Diary Arrisa.
Kafe La Tansa, samping masjid. Selasa pagi.
Hari ini aku berbicara lagi dengannya. Masih soal kemarin. Tentang
pria idaman yang kelak akan jadi suami.
“Yang utama itu baik agama dan punyai pemikiran serupa
denganku,” katanya mantap.
“Walau mukanya pas-pasan?” tanyaku sangsi.
“Pas ganteng maksudnya? Alhamdulillah mudah-mudahan mirip
Keanu Reeves saat masih muda,” dia tertawa.
“Tapi yang penting itu yang ada di dalam sini.” Tangannya
menunjuk dahi.
“Kamu tahu susahnya ngomong dengan orang yang pikiran dan
cara pandangnya bertolak belakang dengan kita? Hah, bikin malas saja!”
lanjutnya gemas. Sepertinya dia pernah bertemu dengan orang yang ber-’tolak
belakang’ dengannya.
Salah satu ciri khasnya, gaya bicara lugas dan tak suka
berbelit-belit.
“ Aku suka yang dewasa dan tenang. Tidak gampang terpancing
emosi. Tidak pula mudah menyalahkan orang lain,” jawabnya sambil menyeruput jus
alpukat.
Aku mengangguk-angguk. Kafe belum terlalu ramai, masih pagi.
Hanya ada beberapa orang yang menempati meja kotak dengan taplak motif bunga. Kafe
dikelola oleh pengurus masjid. Dengan bantuan beberapa juru masak, kafe ini
menyuguhkan menu yang rasanya tak kalah dengan kafe-kafe lain. Ada soto, bakso,
nasi goreng, dan berbagai macam jus. Menurutku yang paling enak adalah soto
babatnya. Mantaap.
“Lalu kamu sendiri suka yang seperti apa?” tanyanya
mengagetkanku.
Aku tersenyum, “Ya, yang sholeh,” jawabku singkat. Tiba-tiba
bayangan seorang ikhwan berkelebat. Entah mengapa akhir-akhir ini seperti ada
magnet dalam otakku. Sehingga setiap mendengar kata suami selalu sosoknya yang
melintas di kepalaku.
“Masa cuma sholeh aja, nggak ada yang lain?” tanyanya dengan
bola mata membulat. Mata bening yang bisa membuat orang berkaca di dalamnya.
Aku jadi salah tingkah. “Apa, sih? Ya... baik dan sopan,” tambahku.
Tak enak rasanya jadi pusat pandangan matanya. Pandangan mata yang sering
membuatku terpaksa jujur.
“Kita sama, dong. Tapi kayaknya belum ada yang memenuhi
standarku,” katanya lebih pada dirinya sendiri.
Pasti seperti itu. Kriteria yang diimpikan seseorang selalu
tidak jauh dari dirinya sendiri. Setiap orang ingin mencari pasangan yang sama
dan sederajat. Atau yang lebih tinggi. Bagi seorang wanita suami adalah imam
yang harus diikuti. Segala keputusannya harus dipatuhi. Bahkan untuk shaum
sunnah pun harus seijin suami.
Wajar jika ingin yang lebih atau paling tidak sama. Sekufu.
Sama pintarnya, sama baiknya, sama sabarnya, atau sama cakepnya.
Meski sama-sama lulusan SMA tapi pengetahuannya jauh
melampauiku. Dia tahu teknologi, berita terkini, tahu orang-orang penting
dunia, dan menyerap cepat materi kajian. Tak banyak yang tahu kalau dia sudah
menjadi kontributor tetap sebuah majalah islami, selain bekerja sebagai kasir
di swalayan.
Diam-diam tersimpan rasa iri dalam hatiku. Iri akan semua
kelebihan yang ia miliki. Termasuk
keberaniannya. Pernah dia terang-terang tidak setuju saat ketua panitia yang
terkenal angker memutuskan tema kajian bulanan. Meski bukan pengurus inti tapi
Dia berani menyuarakan pendapatnya dan membuat muka ketua panitia memerah.
***
Diary Dania.
Kamar tidur, di depan komputer. Rabu malam.
Fiuhh... akhirnya artikel untuk majalah bulan depan selesai.
Lebih cepat dari biasanya. Sekitar butuh seminggu untuk mencari bahan, membuat
kerangka, dan menulis. Sekarang tinggal mengirim ke redaksi. Besok sebelum
masuk kerja, aku akan mampir warnet dulu.
Menggeliat sejenak, melemaskan otot yang kaku. Kapan ya
terakhir kali berolah raga? Badan rasanya pegal-pegal semua. Padahal masih muda
tapi kok sudah sering pegal-pegal?
Muda? Aku tersenyum sendiri. apakah 25 tahun masih tergolong
muda? Ah, iya tadi pagi Ustadzah mengatakan sesuatu padaku. Ini sudah ketiga
kalinya beliau menawarkan. Jadi tak enak sendiri. Sampai kapan menolak terus?
“itu usia yang cukup untuk menikah. Kalau terlalu lama
menunggu, kesempatan baik akan hilang,” ucap ustadzah.
Pada saat itu aku hanya bisa tersenyum mengiyakan. Tak ingin
aku berdebat masalah usia dengan Ustadzah Halimah yang biasa mengajariku tahsin
ini. Ustadzah Halimah sudah kuanggap sebagai ibu keduaku.
Ikhsan. Itulah nama pria yang disebut Ustadzah tadi pagi
setelah kultum subuh.Ustadz Rizal, suami Ustadzah Halimah, mendapat permintaan
dari Ikhsan agar menjadi perantara dalam proses taarufnya denganku.
Ikhsan bukan orang baru dalam hidupku. Setidaknya aku sudah
mengenal dia sejak SMP. Kami pernah satu kelas dan mengobrol beberapa kali. Setelah
SMP dia melanjutkan ke pondok pesantren di luar kota, otomatis komunikasi kami
terputus. Beberapa tahun kemudian kami bertemu lagi karena sama-sama aktif di
masjid.
Sejujurnya aku tidak
merasakan ‘apa-apa’ terhadap dirinya. Perasaan tertarik atau simpati belum
pernah singgah di pikiranku. Tiba-tiba saja aku menerima kabar mengejutkan itu.
Aku mengatakan akan memikirkannya terlebih dahulu. Tujuan taaruf adalah
pernikahan dan masalah pernikahan bukan hal yang sepele, kan?
***
Diary Arrisa. Teras masjid, depan papan pengumuman. Sabtu
pagi.
“Mbak, kapan nih?” seorang gadis mungil bernama Irna
mencolek tanganku.
“Apanya?” Aku menoleh. Sejak kapan dia ada di sini?
“Nikah, dong. Setiap bulan Mbak jadi panitia kajian
munakahat, masa nyuruh orang lain nikah sementara panitianya masih jomblo.”
Irna mengedipkan mata. Wajahnya yang bulat mengingatkanku pada boneka salju.
Aku tertawa hambar. Pasti dikiranya aku sedang membaca
artikel pernikahan di majalah dinding ini.
“Menganjurkan orang lain mengerjakan kebaikan juga mendapat
pahala. Jadi kalau nanti jamaah banyak yang melengkapi setengah dien mereka
malaikat akan menulis pahala untuk Mbak juga,” jawabku. Bukannya aku tak mau
menikah, tapi calonnya yang belum ada, batinku.
“Tapi lebih afdhol kalau yang menganjurkan mengerjakan
terlebih dulu. Pasti pahalanya dobel.” Sahut Irna tak mau kalah.
“Iya, deh. Kamu menang,” Kalau urusan berdebat anak ini
susah dilawan. Maklum mantan’ aktivis’ lomba debat antar sekolah.
Irna mesem-mesem,“Jilbabnya kok agak berantakan, Mbak?”
Aku meraba jilbabku, pantas rasanya tadi ada yang aneh. “Tadi
berangkatnya buru-buru, asal pakai aja.” Aduh kenapa tambah amburadul gini, ya?
“Kalau gitu ke toilet aja, Mbak. Kebetulan saya juga mau
sana.”
Aku mengangguk. Toilet wanita ada di samping masjid.
Malam nanti ada jadwal pengajian akbar, aku harus ikut.
Minggu lalu aku terpaksa bolos karena Ibu tiba-tiba sakit dan minta ditemani.
Saat melewati serambi depan masjid tanpa disangka tiga orang
ikhwan muncul dari belokan. Hampir saja aku menabrak salah satu dari mereka.
Saking sibuknya memegangi jilbab sampai tak sadar kalau ada orang di depan.
Untung Irna sigap menarikku.
Oh, tidak! Dia lagi. Kenapa harus ketemu dia dalam keadaan
berantakan seperti ini? Masih sempat kudengar permintaan maaf salah seorang
dari mereka. Tapi pikiranku mendadak blank.
“Ayo, Mbak. Lho, kok, malah bengong?” Irna menarik tanganku.
Aku tergagap.
“Jangan-jangan Mbak Risa ngeliatin Mas Huda, ya?”
Tuh kan, si Irna mulai usil. “Bukan, sok tahu deh!” Aku
mencubit tangannya.
“Hahaha, kalau dicubit tandanya tebakanku betul!”
Entah bagaimana rupaku sekarang, pasti merah mirip kepiting
rebus. Untung saja tebakannya salah.
Selamat, selamat.
***
Diary Dania. Halaman masjid. Sabtu pagi.
Ini saatnya penentuan. Tiga hari adalah waktu yang cukup
untuk berpikir dan beristikharah. Semoga keputusan yang kuambil benar.
Bismilllahirahmannirahim...
“Assalamu’alaikum, Ustadzah,” sapaku menghentikan langkah
Ustadzah Halimah yang baru selesai shalat dhuha.
“Wa’alaikumsalam,” senyum Ustadzah Halimah. “Ndak kerja, Nak
Dania?”
“Masuk siang, nanti jam satu.” Sesaat aku merasa iri pada
‘kemudaan’ Ustadzah Halimah . Usia beliau sudah melampaui setengah abad, tapi
sedikit sekali terlihat kerut di wajahnya. Apakah itu buah dari seringnya
terkena air wudhu? Atau karena pribadinya yang sabar sehingga marah tak sempat
menarik garis wajahnya?
“Kita ke ruang tarbiyah saja. Kebetulan di sana kosong,”
ajak Ustadzah Halimah. Aku mengangguk dan mengikuti beliau. Jilbab putih
lebarnya melambai terkena angin di selasar masjid. Tiba-tiba aku merasa gugup
dan berdebar-debar. Aduh, padahal bukan mau nikah sekarang.
“Silahkan, saya siap mendengarkan.” Kami sekarang berada di
pojok, samping lemari buku. Aku mendadak kehilangan kata-kata. Padahal sudah
kususun sejak semalam. Namun dihadapan Ustadzah aku merasa berat untuk membuka
mulut. Hilang kemana keberanianku?
“Bukankah ini tentang pembicaraan kita beberapa hari yang
lalu?” tebak beliau. Aku tersenyum, mengangguk malu.
“Saya... saya ingin memberikan jawabannya.”
***
Diary Arrisa. Masjid, sabtu waktu dhuha.
Jilbab sudah rapi. Aku berpisah dengan Irna, ada kuliah. Ah,
aku juga ingin kuliah tapi apa daya, penghasilan bapak tidak cukup untuk biaya
kuliah yang selangit. Bisa makan tiga kali sehari saja aku sangat bersyukur.
Bapak dan Ibu sudah renta, sementara mbak dan mas pergi
merantau. Pulang hanya saat lebaran. Jadilah aku si bungsu yang menemani
mereka. Sudah dua tahun aku bekerja di lembaga amil zakat masjid sebagai tenaga
administrasi. Ibu senang sekali aku bisa bekerja disini, jadi tidak perlu
jauh-jauh merantau. Sekalian siapa tahu dapat jodoh ustadz, kata ibu.
Saat melewati ruang tarbiyah, aku melihat Dania bersama
Ustadzah Halimah keluar dari pintu.
Kadang aku merasa aneh sendiri. sebenarnya aku menyukai
Dania karena dia baik, pintar, dan shalihah. Namun kelebihannya juga membuatku
kadang membencinya. Ingin rasanya sesekali lebih unggul. Tapi untuk pergi, aku
tidak bisa. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan teman sebaik dia lagi.
“Dan!” panggilku.
Dania menoleh, seulas senyum tersungging diwajahnya. Lihat,
betapa manisnya dia. Gantungan kunci berbentuk kucing pemberianku bulan lalu, terayun-ayun
di tasnya.
“Ada privat, ya?” tanyaku.
Dania menaikkan alis. Bingung.
“Ustadzah Halimah, kalian habis privat tahsin?” tanyaku
lagi.
Sedetik kemudian Dania menggeleng. “Bukan, ada keperluan
sedikit.”
“Aku kira habis belajar ngaji. Nanti malam datang? Ada
pengajian akbar.” Aku berharap bisa bersamanya. Sudah beberapa hari kami jarang
bertemu.
“Wah, aku masuk siang. Ikut tapi nggak bisa dari awal,
swalayan tutup jam 9. Ba’da Isya, kan?”
Aku mengangguk. Pantas jam segini masih dimasjid, tidak
kerja.
“Kalau pas datang nanti sms, ya? Aku tunggu di serambi
samping,” ujarku.
Dania mengangguk. Aku menangkap mendung dimata yang biasa
bersinar. Apa ada yang terjadi?
***
Diary Dania. Angkutan kota, menuju tempat kerja.
Angkot yang kutumpangi masih menunggu penumpang penuh. Hari
sudah beranjak siang. Panas matahari menerobos kaca jendela angkot yang
dipenuhi debu.
Tiba-tiba aku merasa bersalah pada Risa. Dia tidak
kuberitahu sedkitpun masalah ini. tidak juga yang dulu-dulu. Aku hanya ingin
menjaga perasaan orang yang telah kutolak ajakannya. Jangan sampai gagal taaruf
menjadi semacam noda hitam di baju putih. Membuatnya jadi bahan pembicaraan, si
anu di tolak si ini.
Meski disembunyikan
aku tahu Ustadzah kecewa atas keputusanku.
“Maaf, saya tidak bisa,” kataku lirih
Aku hanya bisa bilang hati ini belum mantap menerima Ikhsan.
Berkali-kali shlalat istikharah hasilnya sama. Apa ini karena sejak awal aku
sudah berat sebelah?
Suami yang kuinginkan bukanlah orang yang gampang mengumbar
semua kegiatannya di jejaring sosial. Bukan orang yang mudah meng-upload foto
kegiatan bakti sosial yang dilakukannya. Bukan pula orang yang berkomentar dan
bercanda dengan lawan jenis hingga membuat salah tafsir, meski hanya di dunia
maya.
Bukan,bukan yang seperti itu. Aku memimpikan laki-laki
shalih yang menjaga ucapan dan perbuatannya. Bagaikan air tenang namun di
bawahnya mengalir arus deras yang mengikis semua kotoran. Melakukan perubahan
tanpa perlu menyebut nama.
Situs jejaring sosial, tempat orang menumpahkan apa yang
dirasakan dan dipikirkan, seringkali adalah refleksi jujur dari diri. Apa yang
tidak bisa dikatakan di kehidupan nyata akan menjadi mudah saat di dunia maya.
Mengungkapkan sejujurnya pendapat dan persepsinya.
Dan akhirnya Ikhsan bukanlah laki-laki yang kuimpikan
menjadi imam.
***
Diary Arrisa.
Ba’da Isya masjid mulai ramai oleh jamaah. Kali ini
pembicaranya adalah ustadz yang kerap muncul di layar kaca. Tak heran jumlah
jamaah membludak, lebih dari biasanya.
Dekorasi panggun pun terlihat lebih semarak. Menghadirkan
suasana baru pengajian yang lebih hidup dan bersemangat. Di kejauhan seorang
ikhwan sedang sibuk memberikan arahan. Koko putihnya tampak cerah tertimpa
lampu.
Ya, Allah kenapa aku
jadi sesak setiap melihatnya? Berkali-kali memalingkan wajah, namun seperti ada
yang menarik kembali. Apakah Ikhsan adalah orang yang ditakdirkan sebagai
jodohku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar