Senin, 12 November 2012

Cerpen 4: Tumbal



Ruangan itu tidak terlalu besar, berukuran 2 x 3 meter. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu bohlam berukuran 5 Watt. Bersinar redup kekuning-kuningan. Asap kemenyan memenuhi ruangan, membuat sesak. Mengepul tanpa henti dari tembikar kecil yang di dalamnya berisi kemenyan yang dibakar. Di sekelilingnya berbagai macam benda aneh ditata teratur. Bunga tujuh rupa, darah ayam hitam, keris kecil, empedu ular, segelas kopi hitam, beras ketan dan boneka yang terbuat dari batang padi mirip boneka voodoo.
Seorang laki-laki separuh baya, duduk di depan benda-benda tadi. Tangannya bergerak di antara asap kemenyan yang membumbung tinggi. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit menggumamkan kalimat-kalimat aneh. Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya. Tubuhnya bergetar, awalnya pelan tapi semakin lama semakin keras. Mulutnya tambah gencar melafalakan kalimat-kalimat yang tak jelas berbunyi apa.
            Ruangan semakin penuh dengan asap hingga tak menyisakan ruang untuk udara segar. Mata sang laki-laki terbuka, Tangannya. kemudian meraih boneka batang padi. Diasapinya sebentar di atas kemenyan, lalu boneka itu diangkat dengan kedua tangannya hati-hati. Seperti mengangkat bayi yang sedang tertidur. Dihadapkan lurus didepan wajahnya. Pandangan matanya tajam, menusuk. Ada pancaran kebencian dan kepuasan sekaligus.
            Tangan kanannya meraih keris yang berada di samping bunga tujuh rupa. Dengan gerakan pelan keris itu menghujam ke perut boneka. Seketika itu dari dalam perut boneka keluar darah. Keris semakin ditekan ke dalam dan darahpun semakin banyak. Lalu keris dicabut, boneka diletakkan di atas cawan. Darah memancar keluar seperti air mancur selama beberapa detik, kemudian berhenti dan hilang sama sekali, seolah tidak pernah ada darah disana…
*****

            Astagfirullah… Bapak!!!!!” Suara seorang wanita memecah kesunyian di malam buta. Anak-anaknya yang sedang tertidur, bangun ketakutan. Suara jeritan wanita tadi berubah menjadi tangisan yang menyayat hati. Anak-anaknya semakin ketakutan.
            “Ibu…!” Sontak kedua bocah perempuan yang masih berumur 8 dan 6 tahun itu berlari ke kamar ibunya.
             Ibunya duduk bersimpuh di samping ayah mereka yang terbaring di atas kasur berlumuran darah. Tangan ibunya mengguncang-guncang tubuh ayah yang tak bergerak. Si bungsu ikut menangis, sang kakak yang entah mendapat dorongan dari mana memeluk adiknya. Ia juga menangis. Tangisan mereka bertiga membangunkan tetangga di sekitar rumah.
            “Bu, Bu Warsi, buka pintunya! Ada apa, Bu?” Pintu depan diketuk orang. Tak ada jawaban. Beberapa laki-laki datang berkerumun di depan rumah. Pintu rumah kembali diketuk, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban, hanya terdengar tangisan ibu dan anak dari dalam. Warga akhirnya nekat dan mendobrak pintu rumah.
            Warga yang berhasil masuk langsung menuju kamar Bu Warsi. Mereka semua terkejut melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
            Astagfirullahal ‘adzim…
            Innalillahi wa innalillahi roji’uun…”
*****

            Rumah Bu Warsi berselimut duka. Di depan pintu pagar sebuah bendera putih terpasang. Para tetangga berdatangan untuk melayat. Sebagian duduk di depan menunggu jenazah diberangkatkan. Beberapa orang laki-laki sedang memandikan jenazah, beberapa lagi menyiapkan proses penguburan. Bu Warsi terduduk lemas di kamarnya ditemani tiga orang tetangga wanita. Mereka berusaha menghibur Bu Warsi yang terpukul sekali dengan kepergian suaminya. Padahal baru kemarin sore mereka makan bersama kedua anaknya. Tapi takdir Allah begitu cepat dan tak disangka-sangka.
            Tadi malam suaminya tiba-tiba membangunkannya minta dikipasi. Gerah, katanya. Bu warsi heran, padahal cuaca malam ini begitu dingin sampai-sampai membuat bulu kuduk berdiri.
