Jumat, 26 Oktober 2012

Cerpen3: Kenangan Tentang Mbok



“Sri, Mbok meninggal,” Dini menelepon pagi buta.
“Innalillahi wa innailahi roji’un, kapan, Din?” tanya Sri.
“Tadi malam, sekitar jam dua. Aku juga baru dapat kabar dari Bapak.”
Dini mengajak Sri pulang. Mereka bekerja di kota yang sama, merantau meninggalkan kampung halaman demi merajut masa depan. Bedanya Dini bekerja di ruang bersih dan ber-AC sedangkan Sri harus bergumul dengan pakaian bayi.
“Kenapa tiba-tiba Mbok...?” Seingat Sri Mbok tidak pernah mengeluh sakit.
“Kemarin Mbok jatuh dikamar mandi. Jadi Bapak nginap di rumah Mbok, malam-malam Bapak dengar suara dari kamarnya Mbok, dan..” Dini menarik napas panjang. “Mbok  jatuh dari ranjang, Sri.”
***
Sri menghela napas berat. Adzan shubuh bergema dari mushola yang terletak di ujung jalan.
Ada perasaan hampa dalam dada Sri. Dia tak merasakan apa-apa. Bersedih pun tidak, seolah berita itu seperti pengumuman pemerintah akan kenaikan BBM. Biasa terjadi dan tidak perlu diratapi.
Sebuah suara di kepalanya berteriak, menuduhnya. Dasar cucu tidak berperasaan! Bagaimana bisa kamu tak bersedih mendengar Mbokmu meninggal? Apa hatimu terbuat dari batu? Seburuk apapun dia itu tetap Mbokmu, ibunya Bapakmu!
Kenangan masa kecil menyergap Sri. Bagai slide-slide yang terus berputar membangkitkan rasa kecewa dan merana yang selama ini Ia kubur dalam-dalam.
Mbok selalu menjadikannya cucu ‘kelas dua’. Mbok lebih memilih Dini. Lebih sayang Dini. Bagi Mbok Sri seperti bayangan, ada tapi tak dianggap.
Saat sekolah dasar, Mbok tidak mau membelikan pensil baru jika pensilnya belum pendek dan tak bisa dipegang lagi. Sepatunya seringkali kebesaran karena Mbok membelikan dua nomor lebih besar agar cukup sampai dua tahun ajaran. Bila robek maka Mbok akan menjahitkannya ke tukang sol sepatu sambil menggerutu sepanjang jalan.
Tapi kalau Dini? Pensilnya bagus dan berwarna-warni. Sepatunya pun pas. Saat lebaran Dini yang selalu dibanggakan di depan saudara-saudara.
Jadi aku tak bersalah kalau aku tak bersedih. Kenapa dulu Mbok memperlakukanku seperti itu? Seharusnya Mbok menyayangiku seperti Dini.
***
“Cepat kembali, toko sedang ramai. Kita kekurangan orang, mengerti?” ujar Tacik pemilik toko yang keturunan cina.
Sri mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih Ia segera pergi.
Sri naik angkot jurusan terminal. Di sana Ia akan ketemu Dini. Angkot menderu pelan, meliuk-liuk membelah keramaian kota Surabaya. Jalanan Surabaya pagi dipenuhi dengan orang-orang yang terburu-buru sampai di tempat kerja, kampus, atau sekolah
Dini berdiri di depan pintu masuk terminal. Dini melambaikan tangan begitu melihat Sri turun dari angkot.
“Ayo, Sri. Itu bis jurusan Pandaan.”
Tanpa banyak kata Sri menjejeri langkah Dini. Bau parfum menguar dari tubuhnya. Manis dan segar.
 Ah tentu saja, gajinya sebagai sekretaris di perusahaan asing pasti bisa untuk membeli parfum mahal, batin Sri.
Mereka mendapat tempat duduk di belakang sopir. Sri senang duduk di sana, karena ia bisa melihat jalanan yang ada di depan. Mengurangi mabuk perjalanan yang kerap menghinggapinya.
Dini menyodorkan kotak kecil berisi permen.
“Ini bisa mengurangi mabuk.”
Sri mengambil satu dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu hening diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya keramaian terminal yang membuat Sri tetap sadar bahwa Ia akan pulang.
Bagi Sri Kampung halaman bukan tempat yang membuatnya rindu. Banyak luka dan perasaan tersisihkan di sana.
Saat lulus SMA, Mbok menjual separuh kebun belakang untuk biaya kuliah Dini. Sedangkan Sri harus puas dengan ijazah SMK yang dimilikinya. Padahal ia pun ingin kuliah, namun Mbok tak mau membiayainya.
