Ruangan itu tidak terlalu
besar, berukuran 2 x 3 meter. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu bohlam
berukuran 5 Watt. Bersinar redup kekuning-kuningan. Asap kemenyan memenuhi
ruangan, membuat sesak. Mengepul tanpa henti dari tembikar kecil yang di
dalamnya berisi kemenyan yang dibakar. Di sekelilingnya berbagai macam benda
aneh ditata teratur. Bunga tujuh rupa, darah ayam hitam, keris kecil, empedu
ular, segelas kopi hitam, beras ketan dan boneka yang terbuat dari batang padi
mirip boneka voodoo.
Seorang laki-laki separuh baya, duduk di depan
benda-benda tadi. Tangannya bergerak di antara asap kemenyan yang membumbung
tinggi. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit menggumamkan kalimat-kalimat
aneh. Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya. Tubuhnya bergetar,
awalnya pelan tapi semakin lama semakin keras. Mulutnya tambah gencar
melafalakan kalimat-kalimat yang tak jelas berbunyi apa.
Ruangan semakin penuh dengan asap
hingga tak menyisakan ruang untuk udara segar. Mata sang laki-laki terbuka,
Tangannya. kemudian meraih boneka batang padi. Diasapinya sebentar di atas
kemenyan, lalu boneka itu diangkat dengan kedua tangannya hati-hati. Seperti
mengangkat bayi yang sedang tertidur. Dihadapkan lurus didepan wajahnya.
Pandangan matanya tajam, menusuk. Ada pancaran kebencian dan kepuasan
sekaligus.
Tangan kanannya meraih keris yang
berada di samping bunga tujuh rupa. Dengan gerakan pelan keris itu menghujam ke
perut boneka. Seketika itu dari dalam perut boneka keluar darah. Keris semakin
ditekan ke dalam dan darahpun semakin banyak. Lalu keris dicabut, boneka
diletakkan di atas cawan. Darah memancar keluar seperti air mancur selama
beberapa detik, kemudian berhenti dan hilang sama sekali, seolah tidak pernah ada
darah disana…
*****
“Astagfirullah…
Bapak!!!!!” Suara seorang wanita memecah kesunyian di malam buta. Anak-anaknya
yang sedang tertidur, bangun ketakutan. Suara jeritan wanita tadi berubah
menjadi tangisan yang menyayat hati. Anak-anaknya semakin ketakutan.
“Ibu…!” Sontak kedua bocah perempuan
yang masih berumur 8 dan 6 tahun itu berlari ke kamar ibunya.
Ibunya duduk bersimpuh di samping ayah mereka
yang terbaring di atas kasur berlumuran darah. Tangan ibunya
mengguncang-guncang tubuh ayah yang tak bergerak. Si bungsu ikut menangis, sang
kakak yang entah mendapat dorongan dari mana memeluk adiknya. Ia juga menangis.
Tangisan mereka bertiga membangunkan tetangga di sekitar rumah.
“Bu, Bu
Warsi, buka pintunya! Ada apa, Bu?” Pintu depan diketuk orang. Tak ada jawaban.
Beberapa laki-laki datang berkerumun di depan rumah. Pintu rumah kembali
diketuk, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban, hanya terdengar
tangisan ibu dan anak dari dalam. Warga akhirnya nekat dan mendobrak pintu
rumah.
Warga yang berhasil masuk langsung
menuju kamar Bu Warsi. Mereka semua terkejut melihat pemandangan yang ada di
depan mereka.
“Astagfirullahal
‘adzim…”
“Innalillahi
wa innalillahi roji’uun…”
*****
Rumah Bu Warsi berselimut duka. Di
depan pintu pagar sebuah bendera putih terpasang. Para tetangga berdatangan
untuk melayat. Sebagian duduk di depan menunggu jenazah diberangkatkan.
Beberapa orang laki-laki sedang memandikan jenazah, beberapa lagi menyiapkan
proses penguburan. Bu Warsi terduduk lemas di kamarnya ditemani tiga orang
tetangga wanita. Mereka berusaha menghibur Bu Warsi yang terpukul sekali dengan
kepergian suaminya. Padahal baru kemarin sore mereka makan bersama kedua
anaknya. Tapi takdir Allah begitu cepat dan tak disangka-sangka.
Tadi malam suaminya tiba-tiba
membangunkannya minta dikipasi. Gerah, katanya. Bu warsi heran, padahal cuaca
malam ini begitu dingin sampai-sampai membuat bulu kuduk berdiri.
“Dingin-dingin begini kok
gerah to, Pak?” BuWarsi mengusap wajahnya menghilangkan kantuk.
“Panas sekali, Bu.
Sungguh. Bapak seperti sedang dipanggang.” Suaminya berkata sambil mengusap
peluh yang bercucuran di wajah dan lehernya. Bu Warsi mengambil handuk kecil,
menyeka keringat suaminya, lalu dikipasainya sebentar.
“Bu,
Bapak haus, tolong ambilkan minum.” Bu Warsi berjalan ke dapur mengambil
segelas air putih. Belum sempat kakinya menginjak dapur, tiba-tiba suaminya
berteriak. Bergegas Bu Warsi kembali ke kamarnya. Betapa terkejutnya ia, saat
ia melihat suaminya terkapar dengan darah memancar keluar dari perutnya. Sempat
dilihatnya suminya seperti hendak mengatakan sesuatu namun sebelum ia bisa
berkata matanya telah tertutup. Sejak saat itu suaminya diam, tak lagi
bergerak.
Bu Warsi pingsan. Ibu-ibu yang
menemaninya panik. Tubuh Bu Warsi dibaringkan di atas dipan kayu. Wajahnya
dikipasi dan hidungnya diolesi minyak angin.
“Nyebut, War! Ingat sama Gusti
Allah.”
“Tabahkan hatimu, War. Ikhlaskan
kepergian suamimu.”
Bu Warsi siuman. Tangisnya kembali
pecah. Sekarang siapa yang akan menghidupi keluarga? Siapa yang akan memberi
makan kedua anaknya? Siapa lagi yang akan menemaninya saat susah dan senang?
Jenazah telah selesai dimandikan.
Kemudian dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan di ruang tamu untuk
dishalati. Pelayat semakin ramai berdatangan. Di antara mereka banyak yang
berbisik-bisik tentang kematian Pak Karto, suami Bu Warsi yang tidak wajar. Ada
yang menduga diganggu setan, dibunuh oleh makhluk jadi-jadian, korban santet
atau teluh, bahkan ada yang berpendapat ulah dari para leluhur desa yang lama
tidak diberi sesajen.
Dahulu di desa setiap tahun diadakan
upacara bersih desa, yaitu dengan memberikan sesaji pada para leluhur yang
konon bersemayam di pohon beringin belakang balai desa. Namun, lambat laun
kebiasaan itu mulai ditinggalkan. Para warga yang lebih paham tentang agama
mengetahui bahwa itu termasuk syirik. Awalnya peniadaan upacara bersih desa
mendapat reaksi keras dari tetua desa. Mereka mengatakan leluhur akan marah dan
desa bisa tertimpa musibah yang besar. Tapi dengan pengertian dari para pemuda
yang kebanyakan jebolan pondok pesantren, akhirnya tetua desa menyetujui meski
dengan berat hati.
“Apa dulu saya bilang, leluhur kita
pasti akan marah karena tidak ada lagi ritual bersih desa. Inilah puncak
kemarahan mereka, sehingga nyawa salah satu warga kita dijadikan tumbal.” Mbah
Trimo, salah satu tetua desa berkomentar pada sekumpulan laki-laki yang duduk
di bawah pohon mangga depan rumah Bu Warsi.
“Memang sudah kehendak Allah Pak
Karto meninggal, Mbah.” Ujar salah seorang pemuda desa yang berusia 20-an,
Sapto.
“Ah,
kamu itu tahu apa? Dulu desa kita aman-aman saja. Tidak ada kejadian aneh
seperti ini. Panen juga setiap tahun berhasil. Sekarang coba lihat! Panen
kemarin banyak yang gagal karena hama wereng. Hujan yang setiap tahun datang
tepat waktu, sekarang jadi seenaknya sendiri, tidak bisa dikira-kira. Keadaan
desa ini semakin kacau saja,” bela Mbah Trimo.
“Kalau masalah hama mungkun karena
padi kita bukan termasuk jenis padi yang tahan hama. Jadi gampang terserang.
Lagipula selama ini para petani kita jarang menggunakan insektisida. Kalau
hujan yang tidak teratur, bisa jadi karena keadaan alam yang sudah semakin
rusak. Kata orang-orang global warming
atau pemanasan global, Mbah.” Chandra, satu-satunya pemuda yang
melanjutkan pendidikan ke universitas di
kota mencoba memberi penjelasan.
“Kamu juga ikut-ikutan. inikah yang
kamu dapat dari sekolahmu di kota itu? Menggurui orang tua?” Mbah Trimo tampak
tidak senang.
“Maaf , Mbah bukan maksud saya…”
Perkataan Chandra terhenti.
“Tapi, menurut saya Pak Karto itu
terkena santet,” Pak Banu tiba-tiba angkat bicara.
“Terkena santet bagaimana?” tanya
Sapto keheranan.
“Iya terkena santet, dulu di kampung
istri saya pernah ada orang meninggal dengan aneh. Dari kuping, telinga, dan
mulutnya keluar darah disertai pecahan kaca. Satu kampung geger. Setelah diusut
ternyata itu salah satu perbuatan tetangganya yang dendam karena pernah
dihina,” jawab Pak Banu.
Sapto manggut-manggut. “Memang
kematian Pak Karto aneh sekali. Tadi kebetulan saya bertemu ibu yang dari tadi
malam menemani Bu Warsi. Saat saya tanya bagaimana Pak Karto meninggal katanya
malam-malam Pak Karto bangun mengeluh kepanasan. Waktu Bu Warsi pergi untuk
mengambil air minum, Pak Karto berteriak dan dari perutnya keluar banyak darah
yang tidak bisa berhenti. Seperti air mancur.”
“Nah, benar dugaan saya, Pak Karto
pasti disantet orang,” imbuh Pak Banu bersemangat, mendapat dukungan.
“Sudahlah Pak, tidak baik
mebicarakan orang yang sudah meninggal. Nanti arwahnya tidak tenang,” ujar
Sodikin, salah satu orang kaya di desa, yang sejak tadi diam saja.
“Assalamu’alaikum..”
sapa seseorang dari belakang.
“Wa’alaikumsalam…!”
jawab kumpulan laki-laki tersebut serentak. Ternyata Pak lurah datang bersama
sekretaris desa. Pak lurah sosok yang paling disegani di desa. Laki-laki
berperawakan tinggi besar itu terlihat segar diusianya yang mendekati empat
puluh tahun.
“Apakah jenazah Pak Karto sudah
diurus?” tanya pak Lurah.
“Sudah pak, tadi sedang dishalati
mungkin sekarang sudah selesai,” jawab sapto sopan.
“Kalau begitu saya masuk ke dalam
dulu.” Pak Lurah berjalan masuk ke dalam rumah Bu Warsi.
Keadaan Bu Warsi sudah lebih tenang,
tapi tatapannya kosong tanpa cahaya. Disampingnya kedua anaknya duduk bersandar
di tangan ibunya. Jika bukan karena anak-anaknya mungkin ia memilih untuk ikut
pergi bersama suaminya.
“Assalamu’alaikum…”
salam Pak Lurah.
“Wa’alaikum salam..”
jawab Bu Warsi, disusutnya sisa air mata di pipi.
“Bu Warsi saya ikut berduka atas meninggalnya Pak Karto.
Dia adalah warga desa yang baik,” ucap Pak Lurah dengan nada sedih. Beliau
memang terkenal sebagai orang yang baik hati, dermawan, dan penolong. Seluruh
warga desa menyukainya. Dalam masalah uang beliau tidak pernah perhitungan.
Sehingga saat pemilihan ketua desa tahun lalu, beliau langsung diangkat menjadi
kepala desa.
“Terima kasih Pak lurah.” Suara bu Warsi terdengar serak.
“Ini ada sedikit dari saya. Semoga bisa meringankan beban
Ibu.” Pak Lurah menyodorkan sebuah
amplop putih.
“Apa ini, Pak? Maaf saya tidak bisa menerima.” Bu Warsi
tidak enak dengan pemberian Pak Lurah.
“Sudahlah Bu, terima saja. Bukankah Ibu perlu untuk biaya
anak-anak. Soal biaya pemakaman Pak Karto semua sudah saya tanggung,” kata Pak
Lurah pelan.
Bu Warsi semakin tidak enak, kemudian dipandangi wajah
kedua anaknya yang polos dan lugu. Memang benar Irma dan Ani butuh makan,
sementara ayahnya sudah tiada. Tidak ada lagi yang akan memberi mereka uang
sekedar untuk membeli permen. Suaminya juga tidak meninggalkan harta apa-apa
karena pekerjaannya hanya sebagai buruh tani di sawah orang lain.
Akhirnya dengan tangan bergetar
diterima amplop tersebut. Bu Warsi menangis haru. Alhamdulillah, Allah masih sayang padanya dengan mengirimkan
seseorang berhati emas seperti Pak Lurah.
“Terima
kasih, Pak,” ucap Bu Warsi. Pak Lurah mengangguk
sambil tersenyum. Kemudian beliau mohon diri untuk memimpin acara pemberangkatan
jenazah.
Sepeninggal Pak Lurah,
bu Warsi mengintip uang yang ada di amplop. Subhanallah,
banyak sekali lembaran lima puluh ribuan. Dihitungnya dengan gemetar. Dua juta!
Dengan uang ini ia jbisa menyekolahkan anaknya dan sebagian untuk biaya hidup
sehari-hari.
“Pak Lurah itu memang
sangat baik ya,” bisik Mbok Surti kepada ibunya Sapto, Bu Atik. Mereka bersama
Imas dari tadi menemani Bu Warsi.
“Iya sawahnya saja banyak, tiap panen selalu
berhasil. beliau juga usaha jual beli kayu. Jadi soal uang tidak terlalu
masalah,” timpal Bu Atik.
“Tapi sayang sudah bertahun-tahun menikah belum
memiliki anaknya. Padahal umurnya sudah hampir 40 tahun,” Imas ikutan nimbrung.
“Ya kita doakan saja semoga cepat diberi anak. Oarang
sebaik Pak lurah pasti jalannya akan dimudahkan oleh Allah,” ujar Bu Atik.
*****
Sudah dua tahun
berlalu sejak meniggalnya Pak Karto. Bu Warsi yang awalnya merasa berat hidup
sendiri tanpa seorang suami kini sudah mampu menghidupi kedua anaknya. Uang
pemberian Pak Lurah sebagian digunakan untuk modal usaha warung kelontong.
Kebetulan di desa masih jarang warung yang menjual keperluan sehari-hari
seperti gula, sabun, sampo, susu dan beras. Dari hasil toko tersebut sebagian
ditabung untuk biaya sekolah Irma dan Ani. Irma sekarang duduk di kelas 4 SD
sedangkan Ani kelas 2.
Pikiran,
tenaga, dan perhatiannya tercurah pada kedua anaknya. Ia ingin agar kedua
anaknya kelak menjadi orang yang berhasil. Ia tidak ingin anaknya putus sekolah
seperti dirinya dulu. Bahkan kalau perlu anaknya akan disekolahkan di kota
seperti Chandra yang kabarnya sekarang sudah menjadi orang sukses di kota.
Tidak pernah terbersit untuk mencari pengganti suaminya. Ia tidak ingin
perhatiannya kepada anak-anaknya berkurang.
Dua tahun pula berlalu sejak
kematian Pak Karto yang tidak wajar. Lambat laun warga desa mulai melupakan
peristiwa yang sempat membuat geger satu desa. Tidak ada yang membicarakannya
lagi. Kehidupan desa berjalan wajar seperti biasanya. Tapi tidak dengan seorang
laki-laki setengah baya yang tinggal di desa tersebut. Ia sedang sibuk
memikirkan sesuatu. Tiga hari lagi adalah malam purnama yang ke-25, berarti
saatnya ia harus memberikan tumbal pada Nyi Kenconotirto, ratu pesugihan dari
gunung Angguno.
Bertahun-tahun
lalu ia pergi dari desa ini karena tidak tahan dengan kemiskinan yang menjerat
hidupnya. Ia bertekad untuk menjadi orang paling kaya di kampungnya. Berbekal
keterangan dari seorang temannya yang akrab dengan ilmu ghaib ia pergi ke
gunung Angguno untuk menemui Nyi Kenconotirto, jin penunggu gunung tersebut.
Setelah perjalanan yang memakan waktu berhari-hari akhirnya ia sampai di gunung
Angguno.
Di sana ia menemui juru kunci gunung dan
menyakan bagaimana caranya bertemu dengan Nyi Kenconotirto. Segala persyaratan
berat ia sanggupi, setelah memenuhi semua persyaratan akhirnya ia bisa bertemu
dengan Nyi Kenconotirto yang bersedia memberi kekayaan asal setiap malam bulan
purnaama yang ke-25 diberikan tumbal seorang manusia. Ia menyetujuinya dan
setelah itu ia menjadi orang yang kaya.
Kemarin malam ia
bermimipi bertemu dengan Nyi Kenconotirto dan ia meminta tumbal seorang anak
kecil yang masih polos. Ia berpikir siapa kira-kira yang akan dijadikan tumbal
kali ini. Lalu tiba-tiba wajah Irma, anaknya Pak Karto yang dulu ia jadikan
tumbal, melintas di pikirannya. Iya ya, anak itu cocok dijadikan tumbal seperti
bapaknya. Kenapa tidak terpikirkan olehku tadi? Ia tersenyum puas. Satu masalah
sudah terpecahkan sekarang tinggal menyiapkan perlengkapannya.
Tiga hari kemudian.
Malam begitu dingin baru pukul sepuluh tapi cuaca sangat dingin menusuk tulang.
Irma dan Ani sudah tidur setengah jam lalu. Ditengoknya mereka berdua dikamar
tengah tertidur pulas. Bu Warsi membetulkan selimut yang menutupi tubuh
anaknya. Duhai, anakku ibu sungguh menyayangimu, Nak. Dikecup lembut dahi
anaknya satu persatu kemudian ia pergi ke kamarnya. Kenapa cuaca bisa sedingin
ini? Sungguh dingin sekali, pikir Bu Warsi heran sambil merebahkan diri di
ranjang. Selimut ditarik sampai menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian ia
tertidur.
Pukul 2 pagi Bu Warsi
terbangun, keringat dingin mengaliri tubuhnya. Barusan ia bermimipi buruk. Ia
bermimipi Irma dibawa pergi oleh seorang
wanita berwajah bengis. Irma meronta-ronta minta
tolong tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu Irma hilang dikegelapan yang
pekat.
Sementara itu di salah satu rumah di
desa yang sama, di dalam ruangan berukuran 2 x 3 meter. Seorang laki-laki
setengah baya sedang meggumamkan mantra-mantra. Wajahnya merah dengan matanya
terpejam. Aroma kemenyan begitu tajam menusuk. Separuh ruangan telah penuh
dengan asap. Dia masih terus membacakan mantra sambil mengambil sebuah boneka
dari batang padi yang berukuran kecil. Diasapinya di atas kemenyan.
Malam masih dingin, bulu kuduk Bu
Warsi berdiri. Tiba-tiba ia teringat kejadian dua tahun lalu. Malam ini sama
dengan malam ketika suaminya meninggal. Wajahnya pucat, dadanya berdebar-debar.
Ia bangun dan bergegas kekamar anaknya. Irma menggeliat diatas tempat tidur,
keringat membanjiri tubuhnya.
“Irma, Irma bangun, Nak,” Bu Warsi mengguncang-guncangkan
tubuh Irma. Irma bangun tangannya menguasap wajahnya yang penuh dengan
keringat.
“Bu
panas sekali. Irma kepanasan,” ucap Irma. Bu Warsi semakin ketakutan, ini
persis seperti yang dialami suaminya.
“Sekarang Irma bangun dan ambil air
wudhu, kita sholat bareng biar panasnya hilang.” Ia tidak tahu kenapa menyuruh
Irma untuk berwudhu. Tapi Bu Warsi yakin ini adalah cara yang benar. Irma
menurut, ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk wudhu, Bu Warsi menyusul.
Ketika memakai mukena hendak shalat
Irma masih terus mengeluh kepanasan. Bu Warsi tetap memaksanya memakai mukena.
Lalu mereka membentuk posisi shalat berjamaah.
Di tempat lain, seorang laki-laki
tubuhnya bergetar hebat. Tangannya memegang boneka yang diasapi diatas
kemenyan, lalu sebuah keris kecil diambil dan ditusukkan ke perut boneka. Bersamaan dengan itu Irma sedang mengangkat kedua tangannya membaca takbir.
Allahu Akbar!
Seketika itu boneka tadi terbakar
dan laki-laki itu terlempar kebelakang. Darah segar keluar dari mulutnya.
Napasnya terengah-engah. Dia merangkak mendekati tempat kemenyan yang masih
berasap, tiba-tiba tempat kemenyan itu meledak. Begitu kuatnya ledakan sehingga
tubuh laki-laki itu terlempar ke atas menjebol atap rumah dan terlempar ke
kebun singkong di samping rumah. Darah keluar tidak hanya dari mulut tapi juga
dari hidung dan matanya. Lalu laki-laki itu diam tak bergerak. Matanya
tebelalak, mulutnya terbuka.
Paginya, warga kembali gempar.
Mereka berbonding-bondong pergi ke kebun singkong samping rumah laki-laki yang
sekarang sudah terbujur kaku.
“Apa yang terjadi? Kenapa Pak Lurah
bisa meninggal seperti ini?” tanya warga.
Note: Ini adalah cerpen lama. Saya menulisany saat masih menjadi anggota FLP Batamindo sekitar tahun 2008. Waktu itu cerpen ini akan dijadikan sebuah antologi bersama cerpen-cerpen anggota FLP yang lain, tapi karena masalah teknis sampai sekarang antologi itu tidak jadi-jadi.Selamat Menikmati ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar