***
Diary Dania. Angkutan kota, menuju tempat kerja.
Angkot yang kutumpangi masih menunggu penumpang penuh. Hari sudah beranjak siang. Panas matahari menerobos kaca jendela angkot yang dipenuhi debu.
Tiba-tiba aku merasa bersalah pada Risa. Dia tidak kuberitahu sedkitpun masalah ini. tidak juga yang dulu-dulu. Aku hanya ingin menjaga perasaan orang yang telah kutolak ajakannya. Jangan sampai gagal taaruf menjadi semacam noda hitam di baju putih. Membuatnya jadi bahan pembicaraan, si anu di tolak si ini.
 Meski disembunyikan aku tahu Ustadzah kecewa atas keputusanku.
“Maaf, saya tidak bisa,” kataku lirih
Aku hanya bisa bilang hati ini belum mantap menerima Ikhsan. Berkali-kali shlalat istikharah hasilnya sama. Apa ini karena sejak awal aku sudah berat sebelah?
Suami yang kuinginkan bukanlah orang yang gampang mengumbar semua kegiatannya di jejaring sosial. Bukan orang yang mudah meng-upload foto kegiatan bakti sosial yang dilakukannya. Bukan pula orang yang berkomentar dan bercanda dengan lawan jenis hingga membuat salah tafsir, meski hanya di dunia maya.
Bukan,bukan yang seperti itu. Aku memimpikan laki-laki shalih yang menjaga ucapan dan perbuatannya. Bagaikan air tenang namun di bawahnya mengalir arus deras yang mengikis semua kotoran. Melakukan perubahan tanpa perlu menyebut nama.
Situs jejaring sosial, tempat orang menumpahkan apa yang dirasakan dan dipikirkan, seringkali adalah refleksi jujur dari diri. Apa yang tidak bisa dikatakan di kehidupan nyata akan menjadi mudah saat di dunia maya. Mengungkapkan sejujurnya pendapat dan persepsinya.
Dan akhirnya Ikhsan bukanlah laki-laki yang kuimpikan menjadi imam.
***
Diary Arrisa.
Ba’da Isya masjid mulai ramai oleh jamaah. Kali ini pembicaranya adalah ustadz yang kerap muncul di layar kaca. Tak heran jumlah jamaah membludak, lebih dari biasanya.
Dekorasi panggun pun terlihat lebih semarak. Menghadirkan suasana baru pengajian yang lebih hidup dan bersemangat. Di kejauhan seorang ikhwan sedang sibuk memberikan arahan. Koko putihnya tampak cerah tertimpa lampu.
 Ya, Allah kenapa aku jadi sesak setiap melihatnya? Berkali-kali memalingkan wajah, namun seperti ada yang menarik kembali. Apakah Ikhsan adalah orang yang ditakdirkan sebagai jodohku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar