“Sri, Mbok meninggal,” Dini
menelepon pagi buta.
“Innalillahi wa innailahi
roji’un, kapan, Din?” tanya Sri.
“Tadi malam, sekitar jam dua.
Aku juga baru dapat kabar dari Bapak.”
Dini mengajak Sri pulang. Mereka
bekerja di kota yang sama, merantau meninggalkan kampung halaman demi merajut
masa depan. Bedanya Dini bekerja di ruang bersih dan ber-AC sedangkan Sri harus
bergumul dengan pakaian bayi.
“Kenapa tiba-tiba Mbok...?”
Seingat Sri Mbok tidak pernah mengeluh sakit.
“Kemarin Mbok jatuh dikamar
mandi. Jadi Bapak nginap di rumah Mbok, malam-malam Bapak dengar suara dari
kamarnya Mbok, dan..” Dini menarik napas panjang. “Mbok jatuh dari ranjang, Sri.”
***
Sri menghela napas berat. Adzan shubuh
bergema dari mushola yang terletak di ujung jalan.
Ada perasaan hampa dalam dada
Sri. Dia tak merasakan apa-apa. Bersedih pun tidak, seolah berita itu seperti
pengumuman pemerintah akan kenaikan BBM. Biasa terjadi dan tidak perlu
diratapi.
Sebuah suara di kepalanya
berteriak, menuduhnya. Dasar cucu tidak
berperasaan! Bagaimana bisa kamu tak bersedih mendengar Mbokmu meninggal? Apa
hatimu terbuat dari batu? Seburuk apapun dia itu tetap Mbokmu, ibunya Bapakmu!
Kenangan masa kecil menyergap Sri.
Bagai slide-slide yang terus berputar membangkitkan rasa kecewa dan merana yang
selama ini Ia kubur dalam-dalam.
Mbok selalu menjadikannya cucu
‘kelas dua’. Mbok lebih memilih Dini. Lebih sayang Dini. Bagi Mbok Sri seperti
bayangan, ada tapi tak dianggap.
Saat sekolah dasar, Mbok tidak
mau membelikan pensil baru jika pensilnya belum pendek dan tak bisa dipegang
lagi. Sepatunya seringkali kebesaran karena Mbok membelikan dua nomor lebih
besar agar cukup sampai dua tahun ajaran. Bila robek maka Mbok akan menjahitkannya
ke tukang sol sepatu sambil menggerutu sepanjang jalan.
Tapi kalau Dini? Pensilnya bagus
dan berwarna-warni. Sepatunya pun pas. Saat lebaran Dini yang selalu
dibanggakan di depan saudara-saudara.
Jadi aku tak bersalah kalau aku tak bersedih. Kenapa dulu Mbok
memperlakukanku seperti itu? Seharusnya Mbok menyayangiku seperti Dini.
***
“Cepat kembali, toko sedang
ramai. Kita kekurangan orang, mengerti?” ujar Tacik pemilik toko yang keturunan
cina.
Sri mengangguk, setelah
mengucapkan terima kasih Ia segera pergi.
Sri naik angkot jurusan terminal.
Di sana Ia akan ketemu Dini. Angkot menderu pelan, meliuk-liuk membelah
keramaian kota Surabaya. Jalanan Surabaya pagi dipenuhi dengan orang-orang yang
terburu-buru sampai di tempat kerja, kampus, atau sekolah
Dini berdiri di depan pintu
masuk terminal. Dini melambaikan tangan begitu melihat Sri turun dari angkot.
“Ayo, Sri. Itu bis jurusan Pandaan.”
Tanpa banyak kata Sri menjejeri
langkah Dini. Bau parfum menguar dari tubuhnya. Manis dan segar.
Ah tentu saja, gajinya sebagai sekretaris di
perusahaan asing pasti bisa untuk membeli parfum mahal, batin Sri.
Mereka mendapat tempat duduk di
belakang sopir. Sri senang duduk di sana, karena ia bisa melihat jalanan yang
ada di depan. Mengurangi mabuk perjalanan yang kerap menghinggapinya.
Dini menyodorkan kotak kecil
berisi permen.
“Ini bisa mengurangi mabuk.”
Sri mengambil satu dan
mengucapkan terima kasih. Setelah itu hening diantara mereka. Sibuk dengan
pikiran masing-masing. Hanya keramaian terminal yang membuat Sri tetap sadar
bahwa Ia akan pulang.
Bagi Sri Kampung halaman bukan
tempat yang membuatnya rindu. Banyak luka dan perasaan tersisihkan di sana.
Saat lulus SMA, Mbok menjual
separuh kebun belakang untuk biaya kuliah Dini. Sedangkan Sri harus puas dengan
ijazah SMK yang dimilikinya. Padahal ia pun ingin kuliah, namun Mbok tak mau
membiayainya.
Sri terpaksa mengubur impiannya menjadi
perancang busana dan menghadapi kenyataan. Suatu hari Sri nekat bertanya kenapa
Mbok bertindak begitu tidak adil.
“Sejak kecil Mbok lebih sayang Dini
daripada aku? Kenapa? Bukankah aku ini juga cucu Mbok?”
Mbok memalingkan muka. Diam
bagai patung walau Sri terus menuntut penjelasan. Sri tak menyerah, Ia lalu bertanya
pada bapaknya Dini, Paklik Sukri.
“Cerita lama, Sri. Sudah jangan
diungkit lagi,” jawab Paklik Sukri. Wajahnya nampak muram.
“Ndak, bisa, Paklik. Sejak kecil
aku merasa tak disayangi. Apa aku ini anak pungut?”
Melihat wajah memelas Sri, pamannya
menyerah, “Baiklah, Sri. Memang sudah saatnya kamu tahu.”
Lalu ceritapun mengalir, tentang
ayahnya yang menikahi ibunya tanpa restu Mbok. Tentang kepergian ibunya saat
Sri berumur dua tahun. Sejak saat itu Bapak Sri jadi sering mabuk-mabukan.
Hingga beberapa bulan sepulang pesta minum-minum, sepeda motor bapaknya menabrak
pohon.
Mbok menyalahkan ibunya Sri
sehingga anaknya jadi pemabuk dan mati dalam kecelakaan.
Bis melaju kencang. Meyalip
mobil-mobil dan sepeda motor di depannya. Bila dilihat dari dalam bis
mobil-mobil itu tampak kecil dan pendek.
Dini sibuk ber-BBM ria. Wajahnya
disapu make up tipis. Ingin sekali sebenarnya Sri memebenci sepupunya itu. Kesenjangan
kasih sayang membuat Sri iri dan sakit hati.
Sri merasa selama ini Ia
hanyalah seorang tamu yang tidak diharapkan kehadirannya. Diabaikan dan disisihkan.
Namun, Dini bukanlah orang yang mudah dibenci. Dini selalu bersikap baik pada
Sri. Sering membagikan makanan yang diam-diam diberikan Mbok, memberi uang
sakunya, dan membela Sri saat dimarahi Mbok.
Kenapa kau tidak bersikap sebaliknya? Sehingga aku bisa membencimu
dengan mudah, desah Sri.
“Sri, gimana rasanya pakai
jilbab?” Dini membuyarkan lamunan Sri. Wajahnya menghadap Sri sepenuhnya.
Sri tergagap.
“Maksudku, panas nggak? Aku juga
pengen pakai tapi di kantor nggak boleh.”
Sri memutuskan pakai jilbab
setahun lalu. Saat melihat temannya banyak yang berjilbab tiba-tiba keinginan itu
muncul.
“Emm... awalnya sih, iya. Tapi
lama-lama biasa kok.” Selain itu Sri juga merasa sejak berjilbab laki-laki yang
suka menggodanya di jalan jadi berkurang.
***
Rumah Mbok tidak banyak berubah.
Beberapa pot cocor bebek dan kaktus tampak berjejer di halaman depan. Pohon
bougenville yang sering Sri petik bunganya masih tegak berdiri. Hanya saja
rumah itu sekarang tampak lengang.
Bapak dan ibu Dini menyambut
mereka. Mbok sudah dikuburkan satu jam lalu. Sebenarnya Paklik Sukri ingin
menunda sampai cucunya datang, tapi karena sudah terlalu siang maka jenazah
harus segera dimakamkan.
Sri menuju kamar Mbok. Harum
bunga tercium. Beberapa foto usang tergantung di dinding. Foto Mbok dan Mbah
saat masih muda. Ada juga foto Dini saat balita.
Sri tahu tak ada tempat
untuknya. Tak ada ruang tersisa tempat menggantung potret dirinya. Apa yang
bisa dikenang dari seorang cucu yang ibunya pergi dengan laki-laki lain?
“Sri, kemarilah,” panggil Paklik
Sukri.
Sri keluar, menuju pamannya yang
duduk di bangku kayu.
Paklik Sukri mengeluarkan sebuah
cincin dari dompet kecil. Cincin emas bermata putih.
“Sebelum pergi ibumu
meninggalkan cincin itu agar bisa dijual kalau Simbok butuh uang. Tapi Mbok ingin
memberikannya saat kamu menikah nanti. Sayang mbok keburu pergi sebelum sempat
melihatmu memakainya.”
Sri terpana menatap cincin
ditangannya. Raut wajah mbok yang keras kembali terbayang.
“Dan ini sertifikat tanah
disamping rumah Simbok. Atas nama ayahmu. Mbok membagi dua tanah peninggalan Bapak.
Punya Paklik sudah dijual buat biaya kuliah Dini.”
Sri membeku, dibiarkannya Paklik
Sukri menaruh sertifikat itu dipangkuannya. Mbok tak pernah menyinggung
sedikitpun soal ini.
“Dulu Paklik pernah bilang supaya
tanah ini dijual saja, buat kuliah kamu. Tapi Simbok ndak setuju. Katanya biar kamu bisa bangun rumah disana. Oalah Sri,
sebenarnya simbok selama ini memikirkanmu. Kok jadi jarang pulang, padahal dulu
kamu begitu manut.”
Ada butiran bening menetes di
pipi Sri. Kenapa harus seterlambat ini?
“Wajahmu itu, lho, yang bikin
simbok suka kesal. Mirip banget sama ibumu. Tidak mudah bagi Mbok merawat cucu
dari perempuan yang tak direstuinya.Tapi Mbok juga tak bisa mengabaikan darah
Kang Samin yang mengalir dalam tubuhmu, Sri.”
Hari ini paklik bercerita
banyak. Sri diam saja, pikirannya melayang-layang. Menyusuri kejadian masa
silam. Dan akhirnya, dia temukan bahwa selama ini Sri tidak begitu mengenal
Mbok.