 Sri terpaksa mengubur impiannya menjadi perancang busana dan menghadapi kenyataan. Suatu hari Sri nekat bertanya kenapa Mbok bertindak begitu tidak adil.
“Sejak kecil Mbok lebih sayang Dini daripada aku? Kenapa? Bukankah aku ini juga cucu Mbok?”
Mbok memalingkan muka. Diam bagai patung walau Sri terus menuntut penjelasan. Sri tak menyerah, Ia lalu bertanya pada bapaknya Dini, Paklik Sukri.
“Cerita lama, Sri. Sudah jangan diungkit lagi,” jawab Paklik Sukri. Wajahnya nampak muram.
“Ndak, bisa, Paklik. Sejak kecil aku merasa tak disayangi. Apa aku ini anak pungut?”
Melihat wajah memelas Sri, pamannya menyerah, “Baiklah, Sri. Memang sudah saatnya kamu tahu.”
Lalu ceritapun mengalir, tentang ayahnya yang menikahi ibunya tanpa restu Mbok. Tentang kepergian ibunya saat Sri berumur dua tahun. Sejak saat itu Bapak Sri jadi sering mabuk-mabukan. Hingga beberapa bulan sepulang pesta minum-minum, sepeda motor bapaknya menabrak pohon.
Mbok menyalahkan ibunya Sri sehingga anaknya jadi pemabuk dan mati dalam kecelakaan.
Bis melaju kencang. Meyalip mobil-mobil dan sepeda motor di depannya. Bila dilihat dari dalam bis mobil-mobil itu tampak kecil dan pendek.
Dini sibuk ber-BBM ria. Wajahnya disapu make up tipis. Ingin sekali sebenarnya Sri memebenci sepupunya itu. Kesenjangan kasih sayang membuat Sri iri dan sakit hati.
Sri merasa selama ini Ia hanyalah seorang tamu yang tidak diharapkan kehadirannya. Diabaikan dan disisihkan. Namun, Dini bukanlah orang yang mudah dibenci. Dini selalu bersikap baik pada Sri. Sering membagikan makanan yang diam-diam diberikan Mbok, memberi uang sakunya, dan membela Sri saat dimarahi Mbok.
Kenapa kau tidak bersikap sebaliknya? Sehingga aku bisa membencimu dengan mudah, desah Sri.
“Sri, gimana rasanya pakai jilbab?” Dini membuyarkan lamunan Sri. Wajahnya menghadap Sri sepenuhnya.
Sri tergagap.
“Maksudku, panas nggak? Aku juga pengen pakai tapi di kantor nggak boleh.”
Sri memutuskan pakai jilbab setahun lalu. Saat melihat temannya banyak yang berjilbab tiba-tiba keinginan itu muncul.
“Emm... awalnya sih, iya. Tapi lama-lama biasa kok.” Selain itu Sri juga merasa sejak berjilbab laki-laki yang suka menggodanya di jalan jadi berkurang.
***
Rumah Mbok tidak banyak berubah. Beberapa pot cocor bebek dan kaktus tampak berjejer di halaman depan. Pohon bougenville yang sering Sri petik bunganya masih tegak berdiri. Hanya saja rumah itu sekarang tampak lengang.
Bapak dan ibu Dini menyambut mereka. Mbok sudah dikuburkan satu jam lalu. Sebenarnya Paklik Sukri ingin menunda sampai cucunya datang, tapi karena sudah terlalu siang maka jenazah harus segera dimakamkan.
Sri menuju kamar Mbok. Harum bunga tercium. Beberapa foto usang tergantung di dinding. Foto Mbok dan Mbah saat masih muda. Ada juga foto Dini saat balita.
Sri tahu tak ada tempat untuknya. Tak ada ruang tersisa tempat menggantung potret dirinya. Apa yang bisa dikenang dari seorang cucu yang ibunya pergi dengan laki-laki lain?
“Sri, kemarilah,” panggil Paklik Sukri.
Sri keluar, menuju pamannya yang duduk di bangku kayu.
Paklik Sukri mengeluarkan sebuah cincin dari dompet kecil. Cincin emas bermata putih.
“Sebelum pergi ibumu meninggalkan cincin itu agar bisa dijual kalau Simbok butuh uang. Tapi Mbok ingin memberikannya saat kamu menikah nanti. Sayang mbok keburu pergi sebelum sempat melihatmu memakainya.”
Sri terpana menatap cincin ditangannya. Raut wajah mbok yang keras kembali terbayang.
“Dan ini sertifikat tanah disamping rumah Simbok. Atas nama ayahmu. Mbok membagi dua tanah peninggalan Bapak. Punya Paklik sudah dijual buat biaya kuliah Dini.”
Sri membeku, dibiarkannya Paklik Sukri menaruh sertifikat itu dipangkuannya. Mbok tak pernah menyinggung sedikitpun soal ini.
“Dulu Paklik pernah bilang supaya tanah ini dijual saja, buat kuliah kamu. Tapi Simbok ndak setuju. Katanya biar kamu bisa bangun rumah disana. Oalah Sri, sebenarnya simbok selama ini memikirkanmu. Kok jadi jarang pulang, padahal dulu kamu begitu manut.”
Ada butiran bening menetes di pipi Sri. Kenapa harus seterlambat ini?
“Wajahmu itu, lho, yang bikin simbok suka kesal. Mirip banget sama ibumu. Tidak mudah bagi Mbok merawat cucu dari perempuan yang tak direstuinya.Tapi Mbok juga tak bisa mengabaikan darah Kang Samin yang mengalir dalam tubuhmu, Sri.”
Hari ini paklik bercerita banyak. Sri diam saja, pikirannya melayang-layang. Menyusuri kejadian masa silam. Dan akhirnya, dia temukan bahwa selama ini Sri tidak begitu mengenal Mbok.

Rabu, 24 Oktober 2012

Cerpen2: Tak Semulus Jalan Kota


“Dek, jangan main disana. Panas!” Bu Arifin menarik paksa tangan anaknya yang tengah asyik melihat seekor kucing
“Sudah mama bilang jangan panas-panasan, nggak mau dengar. Lihat Dek Hanif aja mainnya anteng!”
Mendengar nama Hanif disebut reflek sebuah senyuman tersungging di wajahku. Aku meragukan Bu Arifin bersungguh-sungguh menjadikan anakku sebagai contoh anak ‘baik’. Hampir semua orang di komplek tahu kalau anakku suka berlari kesana-kemari. Padahal umurnya baru satu setengah tahun.
 “Tidak apa-apa, Bu, namanya juga anak-anak,” Aku mencoba menengahi. Ada rasa iba saat gadis cilik itu dimarahi ibunya karena persoalan sepele. Seandainya Aliya seperti Hanif, mungkin Bu Arifin sudah terkena serangan jantung.
“Aliya memang nakal, Bu. Susah dikasih tahu. Jangan main kotor-kotoran, tapi malah main pasir. Lihat bajunya kotor gara-gara duduk sembarangan.” Bu Arifin menepuk-nepuk rok Aliya. Tubuh kecilnya berguncang-guncang akibat tepukan ibunya. Tak ada perlawanan atau rengekan. Sebenarnya Aliya anak yang manis, tapi apapun yang dilakukannya selalu dianggap sebagai kenakalan oleh ibunya.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang trainer Hypnoparenting, “Seorang anak sampai dia berusia 6 tahun seperti spons. Dia akan menyerap semua informasi yang diterima, jika orang tua sering berkata anaknya nakal, malas, atau susah diatur, dan diucapkan berulang-ulang maka itu akan tersimpan dialam bawah sadarnya. Jadi jangan heran kalau anak menjadi benar-benar nakal, malas, dan suka membantah.”
Wajah polos dengan mata bening Aliya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Benarkah semua akan terserap ke memori otaknya?
“Huaa..!” Sebuah tangisan melengking membuyarkan pikiranku. Masya Allah! Hanif jatuh tersungkur, rupanya terantuk batu. Ku usap-usap kepalanya yang terbentur tanah. Hal seperti ini seringkali terjadi, sedikit saja lengah Hanif bisa terjatuh, tersandung, atau terguling.
“Dek Anip kok nangis, Ma?” suara cadel Aliya bertanya pada Ibunya.
“Dek Hanif jatuh main mobil-mobilan. Kalau Aliya nggak mau nurutin Mama nanti jatuh seperti Dek Hanif, ngerti?” ujar Bu Arifin sembari menuntun Aliya pulang.
***
Hanif baru saja tertidur. Ah, saat-saat seperti ini sungguh damai. Inilah saatnya aku bisa merasakan nikmatnya meluruskan punggung. Sedikit memberi waktu kepada tubuh mengumpulkan tenaga kembali. Sebelum menyongsong kegiatan rutin berikutnya seperti mencuci baju, cuci piring, mengepel, dan macam-macam. Semua itu tak bisa dikerjakan saat Hanif bangun, karena ia akan ikut ‘membantu’ yang justru semakin membuat berantakan.
Aku tak ingin terbiasa melarangnya melakukan sesuatu. Jadi lebih baik pekerjaan rumah dikerjakan saat ia terbuai mimpi.
Mempunyai anak balita sungguh menguras tenaga. Jauh lebih capek daripada menjadi buruh pabrik. Pantas saja banyak ibu-ibu yang lebih nyaman menggaji baby sitter.
“Aku ingin kau di rumah saja, mengurus anak-anak kita. Biarlah aku yang mencari nafkah. Anak yang hidup tanpa kasih sayang ibunya sungguh menderita.”
Itu adalah permintaan suamiku saat awal menikah dulu. Pengalam hidup yang selalu ditinggal ibunya bekerja membuatnya sedikit trauma.
Akhirnya aku melepaskan posisi asisten manajer di sebuah perusahaan susu yang telah kurintis selama 7 tahun. Dari buruh pabrik rendahan sampai kemudian menduduki posisi itu bukan sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.
Walau sangat merepotkan dan melelahkan tapi menjadi ibu tetap membahagiakan. Apalagi sekarang program parenting sedang digalakkan dimana-mana. Rasanya jadi lebih bersemangat dan bersabar menghadapi tingkah Hanif yang sering ‘aneh-aneh’.
Hanif suka bermain air di depan rumah. Karena sebelumnya sempat kubaca bahwa bermain air membuat anak cerdas, maka kubiarkan Hanif bermain sampai puas. Baju dan rambutnya basah. Saat melihatnya tertawa-tawa aku juga ikut merasakan bahagia.
Berbeda denganku dulu saat masih kecil. Ibu sering melarangku ini-itu. Bermain pasir tidak boleh, mengejar kucing dilarang, tak pakai sandal dimarahi. Rasanya banyak sekali yang tak boleh kulakukan. Aku harus selalu jadi anak perempuan yang manis, penurut, dan bersih.
“Bu, Hanif nanti masuk angin, lho, kalau main air.” Demikian komentar Bu Irawan saat lewat depan rumah.
“Lihat bajumu basah semua, Dek. Sudah jangan main air lagi,” Tegur Bu Deni yang sebenarnya ditujukan padaku. Mungkin dalam hatinya ia heran mengapa anak kecil dibiarkan berbasah-basah.
“Sekarang sedang musim batuk dan pilek, Bu. Nanti Dek Hanif sakit, lho, kalau dibiarkan terus.” Kali ini Bu Joko ikut menyumbang saran. Sementara disampingnya, anaknya memperhatikan Hanif tak berkedip.
Aku tersenyum sambil menjawab, “Iya, Bu.” Tak mungkin kukatakan kalau ada penelitian yang mengatakan bahwa main air membuat otak cerdas. Bisa-bisa cap sok tahu menempel di dahiku.
Apalagi statusku ‘hanya’ ibu rumah tangga, bukan dokter, psikolog, atau pegawai pemerintah. Meski pernah kuliah tapi kalau tidak lulus dan tidak punya pekerjaan di luar rumah, biasanya dianggap kurang berbobot.
“Sabar, Dik. Menjadi berbeda memang tidak mudah. Lagipula anak kita tidak sama dengan anak orang lain,” sahut suamiku saa aku menceritakan pengalaman mendapat banyak kritik dan masukkan.
“Keluarga kita punya pedoman sendiri dalam mendidik Hanif. Kita harus melakukan apa yang kita yakini benar,” lanjutnya.
***
Pulang membeli minyak goreng  di toko kelontong ada selebaran yang kutemukan tanpa sengaja. Tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Disana tertulis besar-besar “TIGA RESEP JITU MENDIDIK ANAK AGAR SUKSES DI MASA DEPAN”. Dibawahnya ada nama pembicara, waktu dan tempat.
Hampir saja aku berteriak kegirangan.  Begitu sampai di rumah segera kuberitahu suamiku. Tanpa sadar selebaran itu sudah kusut dan basah oleh keringat akibat genggaman tanganku terlalu kuat. Sejak kecil tanganku selalu berkeringat bila senang atau cemas.
Suamiku tak keberatan menjaga Hanif di rumah  selama aku ikut seminar. Dulu waktu pengajian bersama Hanif hampir tidak bisa berkonsentrasi. Aku terlalu sibuk menjaga anak.
Tiba-tiba sebuah ide muncul, bagaimana kalau ibu-ibu komplek diajak juga? Supaya ibu-ibu juga tahu bahwa mendidik anak perlu ilmu. Esoknya saat arisan, kusampaikan tentang seminar itu. Sekalian mengajak agar para ibu bisa ikut serta.
“Berapa biayanya, Bu Farid?” tanya Bu Ari yang ada di pojok.
“Gratis, Bu, yang mengadakan dinas pendidikan. Tinggal daftar saja,” jawabku.
Begitu mendengar kata ‘gratis’ wajah acuh ibu-ibu mulai berubah.
“Beneran gratis, Bu? Nanti sampai sana suruh bayar,” sangsi Bu Deni.
“Saya sudah telepon dan tanya-tanya. Insya Allah tidak bayar.”
“Sesekali hari minggu ikut seminar, Bu. Bosan juga, kan, kalau jalan-jalan di mall terus,” tambahku memanasi.
***
Ibu-ibu sudah berkumpul di depan gerbang komplek. Lengkap dengan dandanan masing-masing. Aku tersenyum sendiri, mau ikut seminar atau fashion show, ya? Segala merk tas terbaru bergantungan ditangan yang dihiasi gelang emas atau jam tangan mahal. Beruntung Bu Jody dan Bu Agus bersedia meminjamkan mobil, itung-itung menghemat ongkos transport.
Begitu mobil datang, kami langsung menuju balai pertemuan kota tempat seminar diadakan. Acara yang dijadwalkan selesai dalam 2 jam molor sampai 3 jam, banyak ibu yang antusias bertanya pada pembicara. Sepertinya kesadaran memperbaiki pola didik yang selama ini salah mulai tumbuh.
 “Masa sih, saya selama ini salah mengasuh anak?” gumam Bu Irawan saat perjalanan pulang.
“Katanya harus sabar menghadapi anak, tapi Billy kalau nggak dikerasin nggak mau nurut. Dihalusin malah ngelunjak,” timpal Bu Jody. Billy memang terkenal sebagai ‘jagoan kecil’ komplek.
“Sudah Bu, jangan terlalu dipikirin. Mertua saya dulu katanya juga galak, tapi anak-anaknya berhasil semua. Ada yang jadi pilot, dokter, dan pengacara,” Bu Deni menambahi.
 “Iya, jaman dulu orang tua kita juga nggak pernah ada yang ngajarin, tapi coba lihat sekarang kita tetap bisa hidup, kan?”
Terdengar gumam setuju di dalam mobil. Aku menghela napas, melepas pandangan keluar jendela mengamati jalanan. Jalan perubahan memang tidak semulus jalan kota ini.

Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen1: Diary-ku, Diary-mu


Diary Arrisa.
Kafe La Tansa, samping masjid. Selasa pagi.
Hari ini aku berbicara lagi dengannya. Masih soal kemarin. Tentang pria idaman yang kelak akan jadi suami.
“Yang utama itu baik agama dan punyai pemikiran serupa denganku,” katanya mantap.
“Walau mukanya pas-pasan?” tanyaku sangsi.
“Pas ganteng maksudnya? Alhamdulillah mudah-mudahan mirip Keanu Reeves saat masih muda,” dia tertawa.
“Tapi yang penting itu yang ada di dalam sini.” Tangannya menunjuk dahi.
“Kamu tahu susahnya ngomong dengan orang yang pikiran dan cara pandangnya bertolak belakang dengan kita? Hah, bikin malas saja!” lanjutnya gemas. Sepertinya dia pernah bertemu dengan orang yang ber-’tolak belakang’ dengannya.
Salah satu ciri khasnya, gaya bicara lugas dan tak suka berbelit-belit.       
“ Aku suka yang dewasa dan tenang. Tidak gampang terpancing emosi. Tidak pula mudah menyalahkan orang lain,” jawabnya sambil menyeruput jus alpukat.
Aku mengangguk-angguk. Kafe belum terlalu ramai, masih pagi. Hanya ada beberapa orang yang menempati meja kotak dengan taplak motif bunga. Kafe dikelola oleh pengurus masjid. Dengan bantuan beberapa juru masak, kafe ini menyuguhkan menu yang rasanya tak kalah dengan kafe-kafe lain. Ada soto, bakso, nasi goreng, dan berbagai macam jus. Menurutku yang paling enak adalah soto babatnya. Mantaap.
“Lalu kamu sendiri suka yang seperti apa?” tanyanya mengagetkanku.
Aku tersenyum, “Ya, yang sholeh,” jawabku singkat. Tiba-tiba bayangan seorang ikhwan berkelebat. Entah mengapa akhir-akhir ini seperti ada magnet dalam otakku. Sehingga setiap mendengar kata suami selalu sosoknya yang melintas di kepalaku.
“Masa cuma sholeh aja, nggak ada yang lain?” tanyanya dengan bola mata membulat. Mata bening yang bisa membuat orang berkaca di dalamnya.
Aku jadi salah tingkah. “Apa, sih? Ya... baik dan sopan,” tambahku. Tak enak rasanya jadi pusat pandangan matanya. Pandangan mata yang sering membuatku terpaksa jujur.
“Kita sama, dong. Tapi kayaknya belum ada yang memenuhi standarku,” katanya lebih pada dirinya sendiri.
Pasti seperti itu. Kriteria yang diimpikan seseorang selalu tidak jauh dari dirinya sendiri. Setiap orang ingin mencari pasangan yang sama dan sederajat. Atau yang lebih tinggi. Bagi seorang wanita suami adalah imam yang harus diikuti. Segala keputusannya harus dipatuhi. Bahkan untuk shaum sunnah pun harus seijin suami.
Wajar jika ingin yang lebih atau paling tidak sama. Sekufu. Sama pintarnya, sama baiknya, sama sabarnya, atau sama cakepnya.
Meski sama-sama lulusan SMA tapi pengetahuannya jauh melampauiku. Dia tahu teknologi, berita terkini, tahu orang-orang penting dunia, dan menyerap cepat materi kajian. Tak banyak yang tahu kalau dia sudah menjadi kontributor tetap sebuah majalah islami, selain bekerja sebagai kasir di swalayan.
Diam-diam tersimpan rasa iri dalam hatiku. Iri akan semua kelebihan yang  ia miliki. Termasuk keberaniannya. Pernah dia terang-terang tidak setuju saat ketua panitia yang terkenal angker memutuskan tema kajian bulanan. Meski bukan pengurus inti tapi Dia berani menyuarakan pendapatnya dan membuat muka ketua panitia memerah.
***
Diary Dania.
Kamar tidur, di depan komputer. Rabu malam.
Fiuhh... akhirnya artikel untuk majalah bulan depan selesai. Lebih cepat dari biasanya. Sekitar butuh seminggu untuk mencari bahan, membuat kerangka, dan menulis. Sekarang tinggal mengirim ke redaksi. Besok sebelum masuk kerja, aku akan mampir warnet dulu.
Menggeliat sejenak, melemaskan otot yang kaku. Kapan ya terakhir kali berolah raga? Badan rasanya pegal-pegal semua. Padahal masih muda tapi kok sudah sering pegal-pegal?
Muda? Aku tersenyum sendiri. apakah 25 tahun masih tergolong muda? Ah, iya tadi pagi Ustadzah mengatakan sesuatu padaku. Ini sudah ketiga kalinya beliau menawarkan. Jadi tak enak sendiri. Sampai kapan menolak terus?
“itu usia yang cukup untuk menikah. Kalau terlalu lama menunggu, kesempatan baik akan hilang,” ucap ustadzah.
Pada saat itu aku hanya bisa tersenyum mengiyakan. Tak ingin aku berdebat masalah usia dengan Ustadzah Halimah yang biasa mengajariku tahsin ini. Ustadzah Halimah sudah kuanggap sebagai ibu keduaku.
Ikhsan. Itulah nama pria yang disebut Ustadzah tadi pagi setelah kultum subuh.Ustadz Rizal, suami Ustadzah Halimah, mendapat permintaan dari Ikhsan agar menjadi perantara dalam proses taarufnya denganku.
Ikhsan bukan orang baru dalam hidupku. Setidaknya aku sudah mengenal dia sejak SMP. Kami pernah satu kelas dan mengobrol beberapa kali. Setelah SMP dia melanjutkan ke pondok pesantren di luar kota, otomatis komunikasi kami terputus. Beberapa tahun kemudian kami bertemu lagi karena sama-sama aktif di masjid.
 Sejujurnya aku tidak merasakan ‘apa-apa’ terhadap dirinya. Perasaan tertarik atau simpati belum pernah singgah di pikiranku. Tiba-tiba saja aku menerima kabar mengejutkan itu. Aku mengatakan akan memikirkannya terlebih dahulu. Tujuan taaruf adalah pernikahan dan masalah pernikahan bukan hal yang sepele, kan?
***
Diary Arrisa. Teras masjid, depan papan pengumuman. Sabtu pagi.
“Mbak, kapan nih?” seorang gadis mungil bernama Irna mencolek tanganku.
“Apanya?” Aku menoleh. Sejak kapan dia ada di sini?
“Nikah, dong. Setiap bulan Mbak jadi panitia kajian munakahat, masa nyuruh orang lain nikah sementara panitianya masih jomblo.” Irna mengedipkan mata. Wajahnya yang bulat mengingatkanku pada boneka salju.
Aku tertawa hambar. Pasti dikiranya aku sedang membaca artikel pernikahan di majalah dinding ini.
“Menganjurkan orang lain mengerjakan kebaikan juga mendapat pahala. Jadi kalau nanti jamaah banyak yang melengkapi setengah dien mereka malaikat akan menulis pahala untuk Mbak juga,” jawabku. Bukannya aku tak mau menikah, tapi calonnya yang belum ada, batinku.
“Tapi lebih afdhol kalau yang menganjurkan mengerjakan terlebih dulu. Pasti pahalanya dobel.” Sahut Irna tak mau kalah.
“Iya, deh. Kamu menang,” Kalau urusan berdebat anak ini susah dilawan. Maklum mantan’ aktivis’ lomba debat antar sekolah.
Irna mesem-mesem,“Jilbabnya kok agak berantakan, Mbak?”
Aku meraba jilbabku, pantas rasanya tadi ada yang aneh. “Tadi berangkatnya buru-buru, asal pakai aja.” Aduh kenapa tambah amburadul gini, ya?
“Kalau gitu ke toilet aja, Mbak. Kebetulan saya juga mau sana.”
Aku mengangguk. Toilet wanita ada di samping masjid.
Malam nanti ada jadwal pengajian akbar, aku harus ikut. Minggu lalu aku terpaksa bolos karena Ibu tiba-tiba sakit dan minta ditemani.
Saat melewati serambi depan masjid tanpa disangka tiga orang ikhwan muncul dari belokan. Hampir saja aku menabrak salah satu dari mereka. Saking sibuknya memegangi jilbab sampai tak sadar kalau ada orang di depan. Untung Irna sigap menarikku.
Oh, tidak! Dia lagi. Kenapa harus ketemu dia dalam keadaan berantakan seperti ini? Masih sempat kudengar permintaan maaf salah seorang dari mereka. Tapi pikiranku mendadak blank.
“Ayo, Mbak. Lho, kok, malah bengong?” Irna menarik tanganku.
Aku tergagap.
“Jangan-jangan Mbak Risa ngeliatin Mas Huda, ya?”
Tuh kan, si Irna mulai usil. “Bukan, sok tahu deh!” Aku mencubit tangannya.
“Hahaha, kalau dicubit tandanya tebakanku betul!”
Entah bagaimana rupaku sekarang, pasti merah mirip kepiting rebus. Untung saja tebakannya salah.
Selamat, selamat.
 ***
Diary Dania. Halaman masjid. Sabtu pagi.
Ini saatnya penentuan. Tiga hari adalah waktu yang cukup untuk berpikir dan beristikharah. Semoga keputusan yang kuambil benar. Bismilllahirahmannirahim...
“Assalamu’alaikum, Ustadzah,” sapaku menghentikan langkah Ustadzah Halimah yang baru selesai shalat dhuha.
“Wa’alaikumsalam,” senyum Ustadzah Halimah. “Ndak kerja, Nak Dania?”
“Masuk siang, nanti jam satu.” Sesaat aku merasa iri pada ‘kemudaan’ Ustadzah Halimah . Usia beliau sudah melampaui setengah abad, tapi sedikit sekali terlihat kerut di wajahnya. Apakah itu buah dari seringnya terkena air wudhu? Atau karena pribadinya yang sabar sehingga marah tak sempat menarik garis wajahnya?
“Kita ke ruang tarbiyah saja. Kebetulan di sana kosong,” ajak Ustadzah Halimah. Aku mengangguk dan mengikuti beliau. Jilbab putih lebarnya melambai terkena angin di selasar masjid. Tiba-tiba aku merasa gugup dan berdebar-debar. Aduh, padahal bukan mau nikah sekarang.
“Silahkan, saya siap mendengarkan.” Kami sekarang berada di pojok, samping lemari buku. Aku mendadak kehilangan kata-kata. Padahal sudah kususun sejak semalam. Namun dihadapan Ustadzah aku merasa berat untuk membuka mulut. Hilang kemana keberanianku?
“Bukankah ini tentang pembicaraan kita beberapa hari yang lalu?” tebak beliau. Aku tersenyum, mengangguk malu.
“Saya... saya ingin memberikan jawabannya.”
***
Diary Arrisa. Masjid, sabtu waktu dhuha.
Jilbab sudah rapi. Aku berpisah dengan Irna, ada kuliah. Ah, aku juga ingin kuliah tapi apa daya, penghasilan bapak tidak cukup untuk biaya kuliah yang selangit. Bisa makan tiga kali sehari saja aku sangat bersyukur.
Bapak dan Ibu sudah renta, sementara mbak dan mas pergi merantau. Pulang hanya saat lebaran. Jadilah aku si bungsu yang menemani mereka. Sudah dua tahun aku bekerja di lembaga amil zakat masjid sebagai tenaga administrasi. Ibu senang sekali aku bisa bekerja disini, jadi tidak perlu jauh-jauh merantau. Sekalian siapa tahu dapat jodoh ustadz, kata ibu.
Saat melewati ruang tarbiyah, aku melihat Dania bersama Ustadzah Halimah keluar dari pintu.
Kadang aku merasa aneh sendiri. sebenarnya aku menyukai Dania karena dia baik, pintar, dan shalihah. Namun kelebihannya juga membuatku kadang membencinya. Ingin rasanya sesekali lebih unggul. Tapi untuk pergi, aku tidak bisa. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan teman sebaik dia lagi.
“Dan!” panggilku.
Dania menoleh, seulas senyum tersungging diwajahnya. Lihat, betapa manisnya dia. Gantungan kunci berbentuk kucing pemberianku bulan lalu, terayun-ayun di tasnya.
“Ada privat, ya?” tanyaku.
Dania menaikkan alis. Bingung.
“Ustadzah Halimah, kalian habis privat tahsin?” tanyaku lagi.
Sedetik kemudian Dania menggeleng. “Bukan, ada keperluan sedikit.”
“Aku kira habis belajar ngaji. Nanti malam datang? Ada pengajian akbar.” Aku berharap bisa bersamanya. Sudah beberapa hari kami jarang bertemu.
“Wah, aku masuk siang. Ikut tapi nggak bisa dari awal, swalayan tutup jam 9. Ba’da Isya, kan?”
Aku mengangguk. Pantas jam segini masih dimasjid, tidak kerja.
“Kalau pas datang nanti sms, ya? Aku tunggu di serambi samping,” ujarku.
Dania mengangguk. Aku menangkap mendung dimata yang biasa bersinar. Apa ada yang terjadi?
***
Diary Dania. Angkutan kota, menuju tempat kerja.
Angkot yang kutumpangi masih menunggu penumpang penuh. Hari sudah beranjak siang. Panas matahari menerobos kaca jendela angkot yang dipenuhi debu.
Tiba-tiba aku merasa bersalah pada Risa. Dia tidak kuberitahu sedkitpun masalah ini. tidak juga yang dulu-dulu. Aku hanya ingin menjaga perasaan orang yang telah kutolak ajakannya. Jangan sampai gagal taaruf menjadi semacam noda hitam di baju putih. Membuatnya jadi bahan pembicaraan, si anu di tolak si ini.
 Meski disembunyikan aku tahu Ustadzah kecewa atas keputusanku.
“Maaf, saya tidak bisa,” kataku lirih
Aku hanya bisa bilang hati ini belum mantap menerima Ikhsan. Berkali-kali shlalat istikharah hasilnya sama. Apa ini karena sejak awal aku sudah berat sebelah?
Suami yang kuinginkan bukanlah orang yang gampang mengumbar semua kegiatannya di jejaring sosial. Bukan orang yang mudah meng-upload foto kegiatan bakti sosial yang dilakukannya. Bukan pula orang yang berkomentar dan bercanda dengan lawan jenis hingga membuat salah tafsir, meski hanya di dunia maya.
Bukan,bukan yang seperti itu. Aku memimpikan laki-laki shalih yang menjaga ucapan dan perbuatannya. Bagaikan air tenang namun di bawahnya mengalir arus deras yang mengikis semua kotoran. Melakukan perubahan tanpa perlu menyebut nama.
Situs jejaring sosial, tempat orang menumpahkan apa yang dirasakan dan dipikirkan, seringkali adalah refleksi jujur dari diri. Apa yang tidak bisa dikatakan di kehidupan nyata akan menjadi mudah saat di dunia maya. Mengungkapkan sejujurnya pendapat dan persepsinya.
Dan akhirnya Ikhsan bukanlah laki-laki yang kuimpikan menjadi imam.
***
Diary Arrisa.
Ba’da Isya masjid mulai ramai oleh jamaah. Kali ini pembicaranya adalah ustadz yang kerap muncul di layar kaca. Tak heran jumlah jamaah membludak, lebih dari biasanya.
Dekorasi panggun pun terlihat lebih semarak. Menghadirkan suasana baru pengajian yang lebih hidup dan bersemangat. Di kejauhan seorang ikhwan sedang sibuk memberikan arahan. Koko putihnya tampak cerah tertimpa lampu.
 Ya, Allah kenapa aku jadi sesak setiap melihatnya? Berkali-kali memalingkan wajah, namun seperti ada yang menarik kembali. Apakah Ikhsan adalah orang yang ditakdirkan sebagai jodohku?