            “Dingin-dingin begini kok gerah to, Pak?” BuWarsi mengusap wajahnya menghilangkan kantuk.
            “Panas sekali, Bu. Sungguh. Bapak seperti sedang dipanggang.” Suaminya berkata sambil mengusap peluh yang bercucuran di wajah dan lehernya. Bu Warsi mengambil handuk kecil, menyeka keringat suaminya, lalu dikipasainya sebentar.
            “Bu, Bapak haus, tolong ambilkan minum.” Bu Warsi berjalan ke dapur mengambil segelas air putih. Belum sempat kakinya menginjak dapur, tiba-tiba suaminya berteriak. Bergegas Bu Warsi kembali ke kamarnya. Betapa terkejutnya ia, saat ia melihat suaminya terkapar dengan darah memancar keluar dari perutnya. Sempat dilihatnya suminya seperti hendak mengatakan sesuatu namun sebelum ia bisa berkata matanya telah tertutup. Sejak saat itu suaminya diam, tak lagi bergerak.
            Bu Warsi pingsan. Ibu-ibu yang menemaninya panik. Tubuh Bu Warsi dibaringkan di atas dipan kayu. Wajahnya dikipasi dan hidungnya diolesi minyak angin.
            “Nyebut, War! Ingat sama Gusti Allah.”                                                                                                                                                          
            “Tabahkan hatimu, War. Ikhlaskan kepergian suamimu.”
            Bu Warsi siuman. Tangisnya kembali pecah. Sekarang siapa yang akan menghidupi keluarga? Siapa yang akan memberi makan kedua anaknya? Siapa lagi yang akan menemaninya saat susah dan senang?
            Jenazah telah selesai dimandikan. Kemudian dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan di ruang tamu untuk dishalati. Pelayat semakin ramai berdatangan. Di antara mereka banyak yang berbisik-bisik tentang kematian Pak Karto, suami Bu Warsi yang tidak wajar. Ada yang menduga diganggu setan, dibunuh oleh makhluk jadi-jadian, korban santet atau teluh, bahkan ada yang berpendapat ulah dari para leluhur desa yang lama tidak diberi sesajen.
            Dahulu di desa setiap tahun diadakan upacara bersih desa, yaitu dengan memberikan sesaji pada para leluhur yang konon bersemayam di pohon beringin belakang balai desa. Namun, lambat laun kebiasaan itu mulai ditinggalkan. Para warga yang lebih paham tentang agama mengetahui bahwa itu termasuk syirik. Awalnya peniadaan upacara bersih desa mendapat reaksi keras dari tetua desa. Mereka mengatakan leluhur akan marah dan desa bisa tertimpa musibah yang besar. Tapi dengan pengertian dari para pemuda yang kebanyakan jebolan pondok pesantren, akhirnya tetua desa menyetujui meski dengan berat hati.
            “Apa dulu saya bilang, leluhur kita pasti akan marah karena tidak ada lagi ritual bersih desa. Inilah puncak kemarahan mereka, sehingga nyawa salah satu warga kita dijadikan tumbal.” Mbah Trimo, salah satu tetua desa berkomentar pada sekumpulan laki-laki yang duduk di bawah pohon mangga depan rumah Bu Warsi.
            “Memang sudah kehendak Allah Pak Karto meninggal, Mbah.” Ujar salah seorang pemuda desa yang berusia 20-an, Sapto.
            “Ah, kamu itu tahu apa? Dulu desa kita aman-aman saja. Tidak ada kejadian aneh seperti ini. Panen juga setiap tahun berhasil. Sekarang coba lihat! Panen kemarin banyak yang gagal karena hama wereng. Hujan yang setiap tahun datang tepat waktu, sekarang jadi seenaknya sendiri, tidak bisa dikira-kira. Keadaan desa ini semakin kacau saja,” bela Mbah Trimo.
            “Kalau masalah hama mungkun karena padi kita bukan termasuk jenis padi yang tahan hama. Jadi gampang terserang. Lagipula selama ini para petani kita jarang menggunakan insektisida. Kalau hujan yang tidak teratur, bisa jadi karena keadaan alam yang sudah semakin rusak. Kata orang-orang global warming atau pemanasan global, Mbah.” Chandra, satu-satunya pemuda yang melanjutkan  pendidikan ke universitas di kota mencoba memberi penjelasan.
            “Kamu juga ikut-ikutan. inikah yang kamu dapat dari sekolahmu di kota itu? Menggurui orang tua?” Mbah Trimo tampak tidak senang.
            “Maaf , Mbah bukan maksud saya…” Perkataan Chandra terhenti.
            “Tapi, menurut saya Pak Karto itu terkena santet,” Pak Banu tiba-tiba angkat bicara.
            “Terkena santet bagaimana?” tanya Sapto keheranan.
            “Iya terkena santet, dulu di kampung istri saya pernah ada orang meninggal dengan aneh. Dari kuping, telinga, dan mulutnya keluar darah disertai pecahan kaca. Satu kampung geger. Setelah diusut ternyata itu salah satu perbuatan tetangganya yang dendam karena pernah dihina,” jawab Pak Banu.
            Sapto manggut-manggut. “Memang kematian Pak Karto aneh sekali. Tadi kebetulan saya bertemu ibu yang dari tadi malam menemani Bu Warsi. Saat saya tanya bagaimana Pak Karto meninggal katanya malam-malam Pak Karto bangun mengeluh kepanasan. Waktu Bu Warsi pergi untuk mengambil air minum, Pak Karto berteriak dan dari perutnya keluar banyak darah yang tidak bisa berhenti. Seperti air mancur.”
            “Nah, benar dugaan saya, Pak Karto pasti disantet orang,” imbuh Pak Banu bersemangat, mendapat dukungan.
            “Sudahlah Pak, tidak baik mebicarakan orang yang sudah meninggal. Nanti arwahnya tidak tenang,” ujar Sodikin, salah satu orang kaya di desa, yang sejak tadi diam saja.
            Assalamu’alaikum..” sapa seseorang dari belakang.
            Wa’alaikumsalam…!” jawab kumpulan laki-laki tersebut serentak. Ternyata Pak lurah datang bersama sekretaris desa. Pak lurah sosok yang paling disegani di desa. Laki-laki berperawakan tinggi besar itu terlihat segar diusianya yang mendekati empat puluh tahun.
            “Apakah jenazah Pak Karto sudah diurus?” tanya pak Lurah.
            “Sudah pak, tadi sedang dishalati mungkin sekarang sudah selesai,” jawab sapto sopan.
            “Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu.” Pak Lurah berjalan masuk ke dalam rumah Bu Warsi.
            Keadaan Bu Warsi sudah lebih tenang, tapi tatapannya kosong tanpa cahaya. Disampingnya kedua anaknya duduk bersandar di tangan ibunya. Jika bukan karena anak-anaknya mungkin ia memilih untuk ikut pergi bersama suaminya.
            Assalamu’alaikum…” salam Pak Lurah.
Wa’alaikum salam..” jawab Bu Warsi, disusutnya sisa air mata di pipi.
“Bu Warsi saya ikut berduka atas meninggalnya Pak Karto. Dia adalah warga desa yang baik,” ucap Pak Lurah dengan nada sedih. Beliau memang terkenal sebagai orang yang baik hati, dermawan, dan penolong. Seluruh warga desa menyukainya. Dalam masalah uang beliau tidak pernah perhitungan. Sehingga saat pemilihan ketua desa tahun lalu, beliau langsung diangkat menjadi kepala desa.
“Terima kasih Pak lurah.” Suara bu Warsi terdengar serak.
“Ini ada sedikit dari saya. Semoga bisa meringankan beban Ibu.” Pak Lurah  menyodorkan sebuah amplop putih.
“Apa ini, Pak? Maaf saya tidak bisa menerima.” Bu Warsi tidak enak dengan pemberian Pak Lurah.
“Sudahlah Bu, terima saja. Bukankah Ibu perlu untuk biaya anak-anak. Soal biaya pemakaman Pak Karto semua sudah saya tanggung,” kata Pak Lurah  pelan.
Bu Warsi semakin tidak enak, kemudian dipandangi wajah kedua anaknya yang polos dan lugu. Memang benar Irma dan Ani butuh makan, sementara ayahnya sudah tiada. Tidak ada lagi yang akan memberi mereka uang sekedar untuk membeli permen. Suaminya juga tidak meninggalkan harta apa-apa karena pekerjaannya hanya sebagai buruh tani di sawah orang lain.
            Akhirnya dengan tangan bergetar diterima amplop tersebut. Bu Warsi menangis haru. Alhamdulillah, Allah masih sayang padanya dengan mengirimkan seseorang berhati emas seperti Pak Lurah.
            “Terima kasih, Pak,” ucap Bu Warsi. Pak Lurah mengangguk sambil tersenyum. Kemudian beliau mohon diri untuk memimpin acara pemberangkatan jenazah.
            Sepeninggal Pak Lurah, bu Warsi mengintip uang yang ada di amplop. Subhanallah, banyak sekali lembaran lima puluh ribuan. Dihitungnya dengan gemetar. Dua juta! Dengan uang ini ia jbisa menyekolahkan anaknya dan sebagian untuk biaya hidup sehari-hari.
            “Pak Lurah itu memang sangat baik ya,” bisik Mbok Surti kepada ibunya Sapto, Bu Atik. Mereka bersama Imas  dari tadi menemani Bu Warsi.
“Iya sawahnya saja banyak, tiap panen selalu berhasil. beliau juga usaha jual beli kayu. Jadi soal uang tidak terlalu masalah,” timpal Bu Atik.
“Tapi sayang sudah bertahun-tahun menikah belum memiliki anaknya. Padahal umurnya sudah hampir 40 tahun,” Imas ikutan nimbrung.
“Ya kita doakan saja semoga cepat diberi anak. Oarang sebaik Pak lurah pasti jalannya akan dimudahkan oleh Allah,” ujar Bu Atik.
*****

            Sudah dua tahun berlalu sejak meniggalnya Pak Karto. Bu Warsi yang awalnya merasa berat hidup sendiri tanpa seorang suami kini sudah mampu menghidupi kedua anaknya. Uang pemberian Pak Lurah sebagian digunakan untuk modal usaha warung kelontong. Kebetulan di desa masih jarang warung yang menjual keperluan sehari-hari seperti gula, sabun, sampo, susu dan beras. Dari hasil toko tersebut sebagian ditabung untuk biaya sekolah Irma dan Ani. Irma sekarang duduk di kelas 4 SD sedangkan Ani kelas 2.
Pikiran, tenaga, dan perhatiannya tercurah pada kedua anaknya. Ia ingin agar kedua anaknya kelak menjadi orang yang berhasil. Ia tidak ingin anaknya putus sekolah seperti dirinya dulu. Bahkan kalau perlu anaknya akan disekolahkan di kota seperti Chandra yang kabarnya sekarang sudah menjadi orang sukses di kota. Tidak pernah terbersit untuk mencari pengganti suaminya. Ia tidak ingin perhatiannya kepada anak-anaknya berkurang.
            Dua tahun pula berlalu sejak kematian Pak Karto yang tidak wajar. Lambat laun warga desa mulai melupakan peristiwa yang sempat membuat geger satu desa. Tidak ada yang membicarakannya lagi. Kehidupan desa berjalan wajar seperti biasanya. Tapi tidak dengan seorang laki-laki setengah baya yang tinggal di desa tersebut. Ia sedang sibuk memikirkan sesuatu. Tiga hari lagi adalah malam purnama yang ke-25, berarti saatnya ia harus memberikan tumbal pada Nyi Kenconotirto, ratu pesugihan dari gunung Angguno.
            Bertahun-tahun lalu ia pergi dari desa ini karena tidak tahan dengan kemiskinan yang menjerat hidupnya. Ia bertekad untuk menjadi orang paling kaya di kampungnya. Berbekal keterangan dari seorang temannya yang akrab dengan ilmu ghaib ia pergi ke gunung Angguno untuk menemui Nyi Kenconotirto, jin penunggu gunung tersebut. Setelah perjalanan yang memakan waktu berhari-hari akhirnya ia sampai di gunung Angguno.
             Di sana ia menemui juru kunci gunung dan menyakan bagaimana caranya bertemu dengan Nyi Kenconotirto. Segala persyaratan berat ia sanggupi, setelah memenuhi semua persyaratan akhirnya ia bisa bertemu dengan Nyi Kenconotirto yang bersedia memberi kekayaan asal setiap malam bulan purnaama yang ke-25 diberikan tumbal seorang manusia. Ia menyetujuinya dan setelah itu ia menjadi orang yang  kaya.
            Kemarin malam ia bermimipi bertemu dengan Nyi Kenconotirto dan ia meminta tumbal seorang anak kecil yang masih polos. Ia berpikir siapa kira-kira yang akan dijadikan tumbal kali ini. Lalu tiba-tiba wajah Irma, anaknya Pak Karto yang dulu ia jadikan tumbal, melintas di pikirannya. Iya ya, anak itu cocok dijadikan tumbal seperti bapaknya. Kenapa tidak terpikirkan olehku tadi? Ia tersenyum puas. Satu masalah sudah terpecahkan sekarang tinggal menyiapkan perlengkapannya.
            Tiga hari kemudian. Malam begitu dingin baru pukul sepuluh tapi cuaca sangat dingin menusuk tulang. Irma dan Ani sudah tidur setengah jam lalu. Ditengoknya mereka berdua dikamar tengah tertidur pulas. Bu Warsi membetulkan selimut yang menutupi tubuh anaknya. Duhai, anakku ibu sungguh menyayangimu, Nak. Dikecup lembut dahi anaknya satu persatu kemudian ia pergi ke kamarnya. Kenapa cuaca bisa sedingin ini? Sungguh dingin sekali, pikir Bu Warsi heran sambil merebahkan diri di ranjang. Selimut ditarik sampai menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian ia tertidur.
            Pukul 2 pagi Bu Warsi terbangun, keringat dingin mengaliri tubuhnya. Barusan ia bermimipi buruk. Ia bermimipi Irma dibawa pergi oleh seorang  wanita berwajah bengis. Irma meronta-ronta minta tolong tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu Irma hilang dikegelapan yang pekat.
            Sementara itu di salah satu rumah di desa yang sama, di dalam ruangan berukuran 2 x 3 meter. Seorang laki-laki setengah baya sedang meggumamkan mantra-mantra. Wajahnya merah dengan matanya terpejam. Aroma kemenyan begitu tajam menusuk. Separuh ruangan telah penuh dengan asap. Dia masih terus membacakan mantra sambil mengambil sebuah boneka dari batang padi yang berukuran kecil. Diasapinya di atas kemenyan.
            Malam masih dingin, bulu kuduk Bu Warsi berdiri. Tiba-tiba ia teringat kejadian dua tahun lalu. Malam ini sama dengan malam ketika suaminya meninggal. Wajahnya pucat, dadanya berdebar-debar. Ia bangun dan bergegas kekamar anaknya. Irma menggeliat diatas tempat tidur, keringat membanjiri tubuhnya.
            “Irma, Irma bangun, Nak,” Bu Warsi mengguncang-guncangkan tubuh Irma. Irma bangun tangannya menguasap wajahnya yang penuh dengan keringat.
            “Bu panas sekali. Irma kepanasan,” ucap Irma. Bu Warsi semakin ketakutan, ini persis seperti yang dialami suaminya.
            “Sekarang Irma bangun dan ambil air wudhu, kita sholat bareng biar panasnya hilang.” Ia tidak tahu kenapa menyuruh Irma untuk berwudhu. Tapi Bu Warsi yakin ini adalah cara yang benar. Irma menurut, ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk wudhu, Bu Warsi menyusul.
            Ketika memakai mukena hendak shalat Irma masih terus mengeluh kepanasan. Bu Warsi tetap memaksanya memakai mukena. Lalu mereka membentuk posisi shalat berjamaah.
            Di tempat lain, seorang laki-laki tubuhnya bergetar hebat. Tangannya memegang boneka yang diasapi diatas kemenyan, lalu sebuah keris kecil diambil dan ditusukkan ke perut boneka. Bersamaan dengan itu Irma sedang mengangkat kedua tangannya membaca takbir. Allahu Akbar!
            Seketika itu boneka tadi terbakar dan laki-laki itu terlempar kebelakang. Darah segar keluar dari mulutnya. Napasnya terengah-engah. Dia merangkak mendekati tempat kemenyan yang masih berasap, tiba-tiba tempat kemenyan itu meledak. Begitu kuatnya ledakan sehingga tubuh laki-laki itu terlempar ke atas menjebol atap rumah dan terlempar ke kebun singkong di samping rumah. Darah keluar tidak hanya dari mulut tapi juga dari hidung dan matanya. Lalu laki-laki itu diam tak bergerak. Matanya tebelalak, mulutnya terbuka.
            Paginya, warga kembali gempar. Mereka berbonding-bondong pergi ke kebun singkong samping rumah laki-laki yang sekarang sudah terbujur kaku.
            “Apa yang terjadi? Kenapa Pak Lurah bisa meninggal seperti ini?” tanya warga.


Note: Ini adalah cerpen lama. Saya menulisany saat masih menjadi anggota FLP Batamindo sekitar tahun 2008. Waktu itu cerpen ini akan dijadikan sebuah antologi bersama cerpen-cerpen anggota FLP yang lain, tapi karena masalah teknis sampai sekarang antologi itu tidak jadi-jadi.Selamat Menikmati ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar